Impulsif berbelanja 'online'? Kini saatnya mencari bantuan!

Tahan jempol Anda! Memang sulit rasanya menahan godaan berbelanja online, tapi coba simak dulu artikel ini.

149 views   |   shares
  • Sekali waktu, mari amati isi surel dan ponsel Anda. Apakah inbox surel Anda dipenuhi newsletter dan info promo dari situs-situs belanja? Apakah aplikasi belanja di ponsel Anda sampai berderet-deret di dalam folder khusus? Apakah Anda selalu bingung setiap memeriksa tagihan kartu kredit dan mutasi rekening bank? "Ke mana saja uang-uang ini pergi?", atau "Kapan saya berbelanja barang ini?" begitulah pertanyaan yang berkecamuk di benak Anda.

  • Apabila gejala-gejala di atas sudah menjadi rutinitas Anda, maka itu artinya lampu merah telah menyala. Anda jelas memiliki masalah sebagai pembelanja daring atau online yang impulsif. Bisa jadi, Anda juga telah memasuki tahap ketagihan.

  • Tak dipungkiri, belanja daring menghadirkan banyak godaan. Bayangkan saja, cukup dengan beberapa klik dengan jari, Anda bisa mendapatkan apa yang Anda mau (seringkali bukan yang Anda butuhkan). Duduk manis, tunggu beberapa waktu, barang akan diantarkan kepada Anda. Tanpa perlu mengeluarkan ongkos transportasi, mengantre di kasir, atau menggalau di depan etalase. Belum lagi, tebaran diskon spesial untuk pembelian daring yang terus memanggil-manggil.

  • Begitu banyaknya kode voucher diskon daring, sampai ada situs yang menyediakan informasi khusus kode-kode ini. Wow, kelihatannya mudah dan praktis!

  • Namun tunggu dulu, segala hal manis ini menyimpan bahaya ketika Anda melakukannya dengan serampangan dan tidak bertanggung jawab.

  • Sebuah studi tentang adiksi belanja daring menemukan 3 faktor utama yang membuat seseorang mudah ketagihan belanja daring, yaitu :

    • Lebih suka membeli secara anonim dan menghindari interaksi sosial

    • Menyukai tempat penjualan yang menyediakan berbagai jenis barang dan ketersediaan stok yang jelas

    • Mereka yang mendambakan gratifikasi instan atau mudah terpuaskan

  • Banyak wanita yang menilai belanja adalah pereda kesedihan, kegalauan, atas nama retail therapy. Dalam kondisi emosional yang bergejolak, logika Anda sering dikesampingkan. Anda akan mengutamakan keinginan di atas kebutuhan. Muncul hasrat tak tertahan untuk berebut membeli produk terbatas kala flash sale. Tulisan 'diskon' membuat Anda menjustifikasi, belum tentu besok harganya akan semurah ini. Pembenaran demi pembenaran, hingga akhirnya kebenaran bicara : pengeluaran belanja Anda membengkak. Besar pasak daripada tiang, Anda panik.

  • Advertisement
  • Adiksi terhadap belanja daring bisa dikatakan berawal dari keimpulsifan Anda memasukkan barang-barang ke dalam cart. Anda dapat menekan keimpulsifan ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri Anda sebelum berbelanja, seperti :

    1. Apakah manfaat barang ini penting untuk saya?

    2. Bagaimana urgensi penggunaan barang ini?

    3. Apakah barang ini memiliki pengganti yang lebih murah?

    4. Bagaimana saya akan membayar barang ini?

    5. Apakah pembelian barang ini akan mengganggu keuangan saya?

    6. Jika saya tidak membeli barang ini, kerugian apa yang akan saya derita?

  • Berikan waktu beberapa jam atau bahkan hari berikutnya sebelum Anda mengambil keputusan. Siapa tahu, keinginan Anda bersifat sementara. Hanya euforia akibat membaca promo yang masuk ke dalam surel atau notifikasi ponsel Anda.

  • Anda juga perlu melakukan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin, di antaranya :

    • Membatasi jumlah kartu kredit, menjadi hanya satu atau tidak sama sekali

    • Simpan kartu kredit di dompet suami atau lokasi lain yang sulit terjangkau

    • Putuskan koneksi mobile banking dan internet banking

    • Pisahkan dana belanja di rekening tertentu

    • Dahulukan membayar semua tagihan di awal bulan

    • Lakukan pembagian anggaran dengan sistem 'amplop', yaitu menyisihkan satu demi satu berdasarkan pos-pos

  • Saring isi surel dan ponsel Anda dari belanja daring. Berhenti berlangganan newsletter dan hapus semua aplikasi belanja daring di ponsel Anda. Intinya, sementara waktu, bangun tembok tebal dari segala godaan berbelanja daring.

  • Tidak ada salahnya berkonsultasi kepada psikolog mengenai masalah belanja impulsif dan kecanduan belanja ini. Psikolog akan membantu Anda menyelami kepribadian dan mencari titik-titik pemicu yang membuat sifat impulsif Anda muncul. Dengan emosi yang terkelola lebih baik, Anda pun menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan, termasuk keputusan belanja yang bertanggung jawab.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Impulsif berbelanja 'online'? Kini saatnya mencari bantuan!

Tahan jempol Anda! Memang sulit rasanya menahan godaan berbelanja online, tapi coba simak dulu artikel ini.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr