Bagaimana Menerima Kekurangan Ibu Mertua

Ibu mertua bukanlah musuh kita walaupun dia memiliki kekurangan dan kebiasaan yang berbeda. Lebih mudah menerima kekurangannya daripada mencoba mengubahnya.

4,940 views   |   4 shares
  • Beberapa hari lalu saya berbicara dengan saudara lelaki saya yang baru menikah dan kami berbicara tentang ibu mertua. Sesudah melakukan perjalanan jauh bersama ibu mertuanya saudara saya itu menyadari bahwa ibu istrinya itu tidak seperti apa yang dia duga. Ucapannya mengenai ibu mertuanya sangatlah tepat, "Dia agak beda dengan ibu kita sendiri."

  • Dia benar, kita salah bila menganggap ibu mertua kita menyebalkan dan ibu kita sempurna. Mereka berbeda, itu saja. Jadi bagaimana kita harus menghadapi perbedaan itu. Berikut ini adalah beberapa masalah yang saya alami dengan ibu mertua saya sendiri.

  • Komunikasi

  • Watak keluarga kami berbeda jauh. Keluarga saya bagaikan buku yang terbuka, gampang dibaca siapa saja. Keluarga mertua saya tidak saja tertutup, tapi juga tersembunyi. Saya pernah menulis surat kepada ibu mertua saya untuk menyatakan perasaan tentang hal-hal yang baik maupun yang buruk. Walau tidak menghasilkan perubahan namun ibu mertua saya selalu menanggapi dengan baik, dan bagi saya sendiri lebih baik begitu daripada memendam kekesalan. Kita mungkin tidak akan berubah namun tidak ada salahnya menjelaskan siapa kita dan mengapa kita melakukan hal-hal yang kita lakukan. Memberi orang sedikit pengertian tentang diri kita akan membuka jalan lapang bagi kita sendiri.

  • Saya harus memanggil apa?

  • Saya ingat suatu waktu kami makan bersama dan telepon berdering. Ipar laki-laki saya duduk paling dekat dengan telepon jadi dia mengangkatnya. Telepon itu untuk ibu saya, ipar saya tampak canggung dan tidak berkata apa-apa. Karena ada 20 orang di meja makan, kami tak tahu untuk siapa telepon itu. Akhirnya dengan gagap dia berkata, "Teleponnya untuk mama, Connie..Nyonya Rose..Ibu Rose."

  • Kami semua menganggap itu kocak sekali, apalagi ketika ibu saya, dengan raut muka yang kikuk berkata, "Saya bukan ibumu."

  • Ini kebalikan dari ibu mertua saya yang ingin sekali dipanggil "mama." Saya merasa kurang nyaman memanggilnya mama, bukan karena dia tidak menakjubkan atau saya kurang mengasihinya, tapi hanya karena saya mempunyai ibu sendiri. Panggilan ini bagi saya bermakna sakral. Bukan sekedar panggilan, melainkan sesuatu yang didapat dengan jerih payah. Ibu saya layak memperolehnya, seperti juga ibu mertua saya layak memperolehnya dari anak-anaknya. Meski banyak keluarga yang ingin menganggap semua orang setara dan tidak ada beda antara keluarga istri atau suami namun perbedaan itu tetap ada. Itulah sebabnya ada istilah "mertua" dan "ipar." Ini kenyataan, bukan kecaman. Tetapi menjadi mertua bukan berarti mereka kurang layak untuk cinta kita. Saya tidak berharap ibu mertua saya mengasihi saya seperti anak perempuannya sendiri. Hal ini tidak melukai perasaan saya, memang seharusnya begitu. Kita bisa saja memiliki hubungan yang erat tanpa memaksakan agar hubungan itu lebih dari yang semestinya.

  • Advertisement
  • Mungkin tidak akan terjadi perubahan

  • Berapa kali kita berselisih dengan orang yang kita kasihi tentang soal yang sama? Ini semua karena kita memiliki kekurangan dan biasanya perselisihan itu berkisar tentang kekurangan kita. Sulit untuk membuat perubahan, lebih mudah untuk menerima kekurangan. Selama bertahun-tahun ada hal-hal yang dilakukan ibu mertua saya yang tidak saya sukai, demikian juga dia pasti merasakan hal yang sama terhadap saya. Saya sadari bahwa semakin saya ingin dia berubah semakin kesal saya jadinya. Saya merasa kurang adil karena saya mengharap ibu mertua saya bertindak seperti ibu saya yang sangat mandiri. Semula saya menganggap ibu mertua saya lemah dan karena itu saya merasa kurang hormat kepadanya. Namun kemudian saya sadar sungguh tidak adil bila saya mengharap dia berlaku mandiri seperti ibu saya.

  • Ibu saya membesarkan anak-anaknya supaya menjadi sangat mandiri dan saling bersandar kepada pasangan hidupnya bukan kepada orang tuanya. Sebaliknya ibu mertua saya ingin kami tinggal bersama dia, duduk bersama di sofa sepanjang hari, sering memeluk dan mencium satu sama lain. Hal ini akan saya lanjutkan di bawah.

  • Beri keleluasaan

  • Pertama kali saya melihat keluarga suami saya berkumpul, saya memperhatikan bahwa mereka saling memeluk dan mencium, waktu bertemu maupun sebelum berpisah. Saya pikir ada yang meninggal. Kalau tidak mengapa harus saling berpelukan? Tempat tinggal kami cuma terpisah jarak kurang dari satu kilometer, kami sering bertemu. Akhirnya saya jelaskan kepada mertua bahwa walaupun saya orang yang tidak suka memeluk bukan berarti saya tidak sayang kepada mereka. Alasannya cuma karena saya tidak dibesarkan dengan cara begitu. Bagi saya agak aneh untuk memberi pelukan dan ciuman kepada ibu mertua sedangkan saya tidak berbuat itu kepada ibu saya sendiri, yang sangat akrab dengan saya. Saya merasa semua itu semu, namun saya sadar buat dia hal itu tidaklah semu. Begitulah caranya menyatakan kasih sayang dan itu tidak ada salahnya. Juga tidak ada salahnya bila saya kurang nyaman melakukan sesuatu yang bukan kebiasaan saya. Kita cenderung berharap orang lain menanggapi dengan cara yang kita inginkan, bila tidak, kita lalu menganggap ada yang tidak beres.

  • Jangan tersinggung karena soal kecil

  • Jika ibu mertua mengajak anak perempuannya pergi belanja atau makan siang, jangan tersinggung. Pikirkan apakah kita akan mengajak dia pergi bersama ibu atau saudara kita. Mungkin tidak. Hanya karena dia ingin pergi bersama anak perempuannya tanpa kita bukan berarti dia membenci kita. Jangan membesar-besarkan soal itu. Begitu juga kalau ibu mertua ingin membuat salah satu foto dengan keluarganya sendiri, jangan tersinggung. Kecuali itu satu-satunya foto yang dia buat. Anak-anak kita memilih untuk menikah dengan pasangannya. Memang bukan kehendak kita, namun jangan mengucilkan mereka dari foto keluarga karena mereka sudah menjadi bagian dari keluarga kita.

  • Advertisement
  • "Jika tidak bisa mengucapkan hal yang baik..."

  • Memang dia memiliki kekurangan, tapi bukan berarti dia boleh semena-mena. Kita juga memiliki kekurangan. Dia sudah menjadi ibu, mungkin sepanjang hidupnya banyak yang mengecam kekurangannya itu, suami, anak-anak atau orang lain. Begitu juga kita. Bila kita sendiri merasa capai dengan kecaman itu, mengapa kita tidak menahan diri untuk tidak mengecamnya. Suatu hari kita juga akan mengalami hal yang sama dengan menantu kita, jadi lapangkanlah hati untuk menerima kekurangannya. Paling tidak, ini akan mempermudah kita melepas anak lelaki kita untuk menikah kelak.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Irma Shalimar dari artikel asli "How to Deal With A Different Crazy: Mother-in-Laws" karya Kate Lee.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Kate Rose Lee is a Utah native, mother of three and author. You can read more of her writing as well as her books at www.momentsofchunder.blogspot.com Contact her at momentsofchunder@gmail.com

Bagaimana Menerima Kekurangan Ibu Mertua

Ibu mertua bukanlah musuh kita walaupun dia memiliki kekurangan dan kebiasaan yang berbeda. Lebih mudah menerima kekurangannya daripada mencoba mengubahnya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr