Difteri terus memakan korban hingga meninggal dunia. Waspadai gejalanya!

Melonjaknya kasus penyakit difteri secara signifikan di tahun 2017 ini mendapuknya menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB)

5,998 views   |   11 shares
  • Di pengujung tahun 2017 yang segera berakhir, Indonesia mendapatkan sebuah ujian besar, datang dari dunia kesehatan. Penyakit difteri marak terjadi di Tanah Air. Angkanya signifikan dalam kurun waktu singkat, sehingga dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

  • Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga November 2017 dilaporkan telah terjadi 622 kasus yang menelan korban 32 jiwa. Difteri ditemukan di 95 daerah kota dan kabupaten yang tersebar di 20 provinsi di penjuru Tanah Air. Dalam kurun waktu Oktober hingga November 2017 saja, 11 provinsi menyatakan difteri terjadi sebagai KLB di wilayah mereka. Uniknya, Pulau Jawa yang pembangunannya termaju di Indonesia malah menyumbangkan angka kasus terbanyak, yaitu 474 kasus dengan 26 korban jiwa.

  • Apa itu penyakit difteri?

  • Difteri terjadi akibat infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Infeksi ini menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Gejala-gejala akan muncul 2-5 hari pasca infeksi, di antaranya demam, menggigil, kelenjar pada leher membengkak, batuk keras seperti "menggonggong", nyeri tenggorokan, kulit nampak kebiruan, banyak mengeluarkan air liur, dan rasa tidak nyaman. Gejala tambahan dapat terlihat seperti sulit bernapas, sulit menelan, gangguan penglihatan, gangguan bicara, hingga tanda-tanda syok (kulit dingin, berkeringat banyak, dan detak jantung sangat cepat).

  • Ciri atau tanda khas yang menunjukkan penyakit difteri adalah munculnya lapisan abu-abu di belakang tenggorokan. Lapisan ini tebal, sehingga mampu menghalangi jalan pernapasan. Lapisan abu-abu ini muncul akibat toksin yang dikeluarkan oleh bakteri dan masuk ke dalam sistem peredaran darah.

  • Selain gejala umum, penyakit difteri bisa saja mengacu kepada satu jenis penyakit lagi, yang disebut difteri kulit. Penyakit ini lumrah terjadi di daerah beriklim tropis. Penandanya terlihat pada kulit, yaitu kemerahan, membengkak, dan terasa nyeri. Lapisan abu-abu juga biasanya muncul pada tenggorokan.

  • Difteri dapat menyebabkan komplikasi, jika tidak dirawat. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah kerusakan otot jantung, kerusakan saraf, radang paru-paru, dan kesulitan bergerak seperti lumpuh. Tanpa perawatan, seorang penderita difteri hanya punya kesempatan 50% untuk bertahan hidup.

  • Advertisement
  • Seseorang yang mengidap difteri dapat menularkan kepada orang lain yang tidak kebal terhadap bakteri penyebabnya, hingga 6 minggu setelah dirinya terinfeksi. Penularannya dapat terjadi melalui udara (napas, bersin, air liur), barang-barang pribadi yang tercemar bakteri dan tidak tercuci bersih.

  • Satu hal yang cukup mengerikan, seseorang dapat saja terinfeksi bakteri difteri dan menunjukkan gejala ringan atau malah tanpa gejala sama sekali. Ditambah ringannya penyakit tersebut membuat dirinya tidak ditangani secara medis, si penderita menjadi pembawa (carrier) bakteri yang menularkan difteri ke masyarakat di sekelilingnya. Anak balita dan manula di atas 60 tahun menjadi kalangan paling berisiko, terutama jika mereka tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap difteri melalui vaksinasi.

  • Mengapa KLB difteri bisa terjadi?

  • Difteri ini sesungguhnya telah lama tergolong menjadi penyakit yang jarang mengancam. Apalagi vaksinasi difteri telah masuk ke dalam program pemerintah sehingga masyarakat mudah mendapatkannya dan tersedia secara cuma-cuma di berbagai fasilitas kesehatan pemerintah.

  • Ikatan Dokter Anak Indonesia(IDAI)membuat analisis terhadap situasi ini. Perkiraan penyebab KLB difteri berpangkal dari coverage vaksinasi difteri yang belum optimal. Titik-titik kritis terdapat pada beberapa kondisi, di antaranya :

    • Orangtua tidak disiplin dalam memberikan vaksinasi kepada anak sesuai jadwal. Vaksin pun menurun efektivitasnya.

    • Orang tua melewatkan jadwal vaksin dan tidak memberikannya secara lengkap. Khususnya, saat anak memerlukan booster di usia 18 bulan dan 5 tahun.

    • Orangtua tidak mendokumentasikan catatan vaksinasi dan/atau tidak rutin berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk evaluasi kesehatan anak.

    • Munculnya gerakan anti vaksin yang membuat sebagian orangtua malah menyepelekan atau menolak vaksinasi sebagai upaya peningkatan kekebalan tubuh.

  • IDAI juga menyoroti kemungkinan lain dari sisi tenaga kesehatan. Apakah mereka telah mengedukasi dan memvaksinasi dengan tepat sesuai jadwal? Apakah handling terhadap sediaan vaksin sudah tepat sehingga tidak memengaruhi efektivitasnya?

  • Menanggapi KLB difteri ini, 3 provinsi memberikan respons cepat. DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten menggelar vaksinasi darurat serentak (Outbreak Response Immunization - ORI) mulai 11 Desember di beberapa wilayah yang memiliki angka kasus difteri signifikan. Program ORI ditujukan bagi anak usia 1 tahun hingga remaja kurang dari 19 tahun, terdiri atas 3 putaran vaksinasi. Vaksinasi akan dilaksanakan di sekolah, puskesmas, rumah sakit, dan posyandu, semua tanpa dipungut biaya.

  • Advertisement
    • Mengenali dan memahami gejala-gejala difteri

    • Segera bawa anak atau anggota keluarga yang sakit ke dokter atau rumah sakit jika mengalami demam tak lazim dan tanda-tanda difteri seperti batuk "menggonggong", radang tenggorokan mengganggu, dan kesulitan bernapas

    • Periksa dan lengkapi status vaksinasi difteri, termasuk pada dewasa. Khusus dewasa, perlu mendapatkan vaksinasi difteri setiap 10 tahun sekali.

    • Jika ada pengidap difteri yang terdiagnosa positif, segera periksakan seluruh anggota keluarga ke dokter atau rumah sakit, guna mendapatkan penanganan sebelum tertular.

Baca, hidupkan, bagikan!

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Difteri terus memakan korban hingga meninggal dunia. Waspadai gejalanya!

Melonjaknya kasus penyakit difteri secara signifikan di tahun 2017 ini mendapuknya menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB)
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr