Menanamkan Karakter dalam Diri Seorang Anak

Hari ini kami melihat anak kita di tengah dunia yang kacau dan bertanya: Bagaimana saya menanamkan karekter yang akan menjadikan anak saya untuk tetap berdiri dalam derasnya perubahan sosial?

1,999 views   |   shares
  • Sokrates, seorang ahli filsafat Yunani kuno, pernah ditanya oleh pengunjung di Athena bernama Meno: Dapatkah kebajikan diajarkan? Hari ini, kita melihat anak-anak kita berada di dunia yang semakin sulit dan bertanya hal yang sama, bagaimana saya dapat menanamkan karakter yang akan menjadikan anak saya tetap berdiri dalam derasnya perubahan sosial? Tidak ada jawaban yang mudah sebagaimana yang Socrater alami, namun mungkin saran berikut dapat membantu.

  • 1. Karakter tidak melulu soal genetik

  • Kita tidak dapat mengasumsikan bahwa hanya karena kita memiliki tingkat karakter tertentu maka anak kita akan secara alami memiliki karakter yang sama. Seperti argumentasi Socrates, kebajikan dan karakter tidak bekerja dengan cara seperti itu. Dia merujuk pada beberapa pernyataan orang Yunani yang dikenal karena kebajikan dan karakter mereka. Pericles adalah orang yang paling terkemuka dari masa keemasan budaya Yunani. Aristides dijuluki “Adil” oleh orang-orang. Themistocles dan Thucydides juga orang yang terkemuka. Semua pemimpin hebat, adil dan memiliki integritas. Semua orang mencoba untuk mengajar putra mereka nilai yang sama, namun tidak ada satu pun yang berhasil dalam menanamkan karakter mereka ke dalam karakter anak-anak mereka.

  • Jika orang-orang yang hebat ini tidak dapat mengajar anak-anak mereka tentang karakter, bagaimana kita dapat, orang tua biasa, memenuhi tugas yang sulit ini? Mungkin, kebijaksanaan yang sederhana tentang seorang anak kecil dapat membantu kita.

  • Orang tua hanya dapat memberikan nasihat yang baik atau meletakkan mereka di jalan yang benar, namun hasil akhir dari karakter seseorang berada di tangan mereka sendiri. – Anne Frank

  • Tidak ada teladan yang lebih baik dari Anne Frank, seorang gadis Yahudi yang terpaksa hidup ditengah-tengah pembantaian ras manusia di masa awal sejarah manusia. Dia mendapati karakternya benar-benar diuji, saat dirinya mengakhiri akhir hayatnya di kamp konsentrasi Nazi.

  • 2. Berikan nasihat yang baik

  • Peran orang tua adalah untuk menyediakan tempat berlindung di mana anak dapat tumbuh tanpa menghadapi beban hidup sebelum mereka siap. Sewaktu anak kita tumbuh dan menghadapi kesulitan dalam kehidupan, adalah penting untuk kita (orang tua) untuk tetap terbuka, pembicaraan tanpa kritikan dengan mereka. Ketika mereka tersandung, bimbang atau bahkan gagal, kita harus ada di sana tidak untuk menghilangkan sepenuhnya tantangannya, namun untuk menawarkan nasihat dari pengalaman kita mengenai mereka dapat mengatasi tantangan ini dan berhasil. Ini memberikan kepada orang tua beban yang berat. Sebelum kita memberikan nasihat, kita mesti memastikan bahwa kita telah melakukannya di dalam kehidupan kita sebelumnya.

  • Advertisement
  • 3. Letakkan mereka di jalan yang benar

  • Luangkan waktu untuk momen pembelajaran. Ajarkan kepada anak-anak Anda kebenaran moral dan tetap itu yang membantu Anda mengendalikan kehidupan yang bersih melalui jebakan dunia. Entah itu pelajaran yang Anda dapat ketika Anda seusia mereka, atau melalui ajaran agama, biarkan anak Anda tahu bagaimana Anda membangun karakter Anda. Cara terbaik untuk meletakkan anak Anda di jalan yang benar adalah dengan menggandeng tangan mereka dan menuntun mereka selama Anda melalui jalan itu.

  • 4. Letakkan di tangan mereka

  • Ini bukan berarti bahwa kita meninggalkan mereka untuk mengetahui bagi mereka sendiri, namun kita harus mengenali seperti Socrates dan Anne Frank temukan bahwa kita tidak dapat membentuk karakter bagi diri mereka. Goethe mengajarkan mengenai karakter, “[karakter] berkembang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu dan kehidupan.” Pada akhirnya, adalah melalui kesulitan dan penderitaan kehidupanlah, hal yang kita sering ingin hindarkan untuk melindungi anak-anak kita, karakter seseorang ditempa. Kita harusnya tidak menghalangi anak kita untuk terjun ke dalam sungai kehidupan. Meskipun demikian, sebagai orang tua kita selalu ada sebagai pendukung ketika mereka menghadapi ujian.

  • Pada akhirnya, Socrates mengambil kesimpulan bahwa kebajikan atau karakter tidak dapat diajarkan. Melainkan, dia menyatakan bahwa kebijakan semacam itu adalah karunia dari Sang Pencipta. Mungkin dia benar. Keinginan terbesar kita sebagai orang tua dalam menanamkan karakter di dalam diri anak kita adalah untuk berdoa bagi mereka, senantiasa siap bagi mereka dan berikan mereka kebebasan untuk menjalani kehidupan mereka sendiri.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Sandiakira L. Pagalla dari artikel asli "Instilling character in children" karya Sean Fletcher.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Sean Fletcher is an educator and writer. He is also a devoted husband and father of five. Contact him at seanwfletcher@hotmail.com

Menanamkan Karakter dalam Diri Seorang Anak

Hari ini kami melihat anak kita di tengah dunia yang kacau dan bertanya: Bagaimana saya menanamkan karekter yang akan menjadikan anak saya untuk tetap berdiri dalam derasnya perubahan sosial?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr