7 sikap orangtua yang tanpa disadari mempengaruhi kepribadian anak menjadi rendah diri

Sadari bahwa sebagai orangtua kita bukan satu-satunya pengaruh bagi anak-anak, dan oleh karenanya kita harus bisa menjadi pengaruh terbaik untuk mereka.

6,099 views   |   10 shares
  • Orangtua adalah sumber penyemangat dan cikal bakal rasa percaya diri anak, satu kesalahan kecil saja dalam pola pengasuhan mampu mendorong anak-anak tumbuh menjadi pribadi rendah diri yang akhirnya memengaruhi masa depan mereka.

  • Seorang motivator, pembicara dan juga penulis buku terkenal, Caty Caprino, menjabarkan sedikitnya ada 7 kesalahan utama orangtua dalam mengasuh. Harapannya, semoga melalui artikel kali ini kesalahan demi kesalahan tersebut bisa diminimalisir, sehingga anak-anak bisa tumbuh dan berkembang dengan penuh rasa percaya diri.

  • 1. Orangtua tidak membiarkan anak-anak mengambil risiko

  • Memberikan perlindungan menjadi salah satu tugas utama orangtua. Namun, memberikan perlindungan secara berlebihan justru dapat mengisolasi anak-anak dan "merusak" mereka secara psikologi. Psikolog di Eropa menemukan fakta, jika seorang anak tidak diizinkan bermain di luar rumah dan tidak pernah diizinkan untuk mengalami sendiri rasa sakit akibat terjatuh, mereka akan memiliki banyak fobia ketika tumbuh sebagai orang dewasa.

  • Anak-anak butuh pengalaman bahwa mengalami rasa sakit adalah normal. Remaja mungkin perlu mengalami kesedihan akibat putus cinta, sehingga setelahnya mereka bisa menghargai serta memperoleh kedewasaan secara emosional.

  • 2. Orangtua terlalu cepat memberikan pertolongan

  • Generasi muda zaman sekarang dirasa belum cukup mengembangkan beberapa keterampilan bertahan hidup seperti yang pernah dilakukan oleh anak-anak 30 tahun yang lalu. Hal ini disebabkan orangtua zaman sekarang terlalu sibuk memanjakan anak dan mengurus segala kebutuhan mereka.

  • Orangtua perlu memahami, bahwa kebiasaan untuk cepat memberikan pertolongan kepada anak-anak pada akhirnya menghilangkan kemampuan mereka untuk mengatasi sendiri persoalan. Cepat atau lambat, pola asuh demikian membuat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki rasa percaya diri, sehingga mereka akan selalu mengandalkan orang lain untuk memberikan bantuan.

  • 3. Orangtua terlalu cepat memberikan pujian

  • Sebuah penelitian menunjukkan bahwa terlalu cepat memberikan pujian kepada anak memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan. Anak-anak butuh mengalami bahwa meraih sebuah keberhasilan membutuhkan sebuah proses yang tidak mudah. Anak-anak tidak boleh merasa cepat puas dan terlalu awal menganggap bahwa dirinya hebat. Ketika orangtua terlalu cepat memberikan pujian dan anak-anak kemudian menyadari bahwa yang terjadi sebenarnya tidak demikian, akhirnya mereka akan mengalami disorientasi diri dan ragu-ragu terhadap kemampuannya.

  • Advertisement
  • 4. Orangtua terlalu menuruti kemauan anak

  • Banyak orangtua cenderung berpikir ingin memberikan kepada anak-anak segala hal yang mereka inginkan. Ternyata, cara demikian tidak benar dan dapat menempatkan anak-anak pada situasi sulit di masa yang akan datang. Anak-anak perlu memahami bahwa kesuksesan dan imbalan datang bergantung pada tindakan serta perbuatan-perbuatan yang sudah mereka lakukan. Jadi, orangtua harus bisa tegas mengatakan "tidak" atau "tidak sekarang" dan biarkan anak-anak berusaha memperjuangkan apa yang betul-betul mereka hargai serta butuhkan.

  • 5. Orangtua tidak membagikan pengalaman kesalahan masa lalunya kepada anak

  • Remaja yang sehat secara jasmani dan rohani pasti ingin bisa mengepakkan "sayap" mereka dan mencoba segala sesuatu melalui kemampuan diri sendiri. Sebagai orangtua kita harus bisa membiarkan mereka melakukan hal-hal tersebut. Untuk membantu anak-anak membuat pilihan yang tepat, orangtua tidak perlu takut membagikan kesalahan demi kesalahan yang dulu pernah dilakukan. Bagikan pengalaman-pengalaman tersebut, bagikan bagaimana perasaan Anda dan apa yang mendorong Anda untuk berubah menjadi lebih baik. Sadari bahwa sebagai orangtua kita bukan satu-satunya pengaruh bagi anak-anak, dan oleh karenanya kita harus bisa menjadi pengaruh terbaik untuk mereka.

  • 6. Orangtua salah mengira kecerdasan dan bakat anak cukup untuk menghadapi kedewasaan

  • Kecerdasan seringkali digunakan sebagai ukuran kematangan seorang anak, akibatnya orangtua menganggap anak cerdas sudah siap untuk menghadapi dunia sebenarnya. Bukan itu masalahnya. Beberapa atlet profesional dan bintang Hollywood misalnya, mereka memiliki bakat yang tidak terbayangkan, tetapi nyatanya masih banyak yang terjebak dalam skandal publik. Jadi, hanya karena bakat atau kemampuan yang dimiliki jangan serta merta menganggap hal itu sudah meliputi semua bidang.

  • 7. Orangtua tidak mempraktikkan apa yang telah disampaikan

  • Sebagai orangtua adalah tanggung jawab kita untuk memodelkan kehidupan yang kita ingin agar anak-anak jalani serta membantu mereka menjalani kehidupan yang berkarakter dan menjadi andal serta bertanggung jawab terhadap kata-kata serta tindakan yang mereka lakukan. Sebagai pemimpin di rumah orangtua bisa memulainya dengan selalu mengucapkan kata-kata secara jujur. Pula, perhatikan diri Anda dalam menjaga etika dan perilaku. Tunjukkan pula kepada anak-anak bahwa memberi sesuatu dengan tulus dan tanpa pamrih dapat mendatangkan sukacita dan kegembiraan dalam hidup. Intinya, sebisa mungkin tunjukkan segala teladan baik yang bisa Anda lakukan agar memori anak-anak merekam dan mencatat hal-hal tersebut jauh di dalam lubuk hatinya.

  • Advertisement
Bagikan hasil Anda kepada teman..

Saya seorang guide paruh waktu di Bali, anak kedua dari 5 bersaudara. Saya sangat menyukai alam dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara.

7 sikap orangtua yang tanpa disadari mempengaruhi kepribadian anak menjadi rendah diri

Sadari bahwa sebagai orangtua kita bukan satu-satunya pengaruh bagi anak-anak, dan oleh karenanya kita harus bisa menjadi pengaruh terbaik untuk mereka.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr