Menyegarkan pikiran dengan berjalan kaki dan memerhatikan sekitar? Ternyata efektif lho

Berjalan kaki, ternyata tidak hanya menyehatkan tubuh secara fisik saja, namun juga secara kejiawaan. Sebab, melakukannya secara teratur akan membantu otak dalam berpikir kreatif

662 views   |   2 shares
  • Di era yang mulai terbuka pada berbagai cara yang dilakukan untuk belajar efektif seperti sekarang ini, membuat berbagai sekolah hingga perusahaan pun mulai bisa mendukung perbedaan setiap individu agar optimal dalam belajar atau bekerja. Salah satunya adalah tipe individu yang butuh bergerak untuk bisa berpikir.

  • Hal ini juga tertulis dalam buku The Geography of Genius yang ditulis oleh Eric Weiner. Sebab ada satu hal yang serupa dari setiap jenius yang diceritakan, yakni berjalan kaki. Charles Dickens dan kebiasaannya jalan kaki setiap malam menjelajahi London, begitu juga Mark Twain. Kebiasaan ini pun dilakukan masyarakat Athena, yang pernah mengalami zaman keemasan.

  • Charles Darwin, Friedrich Nietzsche, bahkan Aristotle pun adalah para pejalan kaki. Kini, ada Steve Jobs, yang juga lebih sering melakukan meeting sambil berjalan. Tak hanya Jobs, penemu facebook, Mark Zuckerberg juga kerap melakukannya. Jadi apa kaitannya antara berjalan kaki dengan menjadi sukses?

  • Sebuah artikel dari Ferris Jabr di The New Yorker menjelaskan mengapa berjalan kaki sangat baik untuk membantu proses berpikir.

  • Olahraga

  • Tak hanya membuat jantung memompa darah lebih banyak ke otak, namun juga meningkatkan banyak hal positif di kepala kita. Sebab dengan berjalan, koneksi antar sel otak pun terus terbentuk, yang kemudian meningkatkan volume hippocampus (bagian otak yang penting untuk memori) juga melejitkan level molekul-molekul penting yang menstimulasi pertumbuhan neuron baru dan mengirimkan pesan di dalamnya.

  • Ritme

  • Seperti tempo dalam musik yang kita dengarkan untuk meningkatkan mood, dentuman langkah kaki akan menstimulasi dan membentuk berbagai pemikiran.

  • Perhatian

  • Berjalan kaki memaksa kita untuk memerhatikan banyak hal di sekitar, lalu mengobservasinya. Hal ini akan mendorong terciptanya ide baru yang kreatif.

  • Memacu inspirasi kreatif

  • Tak hanya itu, sebuah studi dari peneliti di Standford yang dipublikasikan di the Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory and Cognition, bahkan melakukan beberapa penelitian mengenai hal ini.

  • Marily Oppezzo, lulusan doktoral dari psikologi pendidikan Stanford dan Daniel Achwartz profesor dari Standford Garaduate School of Education adalah kepala penelitinya. Hasilnya menemukan bahwa berjalan kaki, baik di luar maupun di dalam ruangan sama-sama memacu inspirasi kreatif. Jadi, justru kegiatan berjalannya lah yang utama.

  • Ada empat jenis penelitian yang dilakukan. Salah satunya melibatkan 176 mahasiswa dan orang dewasa lainnya yang melakukan tugas dari peneliti. Ada yang di dalam ruangan menatap tembok; berjalan di treadmill dan duduk tenang di atas kursi. Ada juga yang di luar ruangan; berjalan kaki, dan duduk di atas kursi roda dan didorong.

  • Advertisement
  • Setelah itu, seluruh peserta diminta untuk melakukan tes untuk mengukur kreativitas dengan cara berpikir divergen. Yakni proses berpikir atau metode yang digunakan untuk berpikir kreatif dengan mengeksplor banyak langkah untuk mendapatkan solusi. Hasilnya, solusi kreatif meningkat hingga 60 persen ketika orang tersebut berjalan.

  • Bukan untuk berpikir fokus

  • Berjalan, telah terbukti mampu meningkatkan kemampuan seseorang untuk berpikir kreatif. Namun ternyata tidak membantunya untuk berpikir fokus, ketika diminta untuk menjawab satu saja dari pilihan jawaban yang paling benar.

  • "Jadi tidak semua tugas dalam pekerjaan bisa diselesaikan dengan berjalan kaki, hanya masalah yang membutuhkan perspektif segar atau ide baru saja yang dapat diselesaikan," kata Oppezzo.

  • Contohnya, ketika partisipan diberikan tiga kata; cottage, swiss dan cake. Mereka yang berjalan kaki mengalami kesulitan saat harus memberikan satu jawaban saja yang paling benar untuk tiga petunjuk tersebut. Sementara mereka yang duduk dapat dengan mudah menjawab "keju". Maka, kesimpulannya adalah; pemikiran divergen memang didapatkan dari berjalan, namun tidak untuk pemikiran konvergen.

  • Lakukan dengan seimbang

  • Namun demikian, para peneliti tetap sepakat bahwa bergerak dibutuhkan tubuh, dan duduk terlalu lama jelas tidak sehat. Maka yang sebaiknya dilakukan adalah melakukan keduanya dengan seimbang. Jika sudah duduk terlalu lama, maka seseorang jelas butuh bergerak atau menghilangkan kebosanan dengan mengobrol sambil berjalan kaki. "Yang jelas lebih sehat," ujar Oppezzo.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menyegarkan pikiran dengan berjalan kaki dan memerhatikan sekitar? Ternyata efektif lho

Berjalan kaki, ternyata tidak hanya menyehatkan tubuh secara fisik saja, namun juga secara kejiawaan. Sebab, melakukannya secara teratur akan membantu otak dalam berpikir kreatif
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr