Suami meragukan kemampuan Anda mengurus keluarga? Mari bicara dan raih kepercayaannya!

Meraih kepercayaan suami ternyata butuh banyak usaha, bahkan latihan rutin. Anda bisa melakukannya!

410 views   |   1 shares
  • Sebuah pernikahan yang kokoh didasari oleh kepercayaan yang kuat. Aneka konflik akan mudah bermunculan dan emosi pun cepat tersulut ketika keraguan menyelimuti hati Anda.

  • Sayangnya, banyak pasangan yang lupa bahwa awal dari kepercayaan adalah adanya kondisi saling menghargai, mengakui, dan memberikan kesempatan kepada tiap pasangan untuk menjalankan perannya. Inilah yang banyak dialami oleh para ibu muda. Mereka yang masih menjalani tahap 5 tahun pertama dalam pernikahan. Bila ditilik, banyak ibu muda yang rawan terkena baby blues syndrome, post partum depression, bahkan stay at home mom syndrome, berpangkal dari kurang atau tiadanya kepercayaan dari suami mereka sendiri. Mari simak contoh masalah berikut ini dan bagaimana penyelesaiannya.

  • 1. Kegalauan ibu baru

  • Memegang bayi dan mengurusnya pertama kali, mayoritas wanita entah mengapa merasa tak percaya diri. Beragam ketakutan menghantui. Takut melakukan kesalahan, yang berujung mengancam kesehatan dan keselamatan. Seolah memperburuk keadaan, suami Anda malah ikut menekan. "Wanita seharusnya punya naluri keibuan!" begitulah alasan yang dilontarkan. Padahal, wajar saja wanita setelah melahirkan sekalipun, punya gejolak hormon yang belum mereda. Akhirnya para tetua ikut turun tangan, entah ibu atau ibu mertua. Anda dianggap tak punya kemampuan mumpuni bahkan untuk memandikan anak sendiri.

  • Sebelum tekanan-tekanan semacam ini mengganggu Anda pasca melahirkan dan malah mendatangkan baby blues ataupun depresi, 'bergeraklah' sejak bayi masih ada di dalam kandungan. Ajak suami mengikuti kelas prenatal. Belajarlah bersama, ikatlah komitmen untuk saling mendukung. Jika memungkinkan, ajak calon kakek nenek ikut menimba ilmu di kelas

  • prenatal._Sebuah kejadian lumrah, para tetua masih memegang kepercayaan pada mitos-mitos dan budaya salah kaprah yang sebenarnya tidak bermanfaat bagi si bayi kelak. Kuncinya, samakan persepsi, sesuaikan ekspektasi, dan disiplin mengikuti arahan dari ahli terpercaya.

  • Advertisement
  • 2. Bisakah kamu berhemat?

  • Tidak sedikit pria yang setengah hati memercayakan sang istri untuk mengelola seluruh penghasilannya untuk keuangan keluarga. Alhasil, Anda hanya dijatah secukupnya atau sangat pas, demi tidak menyediakan celah untuk berfoya-foya. Di satu sisi, suami ingin membangun sebuah disiplin dan mindset penggunaan uang yang terkendali. Sayangnya, ketika semua keputusan ini diambil sepihak tanpa ada diskusi dan kompromi, pernikahan akan menjadi goyah dan bisa hancur karena kesalahan komunikasi keuangan semacam ini.

  • Lagi-lagi, kepercayaan finansial ternyata perlu dibangun sejak dini dengan membicarakannya sedari awal menikah. Malah, beberapa pasangan bisa duduk berdua membicarakan ini sebelum mengikat janji suci. Sebuah perjanjian pranikah bisa dibuat untuk memantapkan keputusan keuangan demi mengamankan pernikahan dari gangguan finansial. Bagi para istri, Anda dapat melakukan hal-hal berikut untuk meraih kepercayaan finansial dari suami :

    • Jujur pada pemakaian uang. Jika Anda berbelanja, laporkan nilai sebenarnya atau dibulatkan ke atas.

    • Diskusikan rencana belanja dengan suami

    • Hindari membeli barang mahal tanpa persetujuannya

    • Fleksibel terhadap anggaran dengan memanfaatkan diskon, voucher, dan penghematan lain

    • Bedakan kebutuhan dan keinginan Anda

    • Selalu sisihkan untuk tabungan dan investasi, setidaknya 10 persen dari penghasilan

    • Hormati uang suami Anda dan tidak mengklaim seluruhnya sebagai uang Anda. Jika menginginkan tambahan, berusahalah sendiri dengan bekerja atau berwirausaha.

  • 3. Karena kamu seorang wanita

  • Bias gender yang tertanam akibat pola pengasuhan dapat serta merta memercikkan konflik. Suami meragukan kemampuan Anda, hanya karena Anda adalah kaum Hawa. Ketika meminta izin untuk bertemu dengan sahabat-sahabat lama, suami tidak memberikan kelonggaran waktu. Alasannya, wanita akan banyak bergosip ketika bertemu hingga lupa waktu dan lupa dunia. Di lain waktu, Anda akan membawa mobil ke bengkel untuk pemeriksaan rutin. Suami meminta ia saja yang membawanya dengan dalih Anda kurang mengerti dunia otomotif dan nantinya perawatan tidak optimal atau malah membengkak karena ditawari ini itu untuk dibeli. Geram rasanya dipandang tidak kompeten dalam mengerjakan sesuatu karena tertanamnya stereotipe seperti ini.

  • Advertisement
  • Berkompromilah dengan suami untuk saling berbagi ilmu. Dengan bertoleransi pada aspek ini, Anda pun turut memberikan teladan kepada anak-anak untuk menjadi pribadi berempati dan memberikan dukungan tanpa memandang remeh berdasarkan gender.

  • Jordan Gray, seorang relationship coach menyarankan kepada para pasangan untuk melakukan trust exercises secara rutin. Latihan-latihan ini meliputi sentuhan-sentuhan fisik nan lembut, berbicara dari hati ke hati, hingga gratitude game yang membuka cakrawala akan pentingnya rasa syukur.

  • Kepercayaan yang kokoh terbangun apabila Anda dan pasangan terus memupuknya setiap hari dengan cinta yang tulus. Ketika Anda mulai saling menghargai dan berkomitmen untuk membangun keluarga bersama, dalam kondisi terburuk sekalipun, rasa percaya pun akan tumbuh. Keutuhan keluarga menjadi tujuan bersama, sekarang dan selamanya.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Suami meragukan kemampuan Anda mengurus keluarga? Mari bicara dan raih kepercayaannya!

Meraih kepercayaan suami ternyata butuh banyak usaha, bahkan latihan rutin. Anda bisa melakukannya!
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr