Ingin Anak Anda Melakukan Sesuatu? Lakukanlah Terlebih Dahulu Hal Itu!

Tidak bisa dipungkiri, sebagai orang tua kita selalu ingin anak kita menjadi baik dalam segala hal. Menjadi rajin, menjadi pintar, menjadi suka menolong. Tetapi kita lupa, untuk melihat diri kita sendiri, sudah menjadi seperti itukah kita?

1,801 views   |   2 shares
  • Ada pepatah dalam bahasa Indonesia yang berbunyi , “Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya." yang artinya bahwa sifat, kelakukan, dan tingkah laku anak biasanya tidak jauh dari sifat, kelakukan dan tingkah laku orang tuanya. Lalu ada juga pepatah lain yang berbunyi “Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.” Yang artinya sifat anak-anak dipercaya menurun dari sifat orang tuanya. Benarkah sifat-sifat anak diturunkan dari orang tuanya? Bisa juga. Tapi bisa juga tidak. Atau dengan kata lain tidak diturunkan, tetapi dikembangkan karena melihat kebiasaan orang tuanya. Suatu hari saya bertandang ke sebuah keluarga, dan kebetulan si ibu sedang membereskan mainan anaknya sambil mengeluh bahwa anaknya susah diajarkan untuk membereskan mainannya dan diujung keluhannya si ibu ini berkata bahwa itu persis dengan sifat ayah si anak yang suka tidak mengembalikan barang pada tempatnya. Lalu dalam pikiran saya muncul suatu pemikiran, mungkin kebiasaan buruk si anak yang kemudian disebut sifat oleh si ibu bukan diturunkan dari ayahnya, tetapi terbentuk karena melihat kebiasaan ayahnya. Mungkin si anak malas membereskan mainannya karena dia melihat bagaimana ayahnya tidak pernah membawa ke dapur apalagi mencuci cangkir bekas dia minum kopi misalnya. Atau mungkin dia melihat bagaimana si ayah tidak pernah membereskan piring setelah selesai makan. Atau dia melihat, seperti yang dikatakan ibunya, bahwa ayahnya tidak pernah mengembalikan barang pada tempatnya.

  • Tidak bisa dipungkiri, sebagai orang tua kita selalu ingin anak kita menjadi baik dalam segala hal. Menjadi rajin, menjadi pintar, menjadi suka menolong, dan lain sebagainya. Tetapi kita lupa, untuk melihat diri kita sendiri, sudah menjadi seperti itukah kita? Saya sangat tidak setuju dengan orang tua yang berdalih bahwa dia boleh saja tidak baik, tetapi anaknya harus menjadi anak yang baik. Itu ,menurut saya, adalah alasan yang tidak masuk akal hanya karena si orang tua itu tidak mau atau terlalu malas untuk mengubah kebiasaan buruknya. Adalah aneh bagi saya ketika seorang ibu mengomel pada anaknya karena si anak terlalu banyak mengahabiskan waktu dengan main game di ipadnya daripada belajar, sedangkan pada saat yang sama, si ibu mengomelnya sambil asyik menekuni laptopnya. Oh, saya tahu, mungkin si ibu tidak main game di laptop, mungkin dia bekerja, atau mungkin dia sedang mencari hal yang menurut dia penting, tetapi percayalah, pemikiran itu tidak tertangkap oleh si anak. Yang akan dia simpan di otaknya adalah, “Ibu menyuruh saya berhenti main ipad, tetapi dia sendiri tetap main laptop”. Dan hasilnya? Si ibu akan sering mengomel tanpa membuahkan hasil karena omelan itu hanya sekedar lewat tanpa dipedulikan oleh si Anak. Sungguh membuang waktu dan tenaga. Kejadian paling ironis yang pernah saya temui adalah ketika seorang orang tua membentak anaknya untuk bersikap sopan pada orang lain, dan pada saat yang sama, dia bergosip tentang keburukan orang lain di depan si anak. Kita menyekolahkan anak kita di sekolah terbaik agar dia menjadi pintar, dan pada saat yang tidak kita sadari kita menganggapnya terlalu bodoh sehingga menurut kita tidak mungkin dia mengamati dan meniru mencontoh tindakan kita.

  • Advertisement
  • Pernah mendengar kutipan, “Tindakan Berbicara lebih Keras daripada Kata-kata”? Saya percaya itu. Teladan adalah “kata-kata” terbaik untuk memberi pengertian kepada anak-anak kita. Itu akan lebih masuk dan mengendap lebih lama di otak si anak. Banyak perkataan ayah saya yang tidak terlalu saya ingat, tetapi saya masih ingat dengan jelas kebiasaan ayah saya untuk membagi rata setiap makanan yang kami punya. Dan pelajaran tentang berbagi dengan saudara-saudara saya itu melekat di kepala saya sampai sekarang. Jadi jika ingin anak Anda berhenti main Ipad dan belajar, maka akan lebih baik jika Anda juga mematikan laptop anda, dan duduklah bersama anak Anda dan membantunya belajar. Jika ingin anak Anda menghormati orang lain, maka mulailah untuk berhenti bergosip dan mencari-cari keburukan tetangga anda. Jika ingin anak Anda membereskan mainannya, maka mulailah dari diri Anda untuk membereskan piring Anda setelah Anda makan misalnya. Jika ingin anak Anda berhenti untuk selalu merengek meminta mainan yang mahal, mungkin Anda juga harus mengurangi kebiasaan untuk berbelanja barang-barang yang Anda inginkan yang sebenarnya tidak terlalu Anda butuhkan. Jika ingin Anda terbiasa berbagi, maka Anda pun harus mulai membiasakan diri untuk berbagi. Saya pernah mendengar perkataan “Anak itu Cerminan Orang Tuanya”. Jadi, jika anak Anda mengatakan malas, suka membantah, boros, dan sebagainya, mungkin Anda harus mencermati lagi figur yang “dicerminankan” yaitu diri Anda sendiri.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

It is my sincere desire and hope that my writing will positively influence readers, and help them be better and happier.

Ingin Anak Anda Melakukan Sesuatu? Lakukanlah Terlebih Dahulu Hal Itu!

Tidak bisa dipungkiri, sebagai orang tua kita selalu ingin anak kita menjadi baik dalam segala hal. Menjadi rajin, menjadi pintar, menjadi suka menolong. Tetapi kita lupa, untuk melihat diri kita sendiri, sudah menjadi seperti itukah kita?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr