Menjadi orangtua yang benar-benar siap ketika tiba waktunya si kecil masuk sekolah

Punya anak adalah tentang menjadi kuat menghadapi setiap fase. Termasuk fase masuk sekolah. Sebab tak semua anak, atau orangtua, cepat merasa siap dengan fase tersebut. Apa saja yang perlu diperhatikan?

422 views   |   2 shares
  • Memiliki anak yang masih kecil, tentunya harus selalu siap dengan berbagai lonjakan fase yang dialami anak. Dan ketika ia telah mencapai usia yang pada umumnya siap memasuki sekolah awal seperti Kelompok Bermain atau sudah saatnya masuk SD, maka, tentunya ada beberapa hal yang wajib diperhatikan.

  • Sudah siapkah ia bersekolah?

  • Faktor-faktor yang berhubungan dengan kesiapan anak bersekolah, menurut sebuah Artikel di jurnal penelitian Family and Sociodemographic Predictors of School Readiness oleh Baker, Cameron, Rim-Kaufman dan Grismer menyatakan salah satunya adalah stimulasi saat di rumah. Penelitian menunjukkan anak yang tinggal di lingkungan rumah dengan stimulasi yang baik, serta diberikan kesempatan oleh pengasuh untuk lebih mengenal komunitas yang lebih besar daripada keluarga memiliki nilai yang lebih baik dalam matematika, membaca dan pengetahuan umum.

  • Kesiapan sekolah

  • Nah, mungkin banyak orang berpikir bahwa hanya anak saja yang harus disiapkan sebelum masuk sekolah. Padahal menurut unicef.org, ada 3 dimensi yang harus ada agar anak siap sekolah, lho:

    1. Anak yang siap (fokus pada bagaimana anak belajar dan perkembangan anak)

    2. Sekolah yang siap (apakah lingkungan sekolah mendukung transisi yang halus untuk anak-anak masuk ke sekolah serta mendukung lingkungan belajar untuk anak)

    3. Keluarga yang siap (apakah perilaku dan keterlibatan orangtua juga pengasuh mendukung pembelajaran dini anak, perkembangan serta transisinya ke sekolah)

  • Nah, apakah ketiganya sudah dipersiapkan dengan baik sedari dini?

  • Namun demikian, rasa cemas tentu dialami oleh anak-anak pada umumnya. Hal ini wajar, kok. Sebab, menurut UNICEF dari tulisan School Readiness and Transition menjelaskan ada beberapa penyebab anak merasa cemas untuk lepas dari orangtua dan memasuki fase masuk sekolah:

  • 1. Kemandirian

  • Kurangnya kesempatan yang diberikan orangtua untuk membuat anak melakukan aktivitas secara mandiri bisa menjadi salah satu penyebab. Anak merasa cemas karena bingung siapa yang bisa dia andalkan untuk mengurus kebutuhannya ketika di sekolah. Sesederhana seperti siapa yang akan mengantarnya ke toilet atau membantunya untuk makan.

  • 2. Aturan sekolah

  • Anak-anak yang tak terbiasa diberikan keteraturan di rumah akan merasa cemas ketika harus sekolah karena di sekolah tentu ada daily schedule yang harus diikuti. Ketika secara mendadak ada aturan yang harus diikuti, timbul kecemasan, perilaku seperti apa yang harus ia tampilkan karena tak terbiasa dengan hal tersebut.

  • Advertisement
  • 3. Kelekatan dengan orangtua

  • Anak yang terbentuk dengan kelekatan insecure akan cenderung sulit masuk ke sekolah baru karena ia merasa tidak aman berada di lingkungan baru. Persepsi mengenai dunia yang terbentuk cenderung negatif dan menakutkan bagi anak (karena di dalam keluarga juga tidak merasa aman) sehingga mereka akan cemas.

  • Tetapi tenang, Elizabeth Pantley telah memberikan cara-cara terbaik dalam bukunya The No-cry Separation Anxiety Solution sebagai tips anti panik menghadapi hari pertama masuk sekolah:

    1. Biarkan anak melakukan observasi terlebih dulu sebelum benar-benar terlibat didalam kelas baru. Beri kesempatan anak mengamati dari sudut kelas untuk melihat bagaimana flow aktivitas berlangsung. Misalnya mengikuti trial class atau diajak keliling sekolah beberapa hari sebelum hari pertama masuk. Anak akan merasa nyaman ketika diberikan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Ketika sudah nyaman, mereka akan lebih mudah untuk membuka diri dengan hal-hal baru di sekitarnya.

    2. Berikan kesempatan kepada anak untuk memiliki kontrol terhadap situasi (agar tumbuh sense of control) menjelang perpisahan misalnya dengan memberikan pilihan sederhana "Baju apa yang hari ini mau kamu pakai ke sekolah, nak?" ketika sense of control tumbuh, maka akan lebih mudah bagi anak untuk moving forward dan melupakan rasa cemasnya.

    3. Beberapa anak akan merasa lebih tenang ketika orangtua memberikan gambaran mengenai hal baru apa yang akan terjadi melalu cara yang tidak langsung. Yakni dengan tidak menjadikan anak sebagai tokoh utama dan mengajak anak melihat dari sudut pandang orang lain. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat sebuah cerita atau membacakan buku cerita mengenai pengalaman masuk sekolah baru, dengan memanfaatkan tokoh atau figur yang jadi favorit anak sebagai tokoh utama. Lakukan beberapa hari dalam 1-2 minggu sebelum anak masuk ke sekolah baru.

  • Satu hal lagi yang penting, yakni: Ingatlah bahwa kematangan sosial-emosional dan kemandirian memiliki peranan yang tak kalah penting dibandingkan dengan kemampuan calistung untuk membantu anak siap bersekolah.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menjadi orangtua yang benar-benar siap ketika tiba waktunya si kecil masuk sekolah

Punya anak adalah tentang menjadi kuat menghadapi setiap fase. Termasuk fase masuk sekolah. Sebab tak semua anak, atau orangtua, cepat merasa siap dengan fase tersebut. Apa saja yang perlu diperhatikan?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr