Batuk anak tidak kunjung sembuh? Waspadai 'Batuk 100 hari'

Kenali gejala batuk rejan (pertusis) yang dapat mengancam nyawa buah hati Anda.

1,882 views   |   3 shares
  • Siapa yang tidak sedih melihat buah hati tertidur gelisah akibat batuknya yang tidak kunjung sembuh? Seringkali, cuaca tak menentu yang dijadikan 'kambing hitam' penyebab masalah penyakit yang datang dan pergi termasuk batuk pada anak.

  • Memang sih, batuk dan flu adalah dua jenis penyakit yang umum menyerang anak-anak. Namun biasanya masa inkubasinya tidak lebih dari 1-2 minggu lamanya. Istirahat yang cukup dan asupan gizi yang baik adalah jawaban untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, bagaimana jika kondisi batuk anak terus menerus terjadi bahkan lebih lama lagi? Tidak juga pulih walau Anda sudah memberikan perawatan maksimal di rumah?

  • Ada beberapa jenis batuk yang berbeda dan memerlukan penanganan yang berbeda pula. Jika batuk yang menyerang tidak kunjung membaik setelah hampir 1-2 bulan, mungkin Anda perlu mewaspadai munculnya pertusis, batuk rejan atau yang sering juga dikenal dengan 'batuk 100 hari'.

  • Apakah itu?

  • Pertusis adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh bakteri, yang dapat menular melalui udara dan berada di sekitar kita. Pada seseorang dengan kondisi yang kurang fit atau memiliki daya tahan tubuh rendah, sangat mudah terserang penyakit ini. Menurut Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P dari RSUP Persahabatan, Jakarta, batuk yang diderita dalam waktu yang cukup lama ini, justru paling banyak diidap oleh anak-anak di bawah usia 10 tahun.

  • Gejala yang sering kali muncul adalah flu disertai batuk pilek, radang tenggorokan dan demam. Anak yang terserang pertusis biasanya akan menunjukkan gejala-gejala tersebut setelah terinfeksi 20 hari atau dalam stadium kataral. Dan untuk memastikan apakah anak terserang pertusis atau tidak, perlu dilakukan penanganan dokter yang akan mendiagnosa melalui pemeriksaan lab untuk melihat bakteri Bordetella Pertussis dalam dahak penderitanya.

  • Pertusis sangat berbahaya jika menyerang bayi berusia di bawah 1 tahun. Batuk yang terus menerus dan disertai gumpalan lendir, akan membuat bayi kesulitan bernapas sehingga berdampak pada kurangnya asupan oksigen ke otak dan dapat menyebabkan kejang. Dalam beberapa kasus, bayi yang terserang pertusis tanpa penanganan yang tepat dapat berakibat kematian.

  • Apa gejalanya?

  • Batuk pertusis berkembang dalam 3 tahap. Hal ini terutama terjadi pada bayi dan anak kecil. Pada tahap pertama (masa awal), muncul gejala ringan seperti hidung berair dan tersumbat, bersin-bersin, mata berair, radang tenggorokan, batuk ringan hingga demam. Lamanya tahapan ini terjadi hingga 2 minggu dan berisiko menularkan orang-orang di sekitarnya.

  • Advertisement
  • Pada tahapan kedua (masa paroksismal), gejala flu mulai memudar namun batuk justru bertambah parah dan tidak terkontrol. Di tahap inilah terjadi batuk keras seperti melengking dengan sebelumnya diawali tarikan napas panjang lewat mulut (whoop). Umumnya pada bayi dan anak-anak, usai batuk sering juga diikuti dengan muntah dan kelelahan. Tahapan ini bisa berlangsung dua hingga empat minggu lebih.

  • Pada tahapan ketiga (penyembuhan), tubuh penderita mulai membaik. Namun gejala batuk pertusis bisa tetap ada atau bahkan lebih keras. Pemulihan terjadi hingga dua bulan atau lebih, tergantung dari pengobatan.

  • Beberapa kondisi di bawah ini harus segera menerima penanganan dokter yaitu:

    • Bayi berusia 0-6 bulan yang terlihat sangat tidak sehat.

    • Penderita kesulitan untuk bernapas.

    • Penderita mengalami komplikasi serius, seperti kejang atau pneumonia.

    • Mengeluarkan bunyi saat menarik napas.

    • Muntah akibat batuk rejan yang parah.

    • Tubuh menjadi memerah atau membiru.

  • Bagaimana cara mencegahnya?

  • Untuk anak yang sudah terkena atau terlihat gejala batuk pertusis, perlu penanganan medis dari dokter untuk mendiagnosa dan pengobatan yang tepat. Sedangkan untuk pencegahan, ada vaksinasi yang dapat diberikan kepada anak yaitu lewat vaksin DPT. Berdasarkan jadwal yang dikeluarkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Vaksin ini dilakukan sebanyak lima kali, yaitu di usia 2, 4 dan 6 bulan, antara 18-24 bulan, dan terakhir di usia 5 tahun.

  • Meski penyakit ini dapat membuat anak menjadi lesu dan rewel, namun orang tua tidak perlu khawatir. Pengobatan saat ini dapat mengatasi pertusis lebih cepat, asalkan orangtua peka untuk segera memeriksakan si buah hati, saat gejala-gejalanya mulai muncul.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Andreas Kurniawan lulus sarjana S1 Teknik Informatika tahun 2009 di STMIK MDP. Memulai karir sebagai IT officer di sebuah Bank selama 1 tahun sebelum akhirnya bekerja di PT. Thamrin Brothers sebagai analis sampai saat ini. Email:

Batuk anak tidak kunjung sembuh? Waspadai 'Batuk 100 hari'

Kenali gejala batuk rejan (pertusis) yang dapat mengancam nyawa buah hati Anda.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr