Kesalahan yang Mengganggu Keluarga

Apakah di keluarga Anda selalu ada saling tuduh, saling menyalahkan, cela dan cemooh? Kemungkinan penyebabnya adalah kesalahan yang belum dituntaskan.

1,267 views   |   shares
  • Apakah di keluarga Anda selalu ada saling tuduh, saling menyalahkan, cela dan cemooh? Kemungkinan penyebabnya adalah kesalahan yang belum dituntaskan.

  • "Bersalah," putus hakim sambil memukulkan palunya ke meja.

  • "Bersalah," ulang pengacara sambil meninju meja.

  • "Bersalah," terdakwa mengakui sambil menunduk.

  • Adegan ini sering kita lihat di ruang sidang yang penuh dengan orang-orang yang marah menuntut keadilan. Walau adegan seperti ini mungkin cuma kita saksikan di film, tapi sebetulnya sering terjadi dalam rumah tangga kita sendiri. Kita menjadi hakim dan penuntut umum bagi anggota keluarga kita dan menjatuhkan hukuman seakan-akan kita di ruang sidang.

  • Apa yang akan terjadi dengan anggota keluarga yang kita hakimi itu sesudah dia tidak ada di depan kita? Kenangan apa yang ada dalam hatinya? Kebajikan apa yang akan dia andalkan ketika dia merasa kesepian dan takut? Apakah dia akan mengenang kasih sayang kita atau apakah perkataan-perkataan ini akan mengiang di telinganya?

  • "Ayah tidak percaya kamu bisa berbuat seperti itu. Kamu pikir kamu siapa?"

  • "Kamu seharusnya tahu kamu tidak boleh melakukannya."

  • "Kapan kamu belajar?"

  • Menurut artikel "How to Protect Your Family from Your Own Guilty Conscience" (Bagaimana melindungi keluarga Anda dari rasa bersalah Anda sendiri), rasa bersalah adalah lampu merah di tubuh Anda yang membiarkan Anda tahu Anda telah berbuat salah. Rasa bersalah mendatangkan perasaan kurang nyaman untuk suatu tujuan. Dengan memperbaiki kesalahan itu hilanglah perasaan kurang nyaman. Sayangnya bila rasa bersalah itu dikaitkan dengan rasa malu dan cemooh, perasaan kurang nyaman akan tetap ada, bahkan meskipun orang itu sudah berusaha memperbaiki kesalahannya.

  • Dalam kasus seperti itu, perasaan bersalah terus menghantui, mengakibatkan orang itu menghukum dirinya, menimbulkan pikiran dan tindakan mencela diri yang menyebabkan nurani terus terganggu selama hidupnya. Seperti disebutkan dalam "Fault Finding and Physical Punishment by Parents Leads to Unproductive Guilt in Children" (Orang tua yang mencari-cari kesalahan dan memberi hukuman fisik menimbulkan rasa bersalah yang tidak produktif dalam diri anak-anak), sejumlah faktor menyebabkan timbulnya hal ini, termasuk tindakan orang tua, sifat perfeksionisme, dan pola pemikiran yang keliru. Semua terwujud dalam bentuk mencari-cari kesalahan, menyalahkan orang lain, cela dan cemooh.

  • Karena pola pemikiran dari nurani yang bersalah memiliki sifat sangat negatif, otomatis timbul reaksi yang dapat secara fisik dan emosi menyakiti anggota-anggota keluarga. Perhatikan yang berikut ini:

  • Advertisement
    • Keinginan untuk mengendalikan tindakan orang lain.

    • Pikiran bahwa orang lain berbuat salah kepada dirinya.

    • Dugaan bahwa orang-orang yang mengasihinya bersekongkol memusuhinya.

    • Rasa takut bahwa segala sesuatu tidak berjalan sesuai kehendaknya.

  • Pola-pola pemikiran seperti ini merupakan tanda peringatan bahwa Anda membuat dugaan-dugaan berdasarkan keterangan yang tidak benar. Berhenti sejenak dan luruskan pikiran Anda. Tarik napas panjang 10 kali. Pilihlah untuk tidak bertindak gegabah. Tidak peduli apakah Anda orang tua yang memikul beban emosi dari masa kecil, seseorang yang mengalami perundungan dalam hubungan sebelumnya, atau seseorang yang menyaksikan saudaranya mendapat perlakuan sangat buruk, Anda dapat menghentikan siklus perundungan ini.

  • Yang pertama dan paling utama, berhentilah mengkritik diri sendiri

  • Cara terbaik melakukan hal ini ialah membayangkan tanda stop setiap kali muncul keinginan mengkritik diri. Teknik ini disebut "Menyetop pikiran" dan merupakan salah satu cara "Stop, Look, and Listen Emotional Survival Kit" (Stop, Lihat, dan Dengar. Cara Mengatasi Emosi). Gantilah pikiran yang mengkritik diri dengan pernyataan syukur. Misalnya:

  • Pikiran, "Aku orang tua yang payah. Sungguh memalukan tingkah laku anak-anak di restoran tadi. Awas kalau sampai di rumah nanti."

  • Penggantinya, "Ah, untung udah selesai. Sebelum kami ke restoran lagi, kami harus berlatih dulu di rumah."

  • Sewaktu Anda mengubah fokus dari mengkritik diri menjadi rasa syukur, perasaan yang jelek berganti menjadi baik, dan Anda bisa menerima diri Anda. Anda akan menyadari bahwa sepanjang hari ada saja kesempatan untuk mengubah pikiran buruk menjadi positif. Rasa bersalah berubah menjadi kasih yang tanpa syarat.

  • Kedua, gantilah "hendaknya" menjadi "ingin"

  • Jika pikiran Anda penuh hal-hal yang "hendaknya," "perlu," "seharusnya" Anda lakukan bagi keluarga Anda, gantilah semua itu menjadi "saya ingin." Janganlah merasa menjadi budak dari tugas-tugas yang wajib Anda kerjakan, sebaliknya katakanlah, "Saya ingin menyiapkan makan malam bagi keluarga saya," "Saya ingin mengerjakan cucian hari ini," dan "Saya ingin merasa senang." Perubahan sederhana ini akan mengubah rasa bersalah menjadi rasa senang karena hal-hal yang sudah Anda capai.

  • Gunakan pilihan bebas Anda untuk menciptakan suasana yang positif bagi diri dan keluarga Anda. Carilah cara-cara untuk menikmati kebersamaan. Bila anggota keluarga melakukan kesalahan, ajarilah dia dan jangan mempermalukan atau mencemooh sebagai hukuman. Tunjukkan kepadanya cara yang benar untuk menyelesaikan tugasnya. Penuhi pikiran mereka dengan kenangan manis yang tercipta sewaktu Anda mengajarnya, maka Anda akan bahagia.

  • Advertisement
  • Ketiga, gantilah ancaman dengan permintaan

  • Sebaliknya dari menyuruh anggota keluarga melakukan sesuatu dengan ancaman, gunakan kekuatan dari saran. "Saya akan senang sekali, jika kamu mau mengerjakannya...." Tunjukkan hasil positif dari tindakan-tindakan yang Anda inginkan. Kemudian beri para anggota keluarga waktu untuk melakukannya. Berikan perhatian melalui pujian ketika mereka mengerjakan tugas dengan rapi. "Kamu mengepel lantai dan membuang sampah. Dapur tampak rapi."

  • Sewaktu Anda menghentikan efek negatif dari nurani Anda yang bersalah melalui menggantikan kritik dengan rasa syukur, mengganti "hendaknya" dengan "saya ingin," dan ancaman dengan permintaan, Anda akan melihat suasana di rumah Anda akan berubah dari buruk menjadi menyenangkan dan damai.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Irma Shalimar dari artikel asli "Unresolved guilt and its impact on the family" karya Denise Anderson.

Baca, hidupkan, bagikan!

Denise is a published author, with an Education Specialist Degree in School Psychology. Additional writings are found at http://denise-w-anderson.hubpages.com. For more information.

Kesalahan yang Mengganggu Keluarga

Apakah di keluarga Anda selalu ada saling tuduh, saling menyalahkan, cela dan cemooh? Kemungkinan penyebabnya adalah kesalahan yang belum dituntaskan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr