Ibu, hati-hati dengan rasa lelah 'burn out' yang dapat berdampak pada pengasuhan anak

Wajar jika kelelahan sering kali menghinggapi para Ibu. Namun jika berlebihan, Anda bisa 'burn out' dan berdampak pada anak juga loh!
Nov 19, 2017

371 views   |   2 shares
  • Tidak perlu gengsi untuk mengakui, bahwa mengasuh anak 24 jam selama 7 hari akan membuat Anda lelah. Kepenatan yang menumpuk akibat rasa bosan, pekerjaan rumah (jika Anda Ibu rumah tangga) yang sepertinya tidak pernah habis, dan anak yang menuntut perhatian penuh. Tidak jarang, seorang Ibu mengalami burn out atau ledakan emosi akibat rutinitas tersebut.

  • Hal ini apabila dilakukan di depan anak, tentu dapat memengaruhi mereka secara langsung maupun tidak. Bisa jadi, emosi kekesalan yang Anda rasakan juga mereka rasakan. Sangat disayangkan, karena menurut Dr. Sears dalam bukunya, The Attachment Parenting Book, hal terpenting yang harus didapatkan anak adalah kelekatan emosi yang aman dari orang tua. Dan hal ini hanya dapat terbentuk lewat bonding yang diciptakan orang tuanya. Nah, salah satu penyebab terhambatnya bonding tersebut adalah Ibu yang burn out.

  • Nah, mari kita telaah terlebih dahulu mengapa seorang Ibu bisa mengalami burn out? Menurut Sears, penyebabnya ternyata bukan disebabkan karena banyaknya kebutuhan bayi, namun lebih karena seorang Ibu -apalagi seorang wanita yang baru pertama kali menjadi seorang Ibu- seringkali merasa harus melakukan banyak hal secara bersamaan dalam waktu yang cepat. Padahal, tidak juga loh!

  • Sebetulnya, Anda tidak berkewajiban untuk harus 'cepat pintar' dalam mengasuh anak. Semua adalah proses pembelajaran sehingga dibutuhkan waktu untuk benar-benar dapat melakukan yang terbaik. Ketimbang pengasuhan anak menjadi tidak optimal, dan proses regulasi emosinya menjadi terhambat, lebih baik mari dimulai dari diri sendiri. Sayangi dulu diri Anda, dan hindari terjadinya ledakan burn out ini. Bagaimana caranya?

  • Hindari pengaruh negatif dari orang lain

  • Ketika support system tidak mendukung segala keputusan Anda, maka burn out akan lebih cepat terjadi. Maka jika Anda tak bisa menghindari semua orang, pastikan orang-orang yang berada di sekitar Anda memberi dukungan penuh dan selalu hadir mendukung Anda. Misalnya jika mertua selalu menentang keputusan Anda, pastikan suami memberi dukungan dan satu suara dengan Anda.

  • Cari

  • _support system_

  • yang Anda butuhkan

  • Cari sebanyak mungkin orang-orang yang akan terus menebarkan semangat positif dalam hidup Anda. Jika kebetulan dukungan tidak Anda dapatkan dari orang terdekat, ciptakan saja. Bisa dengan berkenalan dalam komunitas Ibu-ibu yang memiliki kesamaan visi atau mengikuti kegiatan bersama teman-teman yang selalu memberi dukungan.

  • Advertisement
  • Anda dulu, baru yang lain

  • Coba deh tanyakan para Ibu, kebutuhan siapa yang terpenting di rumah. Kebanyakan pasti menjawab "anak". Padahal, jika Anda tak merawat diri, maka sulit pula untuk merawat orang lainnya. Mementingkan diri sendiri, bukan berarti Anda jadi melupakan kebutuhan seluruh anggota keluarga. Justru karena Anda adalah mesin utama di dalam rumah, maka kebutuhan Anda sudah terlebih dahulu terpenuhi agar kesehatan dan kesejahteraan dapat lebih baik untuk mendukung yang lain.

  • Jangan ragu untuk pergi 'me time' sesekali, atau menemukan hobi dan kegiatan bermanfaat bagi penyegaran dan kewarasan jiwa Anda. Coba deh, rasakan manfaatnya.

  • Jaga keromantisan dengan pasangan

  • Apapun yang terjadi, tanggung jawab pengasuhan anak ada di tangan Anda dan pasangan. Maka mengobrol, menghabiskan waktu bersama, dan terus menjaga kehangatan cinta, sama pentingnya dengan mengasuh anak. Walau lelah seharian berkutat dengan kegiatan rumah tangga, tetaplah sediakan waktu untuk mengobrol dengan pasangan Anda. Hal ini dapat memberikan suntikan semangat baru loh!

  • Kurangi waktu bersama gadget

  • Tak hanya menyebabkan anak jadi kurang perhatian, namun terlalu sering bersentuhan dengan gadget juga dapat mengakibatkan stres yang tidak Anda butuhkan. Misalnya, terlalu sering melihat foto-foto keluarga yang terlihat sempurna di media sosial, justru dapat memberikan tekanan hingga bisa jadi Anda merasa gagal sebagai Ibu. Padahal tidak semua yang diunggah orang di media sosial tersebut, sejujur yang Anda lihat. Sebaiknya kurangi waktu gadget Anda dan jadilah Ibu yang gembira.

  • Berhentilah merasa gagal

  • Tidak ada Ibu yang gagal. Tapi kebanyakan Ibu sepertinya punya 'mesin pengkritik' yang tak pernah tidur, sehingga membuat para Ibu mempertanyakan segala hal termasuk performa sendiri. Anda mungkin bukan Ibu sempurna, tapi memang tidak ada seorang Ibu pun sempurna ideal. Jika kritikan di sekitar Anda tidak pernah berhenti, balaslah dengan cara yang paling efektif. Terus belajar, banyak membaca, cari solusi atas persoalan yang dihadapi, mencoba hal baru yang menyenangkan, dan ubah kritik menjadi rasa ingin tahu dan ingin menjadi lebih baik dengan cara positif.

  • Istirahat yang cukup

  • Semua Ibu baru pasti kurang tidur. Maka prioritaskan waktu istirahat Anda, saat si kecil juga sedang tertidur. Berikan hak penting tubuh untuk beristirahat, agar Anda memiliki tenaga (dan emosi) lebih untuk memulai hari baru. Kelelahan yang berlebihan hanya akan membuat Anda cepat marah. Lalu bagaimana nasib si kecil kalau dimarahi terus?

  • Advertisement
Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ibu, hati-hati dengan rasa lelah 'burn out' yang dapat berdampak pada pengasuhan anak

Wajar jika kelelahan sering kali menghinggapi para Ibu. Namun jika berlebihan, Anda bisa 'burn out' dan berdampak pada anak juga loh!
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr