Si kecil memiliki sahabat imajinasi. Bagaimana meresponnya?

Lalu bagaimana dengan anak yang memiliki "sahabat imajinasi"?. Apakah bisa Anda terima sebagai hal yang positif dan normal juga?.

179 views   |   1 shares
  • Sama halnya dengan dunia bermain, dunia imajinasi juga sangat dekat dengan dunia anak-anak. Berimajinasi membantu anak dalam proses tumbuh kembangnya berkaitan dengan aktivitas otak yang mampu merangsang kreativitas dan kemampuan anak dalam mengembangkan khayalan/fantasi dan ide-idenya. Imajinasi merupakan sarana untuk si kecil belajar akan keberadaan dirinya terhadap lingkungan yang dihadapinya. Tampaknya mengembangkan imajinasi anak adalah ide yang positif.

  • Lalu bagaimana dengan anak yang memiliki "sahabat imajinasi"?. Apakah bisa Anda terima sebagai hal yang positif dan normal juga?.

  • Diusia 2 - 6 tahun, anak berada dalam fase mengembangkan interaksi sosialnya, dimana anak membutuhkan seseorang untuk dijadikan teman bermain, teman berbicara dan teman untuk berbagi banyak hal yang dialami. Tak jarang si kecil yang dalam kehidupan nyatanya tidak menemukan seorang sahabat, akan mencoba mencari sahabat dalam imajinasinya.

  • Secara psikologis, anak-anak yang memiliki "sahabat imajinasi" memang terlihat sedikit memiliki" keanehan" tersendiri. Namun, sejauh masih dalam batas wajar, hal tersebut tak perlu menjadi kekhawatiran para orang tua. Yang perlu Anda khawatirkan jika keberadaan sahabat imajinasi tersebut membuat anak menjadi menjauh dari dunia nyata, tidak tertarik bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya, bersikap aneh, menutup diri dan menjadi anak yang tidak bertanggung jawab.

  • Sebagai orang tua, Anda harus merespon secara bijak. Berimajinasi memiliki sahabat dalam khayalan itu menjadi bagian dalam perkembangan anak.Jadi tidak perlu cemas atau takut ketika mendapati si kecil sedang asik berbicara atau mengobrol seorang diri seolah-olah sedang berbicara dengan temannya.

  • Terkadang, Anda akan menyangkut pautkan apa yang dialami si kecil tersebut dengan hal-hal berbau mistis atau Anda mengklaim anak Anda sedang mengalami gangguan kejiwaan. Anda menjadi takut sendiri dan akhirnya menjadi kejadian traumatik yang harus diakhiri.

  • Akan lebih baik jika Anda meresponnya dengan cara-cara berikut

  • 1. Jangan marah

  • Sebaiknya tanyakan baik-baik seperti apa wujud sabahat imajinasinya tersebut. Bagaimana perilakunya dan apa yang sering dibicarakan dengan sahabatnya tersebut. Perhatikan sejauh mana anak Anda menikmati hubungan bersama sahabatnya tersebut. Jika si kecil sulit dialihkan dari si sahabat, maka perlu Anda ambil tindakan selanjutnya.

  • 2. Akui keberadaan sahabat imajinasinya

  • Mengakui keberadaan teman khayalan anak memang terdengar konyol. Namun, cara itu akan membuat anak bisa terbuka akan keberadaan si sahabat. Jadilah pendengar yang baik. Dengan demikian, Anda bisa memantau sejauh mana si kecil terlibat dalam imajinasinya bersama si sahabat.

  • Advertisement
  • 3. Berikan masukan yang positif

  • Sebagai orang tua Anda berperan untuk " mengembalikan" anak ke dunia yang sewajarnya (nyata). Dengan bahasa dan penjelasan yang mudah dimengerti maka si kecil dengan mudah mengerti masukan dan saran yang Anda berikan.

  • 4. Jangan membiarkan anak terlalu sering bermain sendiri

  • Salah satu celah anak bisa memiliki teman khayalan dalam imajinasinya karena Anda tidak cukup banyak waktu untuk terlibat dalam dunianya. Orang tau sebaiknya bisa lebih responsif dan mau ikut berbaur ketika anak bermain.

  • 5. Masukkan anak dalam kelompok bermain atau taman bermain

  • Anak-anak di usia 2 - 6 tahun membutuhkan suatu situasi atau lingkungan yang dimana si kecil bisa bermain, belajar dan mengeksplor apa saja bersama teman-teman sebayanya. Ide untuk memasukkan si kecil pada komunitas yang didalamnya terdapat banyak anak-anak seusianya akan meminimalisir anak masuk ke dunia imajinasi dan bersahabat dengan teman khayalan.

Bantu kami menyebarkan

Saya lulus dari Institut Kesenian Jakarta, dengan Jurusan Musikologi. Kebahagiaan saya adalah membangun rumah tangga harmonis bersama suami dan bersamanya membesarkan putra semata wayang kami. Menjadi guru musik dan dapat berbagi pengalaman hidup dengan menulis adalah kegemaran saya.

Si kecil memiliki sahabat imajinasi. Bagaimana meresponnya?

Lalu bagaimana dengan anak yang memiliki "sahabat imajinasi"?. Apakah bisa Anda terima sebagai hal yang positif dan normal juga?.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr