Apa yang Baru Anda Katakan? 4 Cara untuk Meredam Bahasa yang Kasar

Putra saya, sekarang berusia 5 tahun, banyak dikenal di lingkungan perumahan kami. Pada dua kesempatan yang berbeda, dia memilih untuk mengulangi kata tertentu yang mengejutkan.

5,546 views   |   shares
  • Putra saya yang baru berusia 5 tahun, banyak dikenal di lingkungan perumahan kami. Pada dua kesempatan yang berbeda, dia memilih untuk mengulangi kata tertentu yang mengejutkan. Meskipun demikian ketenarannya bukan berasal dari kata-katanya sendiri, namun karena tempat di mana dia memakainya ― di gereja.

  • Di rumah kami tidak bersumpah serapah, atau paling tidak saya rasa kami tidak pernah melakukannya. Kami bukan orang yang benar-benar tanpa dosa. Jika “sumpah serapah” diucapkan, itu biasanya mengawali sebuah kejadian yang serius, seperti saat terluka atau kunjungan mertua (meskipun saya memilih untuk tidak menyebutkan dari pihak keluarga yang mana).

  • Beberapa bulan lalu, saudari saya dan keluarganya dari Boston berkunjung dan tinggal bersama kami. Suatu hari Minggu keluarga saya dan keluarganya duduk tenang di bangku gereja menunggu petunjuk. Pada saat itu ketika suasana hening, yang hanya sesekali diseling suara bayi, anak saya memilih untuk membagikan kepada saya sebuah pemikiran, di mana dia secara bangga mengungkapkannya dengan lantang, “Ayah, bila saya bertemu ‘Orang Jahat’ saya akan berkata, 'Bangsat!'”

  • Gelak tawa meliputi tiga baris di belakang, deretan bangku kami dan dua bangku lain di depan kami sebelum saya dapat membungkam mulut anak saya yang terkejut dengan tangan saya; untuk mencegah usahanya memberi penjelasan tambahan.

  • Ketika berurusan dengan anak yang mengucapkan “kata-kata yang tidak sopan,” tidak ada satu cara jitu yang dapat menyembuhkan kebiasaan semua anak. Meskipun demikian, berikut adalah beberapa gagasan yang manjur bagi kami dan anak-anak kami:

  • 1. Cobalah untuk tidak terlalu bereaksi

    • Ingatlah, mereka tidak sepenuhnya tahu itu kata yang buruk sampai Anda menjelaskannya.

    • Sebagai putra psikiater, satu hal yang ayah saya tanyakan kepada saya, ketika saya bertindak tidak sopan. “Apakah kamu tidak mendapat perhatian cukup?” Ketika kita memberikan perhatian besar saat itu, akan terpatri dalam benak anak kita bahwa mereka dapat menggunakan cara yang sama untuk mendapat perhatian ketika mereka merasa diabaikan.

  • 2. Dengan cepat (namun tenang) jelaskan mengapa anak Anda hendaknya tidak mengucapkan kata itu

    • Meskipun demikian, dalam beberapa kasus ketika Anda mengatakan kepada anak Anda, “Itu bukan kata yang baik” ketertarikan mereka meningkat dan mereka telah menyimpan informasi ini di dalam kepala mereka yang kecil sebagai kata yang dapat mereka ucapkan nanti.

    • Untuk putra saya cara ini manjur. Dia tidak mencari masalah; meskipun demikian, putri saya yang berumur 3 tahun mengetahui kata-kata apa yang buruk, dan dia akan dengan sadar memilih untuk mengucapkannya (seringkali dengan berbisik).

  • Advertisement
  • 3. Berikan kepada anak Anda kata alternatif

    • “Hei, itu bukan kata yang sopan. Daripada memakai kata itu, mengapa kita tidak memilih kata yang berbeda seperti ‘buset’ atau ‘astaga’? bukankan salah satu dari itu lebih baik?”

    • Izinkan mereka untuk membuat kata-kata yang lucu (hanya Anda harus pastikan bahwa itu diterima publik). Sebagai contoh, putra saya suka mengatakan, “ayam mati” untuk beberapa lama. Itu mengganggu, tetapi lebih baik dari kata alternatif yang buruk.

  • 4. Jangan mengabaikan kebiasaan jika Anda ingin kebiasaan diubah

  • Yang lebih buruk dari mengabaikan kebiasaan ialah mengancam akan bertindak jika kebiasaan itu tetap dijalankan namun kenyataannya TIDAK ditindaklanjuti.

  • Saya ada di hotel, mempersiapkan pertemuan untuk esok hari ketika saya dikejutkan dengan telepon dari teman masa kecil saya. Kami berbincang untuk beberapa saat mengenai cuaca di kota masing-masing ketika dia berkata, “Oh, saya dengar apa yang Landon katakan di kelas sekolah minggunya.”

  • Terkejut dengan komentarnya, teman saya tinggal di kota yang jauh dan saya tidak pernah mendengar laporan apapun dari gurunya di gereja atau ibunya (istri saya) jadi saya bertanya.

  • Baru kemudian dia membagikan kepada saya cerita yang diberikan kepadanya, dari istrinya, yang mendengar dari guru anak saya.

  • Cerita itu, antara lain, berkaitan dengan Ketuhanan. Guru anak saya bertanya, "Anak-anak, coba apa kelanjutannya? “Roh..., Roh...."

  • Anak saya, yang terkenal bagaikan legenda rakyat, dengan sok menjawab, “Rohayatun pulang ke rohmatulah!"

  • Roma tidak dibangun dalam sehari. Menghilangkan kebiasaan buruk juga memerlukan waktu.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Sandiakira L. Pagalla dari artikel asli "What did he just say? 4 ways to curb a youngsters foul language habit" karya Rich Day.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Rich Day is an MBA from the Gore School of Business at Westminster College and the Co-Founder of STAY Capital and Bona Dea Nutrition. Contact him at: rich@richday.com

Apa yang Baru Anda Katakan? 4 Cara untuk Meredam Bahasa yang Kasar

Putra saya, sekarang berusia 5 tahun, banyak dikenal di lingkungan perumahan kami. Pada dua kesempatan yang berbeda, dia memilih untuk mengulangi kata tertentu yang mengejutkan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr