Fenomena Pemotor Cilik - Empat Hal yang Perlu Dipertimbangkan

Saat ini kita begitu terbiasa melihat anak-anak kecil yang mengendarai sepeda motor secara serampangan di jalan-jalan. Tidak jarang di antara mereka yang mengendarai sepeda motor sambil menelepon atau bahkan mengetik pesan singkat (SMS).

5,081 views   |   shares
  • Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini, laju pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia, khususnya sepeda motor tergolong sangat tinggi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, jumlah sepeda motor dan mobil pada tahun 2001 dan 2011 tercatat sebagai berikut:

  • Jenis Kendaraan

  • Sepeda motor: Jumlah pada tahun 2001 = 15.275.073 unit

  • Jumlah pada tahun 2011 = 68. 839. 341 unit

  • Mobil penumpang: Jumlah pada tahun 2001 = 3.189.319 unit

  • Jumlah pada tahun 2011 = 9.548.866 unit

  • Statistik ini menunjukkan bahwa pada tahun 2011 di negara kita telah terjadi pertambahan jumlah sepeda motor sebanyak empat setengah kali lipat dari jumlah yang tercatat sepuluh tahun sebelumnya pada tahun 2001, melampaui tingkat pertambahan jumlah mobil yang mengalami pertambahan jumlah sebanyak tiga kali lipat dalam kurun waktu yang sama. Sepintas gejala ini tampak wajar sebagai dampak dari pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya beli masyarakat. Akan tetapi, di balik angka pertumbuhan ini terdapat kecenderungan munculnya fenomena sosial yang memprihatinkan.

  • Salah satu wilayah yang menjadi konsestrasi pertumbuhan jumlah kendaraan ini adalah kota Jakarta dan wilayah lain di sekitarnya. Ada yang memprediksi bahwa sekitar 82% dari jumlah tersebut terkonsentrasi di wilayah ini. Pesatnya pertumbuhan kawasan hunian di kota-kota penyangga Jakarta seperti Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor juga turut berpengaruh pola perilaku masyarakat dalam memilih sarana transportasi untuk mendukung mobilitas mereka setiap hari.

  • Dengan pertimbangan biaya operasionalnya yang tergolong murah, serta bentuknya yang ramping sehingga dapat bergerak dengan lincah dan menyelip di sela-sela kendaraan lainnya di tengah kepadatan lalu lintas, sepeda motor kini telah menjadi pilihan yang logis sebagai alat transportasi yang praktis.

  • Lebih dari itu, sepeda motor juga kini telah menjadi bagian dari gaya hidup dan hobi masyarakat. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai komunitas dan perkumpulan pengguna sepeda motor jenis tertentu di suatu wilayah. Bahkan akhir-akhir ini, perkumpulan-perkumpulan semacam ini telah menimbulkan keresahan tersendiri di masyarakat karena tingkah laku mereka yang kadang-kadang bersifat onar. Sebutan “geng motor” yang terkesan negatif barangkali terkait dengan tanggapan sinis masyarakat terhadap keberadaan kelompok ini.

  • Advertisement
  • Namun tulisan ini membahas fenomena memprihatinkan lainnya terkait dengan laju pertambahan jumlah sepeda motor di negeri kita, yaitu munculnya kelompok baru pengendara sepeda motor dari kalangan anak-anak di bawah umur. Saat ini kita begitu terbiasa melihat anak-anak kecil yang mengendarai sepeda motor secara serampangan di jalan-jalan. Tidak jarang di antara mereka yang mengendarai sepeda motor sambil menelepon atau bahkan mengetik pesan singkat (SMS) di perangkat telepon genggam mereka. Ini sangatlah berbahaya. Hal memprihatinkan lainnya adalah adanya orang tua yang dengan bangga ingin agar anak-anak mereka yang masih berusia Sekolah Dasar cepat-cepat dapat mengendarai sepeda motor. Bagaimanapun, ini bukanlah suatu kebanggaan. Ini adalah kecerobohan yang penuh risiko.

  • Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk mengizinkan anak-anak kita mengendarai sepeda motor sendiri:

  • Usia Anak

  • Sebaiknya ikutilah ketentuan usia minimum untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi sebelum Anda membiarkan anak Anda mengendarai sepeda motor sendiri. Standar usia minimum yang berlaku saat ini adalah 17 tahun.

  • Kenali Risiko

  • Anak-anak di bawah umur yang mengendarai sepeda motor, secara fisik belum cukup kuat untuk mengendalikan dan menahan beratnya kendaraan saat kendaraan tersebut berada dalam laju serta posisi yang tidak seimbang. Juga, anak-anak pada usia ini secara emosi belum cukup peka dan matang dalam mempertimbangkan faktor-faktor membahayakan saat berkendara. Mereka lebih didorong oleh emosi keremajaan serta semangat ekspresi diri dan kegagahan, yang membuat mereka lebih mempertimbangkan aspek laju ketimbang aspek keselamatan dalam berkendara. Ini tidak hanya mengancam keselamatan diri mereka sendiri tetapi juga orang lain.

  • Tunjukkanlah kasih sayang kepada anak-anak Anda dengan cara yang tepat

  • Kita perlu mempertimbangkan cara kita menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak kita secara hati-hati dan bijaksana. Sebaiknya kita tidak memberikan barang-barang yang bila diserahkan ke dalam penguasaan mereka, anak-anak belum mampu mempertanggungjawabkannya.

  • Ada beberapa orang tua yang sebagai perwujudan kasih sayang, mereka membelikan sepeda motor untuk anak-anak mereka yang masih di bawah umur. Ini adalah sebuah ironi. Sejak anak-anak kita masih berada di dalam kandungan, sebagai orang tua tentu saja kita telah berdoa dan dengan kesungguhan hati memohon perlindungan dan keselamatan dari Tuhan bagi anak-anak kita. Lalu, setelah mereka mulai besar dan demi kasih sayang, mengapa kita memberikan kepada mereka barang-barang yang berisiko membahayakan keselamatan mereka?

  • Advertisement
  • Didiklah anak-anak Anda untuk menjadi pengendara yang baik

  • Ajarilah anak-anak Anda untuk patuh dan bersopan santun dalam berlalu lintas. Ajarilah mereka untuk menghargai kepentingan orang lain sebagai pengguna jalan. Beri pemahaman kepada mereka bahwa kecerobohan dapat mengakibatkan kecelakaan diri sendiri dan orang lain, juga pengertian bahwa jalan raya adalah milik umum dan orang lain pun berhak menggunakannya sama seperti kita. Jadilah teladan bagi anak-anak Anda dalam hal ini, agar saat mereka telah cukup umur untuk mengendarai kendaraan sendiri, mereka menjadi pengendara yang bertanggung jawab.

  • Keselamatan dan ketertiban berlalu lintas sesungguhnya dimulai dalam keluarga. Sejak dini tanamkanlah budaya berlalu lintas yang baik dalam diri anak-anak Anda, agar kelak mereka akan menjadi pengendara yang baik dan bertanggung jawab. Tertib berlalu lintas adalah cermin budaya bangsa.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Setiaman Zebua is a native of Nias, Sumatra Utara,now living in Bekasi, Jawa Barat, Indonesia, and working for a family owned catering business. He is a father of two. Email me: zebuase@gmail.com

Fenomena Pemotor Cilik - Empat Hal yang Perlu Dipertimbangkan

Saat ini kita begitu terbiasa melihat anak-anak kecil yang mengendarai sepeda motor secara serampangan di jalan-jalan. Tidak jarang di antara mereka yang mengendarai sepeda motor sambil menelepon atau bahkan mengetik pesan singkat (SMS).
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr