Enggan ‘me-time’ karena khawatir keluarga tak terurus? Ini alasan untuk meninggalkan kecemasan Anda!

Seorang ibu ingin bahagia, namun tak berani melakukan hal-hal yang membuatnya gembira? Ketahuilah, 'me-time' bukan sebuah dosa.
Nov 19, 2017

524 views   |   1 shares
  • Dalam perjalanan menjadi seorang Ibu selama 5 tahun belakangan, saya menyadari bahwa peran ini layaknya sebuah jelmaan Wonder Woman. Atau setidaknya, itu yang diharapkan dan dituntut oleh orang-orang di sekitar Ibu. Ia dilarang lelah, tidak boleh mengeluh, wajib siap sedia mengurus keluarga. Tak peduli sedang letih, menderita 'sakit datang bulan', atau sudah jenuh hingga ke ubun-ubun.

  • Apakah mereka lupa? Jika Ibu juga seorang wanita dan manusia biasa? Yang punya keinginan, mimpi, cita-cita, dan hobi yang ingin dilakukan?

  • Jika Anda perhatikan, berbagai artikel dan status di media sosial, menyodorkan me time sebagai sarana relaksasi Ibu. Hingga muncul jargon 'Mama minta piknik' sebagai sebuah penyadaran akan pentingnya memelihara 'kewarasan' seorang Ibu.

  • Namun, ternyata tidak sedikit Ibu di luar sana yang masih berpikir bahwa me time adalah suatu hal yang kurang pantas. Meninggalkan tanggung jawab mengurus rumah tangga dan menyerahkan pengasuhan anak kepada orang lain, walaupun sementara, menyisakan perasaan bersalah di hatiseorang ibu. Imbasnya, pikiran tak bisa fokus saat me time dan bukannya merasa lebih segar, malah lebih pusing dari sebelumnya.

  • Padahal, menyisihkan waktu sendiri dan menyingkir sejenak dari kesibukan itu memberikan banyak manfaat, sebut saja :

  • 1. Menenangkan pikiran

  • Saya termasuk yang tak tahan mendengar dan menghadapi 'kekacauan' serta 'ketidakteraturan' yang disuguhkan anak-anak. Terlebih jika saya sedang dalam kondisi dikejar penyelesaian setumpuk tugas. Berada dalam satu tempat, sendiri, tanpa siapapun bertanya atau berkomentar, akan membuat saya berpikir dengan lebih baik dan tenang. Saya bisa mendengar benak dan hati saya bicara, tanpa distraksi dari siapapun. Jujur, buat saya, inilah kemewahan tiada tara yang ingin jadi milik saya setidaknya satu-dua jam setiap harinya.

  • 2. Bebas merenung dan berkontemplasi

  • Setelah pikiran tenang, kita akan mampu berpikir mendalam tentang banyak hal. Kali ini, berfokuslah pada diri Anda sendiri. Apakah Anda sudah mengasah potensi diri? Apakah kelemahan yang telah berhasil Anda atasi? Apa yang ingin diperbaiki dan apa yang ingin Anda raih di masa depan? Begitu banyak agenda untuk pribadi yang dapat Anda rancang, laksanakan, dan evaluasi.

  • Advertisement
  • 3. Menjadi kreatif dan produktif

  • Ini adalah bagian favorit dari me time yang saya lakukan. Menghasilkan sebuah karya bermanfaat adalah penawar terbaik dari rasa bersalah yang menghantui Anda. Anda dianugerahi segudang ide brilian di kepala. Bagaimana potensi diri Anda diarahkan secara tepat untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang nyata dan berguna? Inilah yang membuat me time bukan hanya sekadar bermalasan. Me time adalah waktu untuk Anda berkembang. Kupu-kupu perlu menampilkan sayap indahnya. Bukan hanya berdiam diri dalam kepompong, membusuk, dan mati sia-sia.

  • 4. Mengasah kemandirian

  • Anda berhak atas diri sendiri, entah berupa opini, mengambil keputusan, hingga menyenangkan diri. Sekali waktu, menyempatkan untuk me time akan membuat Anda sebagai 'pemegang kendali'. Anda tidak tergantung pada siapapun untuk membahagiakan diri sendiri. Bahagia atau merana, semua ada di tangan Anda. Ini bukan sebuah bentuk egoisme. Namun, dengan memberikan kesempatan meraih kebahagiaan sendiri, Anda tengah memberikan kepercayaan dan penghargaan pada diri sendiri.

  • Mayoritas orang-orang yang saya temui dan mengeluh tentang ketidakmampuan serta ketidaktegaan mereka meminta kesempatan me time berkubang pada titik permasalahan yang sama. Hambatan komunikasi dengan pasangan menjadi sumber masalah. Entah suami enggan untuk berkompromi, tidak melakukan pembagian tugas rumah tangga, hingga lekatnya inner child dan pola asuh yang terlalu membekas, yaitu peran seorang ibu yang tidak dihargai dengan benar oleh keluarga.

  • Sadarilah bersama, me time bukan suatu bahan negosiasi. Waktu relaksasi dan pengembangan diri ibu adalah sebuah kebutuhan yang patut dipenuhi. Akuilah, kala seorang ibu bahagia, rumah pun bisa terurus dengan baik. Namun, bayangkan jika perasaannya kecewa, sedih, atau sedemikian tertekan hingga jatuh ke dalam depresi. Saya sendiri tak berani membayangkan, apabila bom waktu yang ada di dalam diri seorang ibu tiba-tiba meledak dan membuat rumah tangga porak poranda.

  • Advertisement
  • Berilah seorang wanita kesempatan untuk menikmati dunia, sebagai dirinya sendiri. Tanpa embel-embel istri, gelar ibu, ataupun Ratu Rumah Tangga. Carilah dukungan dan bantuan segala support system yang bisa memungkinkan Anda menikmati waktu sendiri tanpa kejaran rasa bersalah. Melakukan hal yang membuat Anda bahagia, tanpa diatur oleh pendapat dan omongan orang lain.

  • Namun, apabila memang terasa me time total yang dilakukan tanpa keluarga masih menantang untuk dilaksanakan, tak perlu berkecil hati. Bangunlah lebih awal atau geser sedikit jam tidur Anda. Sisihkan 10-30 menit melakukan hal yang Anda sukai, sendirian, tanpa gangguan siapapun.

  • Songsonglah jalan kebahagiaanmu sendiri! Atas kerja keras dan dedikasi ini, Anda berhak menikmatinya.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Enggan ‘me-time’ karena khawatir keluarga tak terurus? Ini alasan untuk meninggalkan kecemasan Anda!

Seorang ibu ingin bahagia, namun tak berani melakukan hal-hal yang membuatnya gembira? Ketahuilah, 'me-time' bukan sebuah dosa.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr