Melihat Hal yang Baik di Dunia

Kemarin, sewaktu saya berlari ke luar pintu untuk mengantarkan anak-anak saya ke sekolah, saya tidak menemukan kacamata hitam saya.Saya harus memakai kacamata hitam karena bila Anda melihat saya tanpanya Anda akan berpikir bahwa saya seperti hantu.

926 views   |   shares
  • Kemarin, sewaktu saya berlari ke luar pintu untuk mengantarkan anak-anak saya ke sekolah, saya tidak menemukan kacamata hitam saya. Saya seorang janda dengan enam orang anak. Saya harus memakai kacamata hitam karena bila Anda melihat saya tanpanya Anda akan berpikir bahwa saya berpakaian seperti hantu. Saya putus asa. Jam berdetak dan anak-anak akan terlambat jika saya tidak buru-buru, tetapi saya menutupi buruknya penampilan pagi hari saya, lalu saya mengambil kacamata hitam putri saya; saya memakai kacamata jelek bermodel kuno dan berlari ke luar pintu.

  • Sewaktu saya berjalan menuruni bukit, saya bersyukur tidak ada kuda di tengah jalan, untuk pertama kalinya saya memerhatikan betapa indahnya dunia. Cahaya yang jatuh di pegunungan begitu mencengangkan. Di gunung-gunung pohon-pohon berubah warna dan awan—-ya awan yang begitu agungnya. Saya memandang dunia seolah-olah baru pertama kali saya melihatnya. Hal terindah yang pernah saya lihat. Tiba-tiba saya bersyukur dan kagum betapa diberkatinya saya. Segera saja saya menjadi riang dan dunia menjadi tempat yang begitu menyenangkan. Saya kembali ke rumah, melepas kacamata hitam itu dan keadaannya kembali membosankan. Dunia yang dengannya saya terbiasa, dengan segala keruwetan yang sama. Hari berlalu dan tiba waktunya untuk menjemput anak-anak saya. Saya meraih kacamata itu lagi dan memakainya. Ah! Kehidupan saya kembali indah.

  • Tapi, tapi saya tidak bodoh, saya mengamatinya. Saya melepas kacamata itu dan melihat pada kacanya. Kacanya berwarna merah jambu. Kaca itu membuat semuanya terlihat indah mengagumkan. Saya tersenyum, saya bernyanyi, dan saya terkagum. Pagi ini saya menemukan kacamata lama saya, mengenakannya lalu terheran-heran mengapa dunia tampak begitu jelek dan abu-abu. Tidak banyak nyanyian dan senyuman. Saya pulang ke rumah dan dengan sengaja mencuri kacamata putri saya. Dia baru saja mendapatkan yang baru sebagai hadiah ulang tahunnya, jadi dia tidak keberatan.

  • Saya TAK PERNAH lagi mengenakan kacamata lain yang berwarna abu-abu. Bila saya dapat menjalani hidup dan melihat hal yang baik serta keindahannya, saya memilih untuk melakukannya. Mengapa seseorang ingin memilih untuk melihat hidup yang abu-abu dan membosankan? Kadang-kadang kita seperti itu. Hal itu yang membuat saya memikirkan cara saya melihat segala sesuatunya dalam kehidupan saya. Apakah saya melihat anak-anak saya dengan kacamata berwarna merah jambu? Apakah saya melihat teman-teman serta tetangga saya, pekerjaan dan kehidupan saya dengan cara yang semestinya? Terkadang itu adalah pilihan. Saya memilih untuk membuang kacamata berwarna abu-abu dan mempertahankan hidup yang berwarna merah jambu. Percayalah pada saya, itu lebih baik.

  • Advertisement
  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Indah Wajarsari dari artikel asli “Seeing the good in the world” karya Shannon Guymon.

Bantu kami menyebarkan

Shannon grew up all across the United States but has finally found her home in Utah, where she lives with her four children and her husband, Matt. She enjoys the mountains, gardening, being with her family, and, of course, writing.

Situs: http://www.shannonguymon.com

Melihat Hal yang Baik di Dunia

Kemarin, sewaktu saya berlari ke luar pintu untuk mengantarkan anak-anak saya ke sekolah, saya tidak menemukan kacamata hitam saya.Saya harus memakai kacamata hitam karena bila Anda melihat saya tanpanya Anda akan berpikir bahwa saya seperti hantu.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr