5 pertanyaan penting bagi warga Jakarta

Hidup di tengah padatnya jumlah penduduk dan jalanan yang tak pernah usai dari kemacetan, membuat kita kerap terpancing amarah, dan tak dapat mengendalikannya. Namun bagaimana jika sebelum marah tiba, tanyakan 5 hal ini pada diri sendiri.
Aug 13, 2017

287 views   |   2 shares
  • Ada kalanya kita merasa "habis-habisan" karena sudah lelah saat menjalani hidup. Apalagi bagi warga Jakarta yang sejak matahari baru saja keluar hingga sudah jauh terbenam pun terus saja berhadapan dengan kemacetan. Membiasakan diri hidup di tengah deru asap, kemarahan, suara bising klakson, udara panas dan pengap.

  • Menjaga mood dan mengendalikan emosi, merupakan sesuatu yang teramat sulit dilakukan di tengah kegilaan kota metropolitan ini. Sayangnya, ketika kita marah, kesal, sedih atau gelisah, kita jarang bisa melakukan hal bijak dan bahkan keputusan yang dibuat pun biasanya bukan yang terbaik.

  • Padahal, dalam pekerjaan atau di tengah kesibukan tugas kuliah, dan bahkan menjadi ibu, kita butuh kemampuan meregulasi emosi agar bisa tetap mengambil keputusan dengan kepala dingin. Karena itu, setiap kali merasa marah, cemas dan dilanda keraguan, coba tanyakan dulu 5 pertanyaan ini kepada diri sendiri.

  • "Apakah hal ini ada manfaatnya?"

  • Ingatlah; Anda bukan pikiran Anda. Seorang Neurosaintis, Alex Korb mengatakan bahwa otak kita memang bertugas untuk memproduksi pemikiran-pemikiran. Namun tidak berarti semua yang terlintas di kepala adalah "kita", dan harus dituruti.

  • Masalah besar yang dialami banyak orang memang terkait mengendalikan pikiran. Masa iya, jika terlintas pikiran negatif seperti "Aku memang pemarah, dan akan selalu begitu." Harus dituruti? Karenanya penting untuk mempertanyakan "Apakah ini bermanfaat?"

  • "Benarkah dunia berutang pada saya?"

  • Kita kerap kali merasa berhak untuk marah, apalagi ketika realita berbenturan dengan harapan. Macet, misalnya. Apakah bisa dibenarkan jika kita merasa "Seharusnya saya tidak perlu merasakan macet. Dunia berutang pada saya!" masuk akal? Tidak.

  • Psikolog terkenal, Albert Ellis menyatakan perang pada kata-kata "Harus" atau "Seharusnya". Sebab, acapkali kita menggunakan kata tersebut, biasanya berawal dari ketidakbahagiaan yang berujung pada seluruh dunia harus mengikuti mau kita. Karena itu, tanyakanlah pada diri sendiri "Benarkah dunia berutang pada saya?"

  • "Haruskah saya memiliki hal ini agar bahagia?"

  • Ingatlah bahwa ada begitu banyak orang yang tak seberuntung Anda. Jika kebahagiaan Anda hanyalah mengenai uang, maka setiap manusia di dunia adalah orang miskin. Orang cacat, orang yang sedang kehilangan, bahkan orang yang sedang mengalami bad hair day; tetap bisa menjalani hidup bahagia.

  • Jadi, misalnya Anda gagal mendapatkan promosi di kantor, lalu merasa "Karier adalah penentu kebahagiaan saya!" iya, karier memang penting. Namun mendapatkan promosi, di saat ini, benarkah ia penentu utama kebahagiaan dalam hidup Anda. Tentu tidak. Masih ada banyak hal yang bisa membuat hati bahagia.

  • Advertisement
  • "Sudahkah saya menjadi orang yang saya inginkan?"

  • Neurosaintis John Yates menjelaskan: banyak komponen yang menjadikan Anda adalah "Anda". namun hal ini memberikan tantangan baru, sebab artinya Anda harus memutuskan akan menjadi siapakah Anda hari ini?

  • Jadi sudahkah Anda menjadi orang yang Anda inginkan? Caranya mudah. Jadilah Anda, ketika sedang mengalami hari terbaik. Jadilah sosok yang Anda rasa paling membanggakan, sepanjang hidup. Sebab hal ini akan membuat Anda bahagia. Menunjukkan rasa senang, akan menular di lingkungan sekitar.

  • "Pernahkah saya merasakan hal itu?"

  • Apa pun yang sedang dilalui orang lain, besar kemungkinan pernah juga Anda alami. Berempatilah. Jadilah orang yang toleran kepada orang lain.

  • Dari buku 100 Simple Secrets of Great Relationships; orang-orang yang berhasil menempatkan diri pada perasaan pasangannya, akan lebih jarang mengalami cekcok dalam hubungan percintaan.

  • **

  • Setelah mempertanyakan 5 hal tadi, patut diingat bahwa meregulasi emosi bukan sekadar menenangkan pikiran. Regulasi emosi adalah mengenai ketabahan; mencoba lagi setelah diserang badai perasaan negatif.

  • Kita semua pasti akan merasa disakiti, dan merasa kesal juga setiap saat. Tapi itulah hidup, dan tak ada langkah untuk menghindarinya. Jadi daripada berusaha berkelit atau melawan, lebih baik berikan yang terbaik yang Anda miliki, bagi orang-orang tersayang.

  • Ketika hidup terasa berat, dan lelah tak tertahankan, berikan rasa sayang yang masih tersisa kepada orang-orang paling berharga dalam hidup Anda. Katakanlah bahwa Anda menyayanginya, berikan perhatian kecil, tunjukkan lebih dulu perasaan cinta Anda.

  • Memberi justru mengaliri kehangatan, dan membuat hidup Anda kembali bersinar.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

5 pertanyaan penting bagi warga Jakarta

Hidup di tengah padatnya jumlah penduduk dan jalanan yang tak pernah usai dari kemacetan, membuat kita kerap terpancing amarah, dan tak dapat mengendalikannya. Namun bagaimana jika sebelum marah tiba, tanyakan 5 hal ini pada diri sendiri.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr