Kisah Hidup Tukirah dan Dua Hal Mendasar Tentang Hakikat Kewanitaan

Tukirah adalah pengingat akan harkat mulia kaum wanita yang sering kali tidak mendapat tempat yang sepantasnya dalam persepsi kita.

1,454 views   |   shares
  • Tukirah adalah sesosok wanita desa yang sederhana namun mewakili seluruh uraian tentang hakikat kewanitaan. Tukirah adalah seorang ibu rumah tangga, istri seorang pensiunan guru dari daerah Bantul, Yogyakarta. Tukirah adalah seorang wanita dan ibu dalam arti yang sesungguhnya. Pengabdian hidupnya bukan pada sebuah prestasi, popularitas, atau karir yang gemilang. Pengabdiannya sederhana namun sejati dan terhormat, yaitu pengabdian seorang ibu terhadap keluarganya. Selama hampir 40 tahun Tukirah telah menghabiskan hari-harinya hanya untuk mengurus dan merawat ketiga orang anaknya yang terlahir cacat.

  • Pada tahun 2008 sebuah film dokumenter tentang kisah hidup Tukirah telah dibuat untuk mengabadikan ketulusan dan pengabdiannya. Bertha Suranto selaku produser film ini menyatakan bahwa tujuan pembuatan film ini ialah agar dapat menjadi inspirasi bagi semua orang untuk lebih menghormati dan menyadari betapa mulia dan tingginya harkat dari peran keibuan seorang wanita. Film ini dimuat dan dapat Anda saksikan di situs Harian Kompas.

  • Sebagai bagian dari upaya penyadaran, film ini dibuat untuk mengingatkan kita tentang konsepsi kewanitaan yang telah mengalami banyak pergeseran. Perkembangan zaman telah memunculkan gagasan bagi banyak orang bahwa kedudukan sebagai ibu rumah tangga biasa tidak lagi sejalan dengan citra kemodernan wanita.

  • Namun tidak hanya itu, Tukirah adalah pengingat akan harkat mulia kaum wanita yang sering kali tidak mendapat tempat yang sepantasnya dalam persepsi kita. Betapa sering mereka menerima perlakuan yang tidak mencerminkan penghargaan atas peran istimewa mereka; mereka dirundung dan direndahkan. Bagaimanapun hal ini sungguh memprihatinkan. Berbagai persoalan keluarga dan masyarakat pada tingkat tertentu merupakan dampak dari kekeliruan pemahaman akan hakikat kewanitaan yang sesungguhnya. Hal ini dapat terwujud dalam berbagai situasi. Di dalam rumah tangga, pemojokan dan pengabaian adalah wajah lain dari perilaku yang bersifat merendahkan terhadap kaum wanita. Perceraian antara suami dan istri tidak jarang yang berawal dari kondisi buruk seperti ini.

  • Berkenaan dengan hakikat kewanitaan, dua hal mendasar di bawah ini akan membantu Anda memosisikan wanita pada kedudukan yang semestinya dalam kehidupan Anda:

  • Kodrat kesetaraan

  • Secara kodrati sesungguhnya kaum wanita adalah makhluk yang diciptakan setara dengan pria. Perbedaan jenis kelamin tidak menempatkan mereka pada kedudukan nomor dua setelah pria. Perbedaan jenis kelamin adalah bagian dari rancangan ilahi guna mencapai pemenuhan kodrat manusia. Ekspresi bermartabat dari perbedaan jenis kelamin ini diwujudkan dalam hubungan pernikahan antara pria dan wanita.

  • Advertisement
  • Prinsip-prinsip kesetaraan ini seharusnya menjadi landasan keintiman sebuah pernikahan. Dalam pernikahan pria dan wanita masing-masing bertindak sebagai penyempurna bagi satu sama lain. Klaim superioritas atas kaum wanita hanyalah sebuah bentuk arogansi yang merendahkan. Pria yang melakukan ini secara tidak sadar merendahkan dirinya sendiri dengan menampik kenyatan bahwa dia dilahirkan dari kandungan wanita, dan bahwa jati diri kepriaan yang menjadi kebanggaannya sesungguhnya tumbuh dan berkembang dalam asuhan tangan lembut seorang wanita.

  • Kelembutan dan kepekaan emosi

  • Kelembutan dan kepekaan yang dimiliki kaum wanita bukanlah ciri kelemahan mereka. Sesungguhnya mereka bukanlah kaum yang lemah. Dalam banyak hal mereka memiliki kekuatan tertentu yang tidak dimiliki kaum pria. Kelembutan dan kepekaan emosi adalah bagian dari jati diri kewanitaan yang dianugerahkan secara ilahi kepada mereka. Kedua atribut istimewa ini secara alami melekat pada sifat dasar keibuan yang di atasnya kekuatan kewanitaan berlandasan. Kekuatan unik inilah yang memungkinkan mereka menjadi rekan penolong dan bukan pembantu bagi kaum pria dalam kemitraan pernikahan.

  • Peribahasa klasik yang mengatakan, "kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah,"adalah penggambaran komparatif akan kasih sayang tiada batas yang dimiliki para ibu terhadap anak-anak mereka. Galah dan jalan bukanlah pelambangan yang terlalu hiperbolis untuk memberikan uraian tentang kasih sayang ibu bagi anak-anaknya. Sosok seorang ibu seperti Tukirah adalah contoh nyata dari kebenaran ungkapan ini.

  • Kasih sayang, kelembutan, dan ketulusan pengabdian adalah jati diri sejati seorang wanita. Perlakukanlah mereka secara sepatutnya. Mereka adalah ibu kita. Bagi para pria, mereka adalah istri kita; ibu dari anak-anak kita. Mereka adalah mitra sejajar kita dalam membangun keluarga menuju kesempurnaan. Sesungguhnya wanita adalah pembawa keindahan dalam kehidupan kita. Cara kita memperlakukan wanita akan menjadi pola yang tidak dapat dihapus begitu saja dalam diri anak-anak kita. Hargailah wanita!

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Setiaman Zebua is a native of Nias, Sumatra Utara,now living in Bekasi, Jawa Barat, Indonesia, and working for a family owned catering business. He is a father of two.

Kisah Hidup Tukirah dan Dua Hal Mendasar Tentang Hakikat Kewanitaan

Tukirah adalah pengingat akan harkat mulia kaum wanita yang sering kali tidak mendapat tempat yang sepantasnya dalam persepsi kita.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr