Mengajari anak perfeksionis supaya lebih realistis dan tak tertekan menjalani hidup, coba 6 tips ini saja, Ma!

Anda perlu mengajari dan meyakinkan dirinya, bahwa apapun hasil yang ia capai, ia akan dicintai tanpa syarat.

115 views   |   shares
  • Saya terlahir sebagai anak sulung. Seperti layaknya kebanyakan anak pertama dalam keluarga, saya mendapatkan tanggung jawab ekstra sebagai teladan. 'Penyakit' yang umum terjadi dalam pengasuhan anak sulung : sebisa mungkin tidak membiarkan anak berbuat salah, supaya orang tua pun tak dianggap "tidak becus mengurus anak". Imbasnya, perfeksionisme pun tumbuh sebagai karakter Si Kecil. Saya termasuk salah satu yang merasakannya.

  • Kini, menghadapi anak sulung saya, bibit-bibit perfeksionisme ini mulai tumbuh pula dalam dirinya. Ditambah egonya yang masih belum piawai ia kelola di usianya yang menginjak 5 tahun, saya perlu menggunakan trik khusus menghadapi si perfeksionis cilik. Di lain sisi, saya pun turut belajar menekan keinginan kesempurnaan yang sama dalam diri.

  • Bagaimana cara mengajari Si Kecil yang perfeksionis supaya bisa lebih realistis dan santai menjalani hari?

  • 1. Partisipasi di atas kompetisi

  • Menjadi yang terbaik, seakan menjadi tujuan utama untuk mendapatkan pengakuan. Ya, memang kita dahulu terbentuk dari bibit sperma terbaik dan tercepat, namun perlu disadari hidup tak selamanya untuk menjadi nomor satu. 'Berikan yang terbaik' tentu berbeda dengan 'Raihlah yang terbaik'. Saya lebih memilih untuk menanamkan pada anak, berusahalah sebaik yang ia bisa, dalam artian tidak menyerah berusaha. Apapun hasil yang ia dapatkan, itu adalah kerja keras yang berhak ia banggakan. Namun, urutan tak selalu jadi penentu layak tidaknya ia mendapatkan apresiasi. Jadi, saya tak perlu cemas, anak akan cemberut atau tantrum ketika gambarnya tak jadi juara dalam lomba mewarnai.

  • 2. 'Menertawakan' kesalahan

  • Percaya atau tidak, sikap defensif akan terbawa hingga dewasa. Tidak sedikit orang yang sulit untuk berbesar hati mengakui kesalahan dan kekurangan, apalagi mau berkata "maaf" lebih dahulu. Ini adalah hal yang bisa Anda pelajari bersama anak. Dengan humor dan hati legowo, Anda memandang kesalahan sebagai batu sandungan sementara. Ada hikmah di balik kegagalan dan kejatuhan. Hakikinya seorang manusia, wajar jika tak sempurna dan terus belajar. Contoh sederhana? Ketika Anda berbuat salah atau tak berhasil, buatlah 'tarian kekalahan', sebuah cara Anda untuk mengatakan kalau Anda akan tetap moving on dengan hati yang lapang.

  • Advertisement
  • 3. Orang hebat pun bisa kalah dan salah

  • Thomas Alva Edison mencoba seribu kali sebelum bohlamnya berhasil menyala. J.K. Rowling ditolak berkali-kali oleh penerbit sebelum sukses meluncurkan Harry Potter. Michael Jordan pun tak selalu berhasil melesakkan bola ke dalam ring. Tokoh-tokoh dunia tak hanya perlu dipuja karena keberhasilannya. Anda dapat menunjukkan sisi lain mereka kepada Si Kecil, bahwa kegagalan, baik kecil maupun yang terjadi dalam saat menentukan, dapat saja terjadi sesuai takdirnya. Yang membedakan adalah, tokoh-tokoh tersebut dapat sukses karena tak menganggap kegagalan sebagai alasan untuk berhenti.

  • 4. Apresiasi yang 'membumi'

  • Memuji anak adalah cara untuk meningkatkan percaya diri dan cara kita mengapresiasi. Namun, apakah Anda telah memujinya dengan tepat? Fokuskan apresiasi Anda kepada usaha dan kerja kerasnya. Tonjolkan kekuatan dirinya, namun tidak dalam taraf berlebihan. Untuk kekurangan, cobalah menyampaikan perbaikan melalui saran, misalnya "Nanti kita coba untuk menulis dengan ukuran yang lebih kecil, ya!" atau "Bagaimana kalau kita belajar mengatur cara berlari supaya bisa kuat berlari lebih lama?" Menekankan apresiasi pada proses, ketimbang hanya menilai hasil akhir, juga patut Anda coba untuk memperkenalkan kepada anak, aspek mana yang lebih penting untuk ia nikmati dalam melaksanakan kegiatan.

  • 5. Mendorong spontanitas

  • Anak perfeksionis umumnya malas mengambil risiko. Mereka cenderung suka 'bermain aman' karena tidak menoleransi terjadinya kegagalan akibat ketidakpastian. Buat anak lebih rileks dalam melakukan kegiatan. Biarkan ia mengeluarkan ide atau mengeksekusi keinginannya tanpa terlalu banyak aturan (kecuali aturan yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan diri). Anda juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan spontan bersama keluarga, misalnya berkendara tanpa tujuan awal di akhir pekan, membuat video keluarga tanpa rencana, melakukan perjalanan napak tilas, atau membuat kapsul waktu untuk dibuka 10 tahun mendatang.

  • Advertisement
  • 6. Lepaskan beban di pundaknya

  • Sumber perfeksionisme dapat Anda temukan dalam jadwal harian. Tumpukan tanggung jawab yang dipadatkan dalam waktu sempit, ini memicu anak dan Anda sendiri untuk memberikan sesedikit mungkin kesempatan berbuat salah. Ubahlah cara menyusun jadwal. Bagi tujuan dan target menjadi skala lebih kecil, dengan titik-titik pencapaian yang rinci, namun tidak memberatkan anak. Ajari anak membuat skala prioritas dan memperkenalkan untuk menjadi selektif, tidak ngoyo untuk mengejar semuanya.

  • Koneksi Anda dengan anak tentu menjadi hal terpenting. Dukungan yang Anda berikan dengan ekspektasi yang fleksibel, tentunya membuat anak lebih yakin bahwa Anda akan menyayangi dan mencintainya tanpa syarat. Bukan menjadikan keberhasilan dan prestasi sebagai alasan ia butuh diperhatikan.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Mengajari anak perfeksionis supaya lebih realistis dan tak tertekan menjalani hidup, coba 6 tips ini saja, Ma!

Anda perlu mengajari dan meyakinkan dirinya, bahwa apapun hasil yang ia capai, ia akan dicintai tanpa syarat.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr