Pernikahan Bahagia Bukan Berarti Tanpa Perbedaan

Pernikahan yang berhasil bukanlah sebuah keberuntungan semata, bukan pula berarti absennya perbedaan dan masalah. Itu adalah sebuah proses yang membutuhkan pembelajaran, penyesuaian dan kerja sama secara berkesinambungan.

6,060 views   |   14 shares
  • Setiap orang pasti menginginkan untuk memiliki hubungan pernikahan yang bahagia dan berhasill. Tetapi jika tidak hati-hati kita kita terjebak dalam pemikiran bahwa hubungan yang bahagia itu adalah hubungan yang penuh kesamaan, tanpa perbedaan. Yang kemudian tanpa kita sadari, pemikiran itu mengarahkan kita, yang untuk berusaha sedemikian rupa membuat pasangan kita menjadi seperti kita, atau sebaliknya. Kita lupa, bahwa setiap dari kita diciptakan dengan penuh kasih oleh Tuhan, sebagai pribadi yang memiliki keunikan sendiri-sendiri. Dan alih-alih menghasilkan pernikahan yang bahagia, memaksakan untuk menjadi sama, justru akan mengarah pada hubungan yang tidak sehat. Karena itu akan menciptakan dominasi dari satu pihak, yaitu pihak yang berkepribadian lebih kuat.

  • Jika kita melihat pasangan lanjut usia yang sudah menikah puluhan tahun dan tetap bahagia, banyak dari kita akan cenderung berpikir bahwa mereka pastilah memiliki banyak kesamaan sifat, karakter, hobi, dan selera . Kita cenderung lupa atau tidak mau melihat kenyataannya, bahwa pasangan tersebut tidak menyamakan diri mereka satu sama lain. Mereka menyelaraskan, bekerja bersama untuk menyatukan apa yang berbeda diantara mereka hingga mereka bisa seiring sejalan, yang semua itu tidak dalam proses yang instan atau terjadi begitu saja. Banyak dari pasangan lanjut usia, yang pernikahannya masih langgeng, yang pernah saya temui, memiliki sifat dan karakter yang jauh berbeda satu sama lain. Dan apa yang mereka capai bukanlah karena mereka berusaha mengubah pasangannya untuk menjadi seperti yang mereka mau. Mendapatkan orang yang tepat sebagai pasangan kita bukanlah berarti mendapatkan yang sama seperti kita. Namun, pasangan yang tepat adalah mereka yang bersedia untuk bekerja bersama dengan kita dengan berbagai cara, untuk membangun bersama pernikahan yang bahagia.

  • Tetapi jangan juga kemudian berpikir bahwa tidak dibutuhkan perubahan sama sekali dalam pernikahan, karena kita harus bisa saling menerima perbedaan masing-masing. Meskipun tidak berusaha menjadi seperti pasanagn kita, diperlukan banyak penyesuaian yang terkadang membutuhkan perubahan. Sejauh perubahan yang dibutuhkan itu baik bagi hubungan kita, maka hal itu sebaiknya dilakukan. Kita harus menyadari hal-hal dalam diri kita yang membuat pasangan kita tidak nyaman dan berusaha untuk memperbaikinya. Begitu juga sebaliknya, jika ada hal –hal dari pasangan kita yang membuat kita tidak nyaman,maka bicarakanlah. Yang perlu diingat ketika kita membuat penyesuaian dalam pernikahan adalah bukan tentang siapa yang lebih baik atau lebih benar, tetapi apa yang paling baik untuk diterapkan bagi pernikahan kita. Kata 'siapa' akan mengarah pada subyek, dan menghasilkan pertarungan ego, sedang kata 'apa' akan lebih mengarah ke solusi. Jika memang bisa menghasilkan solusi yang lebih baik dan membuat pernikahan kita lebih kuat, lebih bahagia, maka tidaklah menjadi masalah siapa yang perlu berubah, atau pendapat siapa yang perlu diikuti.

  • Advertisement
  • Sebagai contoh, sebuah pasangan, sebutlah si A dan si B, mereka memiliki karakter yang berbeda. Si A cenderung pendiam, tidak banyak berbicara dalam menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya. Sebaliknya si B adalah karakter yang lebih terbuka, dan suka berbicara. Akan sangat tidak adil bagi si A, jika dia dipaksa untuk menjadi seperti si B, sebaliknya akan sangat menyiksa untuk si B, jika dia harus menjadi pendiam dan tertutup seperti si A. Jika berusaha untuk berubah atau saling mengubah menjadi pribadi yang sama, alih-alih menjadi bahagia, pasangan ini justru akan mengalami tekanan yang mengarah pada rasa frustasi dan kemarahan. Jika dilanjutkan salah satu pihak akan mulai kehilangan kepribadiannya, dan hal itu tidaklah sehat. Tapi akan berbeda ceritanya, jika saja pasangan ini alih-alih mengubah satu sama lain, mereka berusaha menyesuaikan. Si A tidak perlu menjadi seperti si B, hanya saja dia perlu untuk lebih banyak bicara, dan belajar untuk sedikit membuka diri. Begitu pula Si B bisa berusaha untuk sedikit mengerti kapan dia harus menahan diri dan belajar untuk mendengarkan, bukan menjadi pendiam total seperti si A. Dengan kata lain, Si A menaikan sedikit kadar berbicaranya, dan si B menurunkan sedikit kadar berbicaranya, maka keduanya akan bertemu di tengah, hingga kemudian akan tercapai keserasian, dan tidak ada pihak yang mendominasi dan didominasi.

  • Inti dari semua ini sebenarnya adalah sederhana, yaitu komunikasi yang didasari cinta dan rasa saling menghargai antar pasangan yang menuntun pada kerendahan hati untuk mau menyesuaikan diri dan berubah menjadi lebih baik demi keberhasilan dan kebahagiaan dalam pernikahan. Juga kesadaran bahwa pasangan kita adalah pribadi yang unik seperti juga kita dan alih-alih memaksa dia menjadi seperti kita, membantunya untuk berkembang menjadi yang terbaik dengan segala kualitas dan keunikan yang ada pada dirinya, justru akan membuat pernikahan kita lebih bahagia.

  • Dan ya, tidak dipungkiri, terkadang dibutuhkan pengorbanan untuk mencapai keselarasan tersebut. Terutama pengorbanan ego. Saya selalu berpikir, bahwa menikah selain berarti dua menjadi satu, juga bisa berarti satu menjadi dua, bahkan lebih ketika sudah ada anak dalam pernikahan tersebut. Ketika kita masih lajang, waktu kita, hidup kita tindakan kita serta semua keputusan adalah milik kita. tetapi ketika kita menikah, waktu kita tidak hanya berputar pada diri kita. kita membaginya dengan pasangan kita, serta anak-anak kita. Hidup kita juga bukan lagi hanya tentang kita semata. Ketika kita akan melakukan suatu tindakan, kita tidak bisa lagi hanya berpikir dampak dan apa yang dihasilkan dari tindakan itu terhadap diri kita. Kita harus mulai berpikir, bagaimana tindakan kita akan mempengaruhi pasangan dan anak-anak kita. Begitu juga setiap keputusan dalam hidup kita, yang mungkin dulu ketika lajang, sepenuhnya terserah pada diri kita. ketka menikah, kita bukan lagi pembuat keputusan tunggal.

  • Advertisement
  • Pernikahan yang berhasil bukanlah sebuah keberuntungan semata, bukan pula berarti absennya perbedaan dan masalah. Itu adalah sebuah proses yang membutuhkan pembelajaran, penyesuaian diri dan kerja sama dari masing-masing pasangan secara berkesinambungan. Terdengar berat memang, tetapi percayalah, itu sangat bisa menjadi proses yang menyenangkan. Semua tergantung pada diri kita. Mempertimbangkan kegembiraan dan kebahagiaan yang bisa didapatkan dari sebuah pernikahan yang berhasil maka segala pengorbanan yang kita berikan adalah sepadan.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

It is my sincere desire and hope that my writing will positively influence readers, and help them be better and happier.

Pernikahan Bahagia Bukan Berarti Tanpa Perbedaan

Pernikahan yang berhasil bukanlah sebuah keberuntungan semata, bukan pula berarti absennya perbedaan dan masalah. Itu adalah sebuah proses yang membutuhkan pembelajaran, penyesuaian dan kerja sama secara berkesinambungan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr