Bagaimana Mengatasi Kanker Bersama-sama

Saya merasa tidak berdaya untuk menolong ketika melihat suami saya terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan mesin-mesin monitor yang terhubung di badannya. Apa yang dapat saya lakukan untuk menolongnya melalui semua ini?

532 views   |   shares
  • Saya merasa tidak berdaya untuk menolong ketika melihat suami saya terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan mesin-mesin monitor yang terhubung di badannya. Apa yang dapat saya lakukan untuk menolongnya melalui semua ini? Bagaimana saya dapat melalui semua ini? Pemandangan dan bau ruangan rumah sakit sangat menyakitkan. Saya cukup sering berada di rumah sakit selama hidup saya namun ini terlalu melelahkan.

  • Biasanya, saya yang berada di rumah sakit. Suami saya berada bersama saya ketika saya melahirkan anak-anak kami dan melalui berbagai krisis medis yang saya alami. Dia adalah orang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan, sekarang malah sebaliknya, justru dialah yang harus berjuang mempertahankan hidupnya! Kami akan melalui semua ini, dan kami akan menjalaninya bersama-sama.

  • Sebelumnya saya adalah orang yang tidak suka menggunakan huruf “K” ketika berbicara mengenai kanker. Kanker sama saja dengan hukuman mati. Ketika putri tertua kami didiagnosis mengidap Leukemia (kanker darah) pada usia 3 tahun, dokter mengatakan bahwa dia memiliki 80% kesempatan untuk bertahan, dan itu cuma karena dia masih sangat muda. Dua puluh tahun kemudian, ketika suami saya divonis mengidap kanker kolon, tidak ada pembicaraan mengenai seberapa besar kesempatan hidupnya selain proses pengangkatan tumornya, kemoterapi bila perlu, lalu kehidupan berlanjut.

  • Kartu-kartu ucapan, surat-surat, serta hadiah tercurah dari keluarga dan para sahabat. Ketika semua itu datang satu per satu, saya duduk bersama suami saya dan membacakan tentang kasih, perhatian, serta doa-doa dari mereka untuknya. Kami menangis bersama ketika kami merasakan kasih dari orang-orang yang baik ini. Saya menyimpan kartu ucapan serta surat-surat tersebut dalam sebuah map. Di kemudian hari, saat keputusasaan datang sewaktu menjalani kemoterapi, membaca kembali surat-surat tersebut mendatangkan penghiburan.

  • Begitu banyak pertanyaan muncul dalam hati. Bagaimana kalau dia tidak dapat bertahan? Apa yang akan terjadi dengan keluarga kami? Bagaimana kalau dia lumpuh? Bagaimana kami akan mengurusnya? Bagaimana dengan biaya perawatan, apakah perawatannya dapat dilakukan di tempat yang dekat dari rumah? Berapa lama dia akan berada di rumah sakit? Apa yang akan terjadi ketika dia pulang ke rumah? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu datang secara perlahan-lahan.

  • Kami memiliki tiga anak remaja yang masih sekolah. Untuk tetap berada bersama suami saya, kami memerlukan seseorang untuk mengurus kebutuhan anak-anak kami. Para sahabat dan kerabat memberikan bantuan secara rutin sehingga memungkinkan saya untuk tetap dekat dengan suami saya. Hari berganti hari perlahan-lahan tubuh suami saya kembali dapat berfungsi normal.

  • Advertisement
  • Setelah perawatan, suami saya merasa lebih bugar. Tumornya sudah hilang dan dia mulai memperoleh kekuatannya kembali. Meskipun demikian, tes patologi mengindikasikan bahwa risiko masih akan ada, dia masih harus menjalani kemoterapi. Sebisa mungkin kami pergi bersama-sama. Saat berada di ruang tunggu, saling bergenggaman tangan saja sudah merupakan suatu penghiburan serta hal yang mendatangkan kedamaian bagi kami. Kami tahu bahwa apapun yang terjadi, kami selalu ada untuk satu sama lain. Setiap kali tes dilakukan, kami mendengarkan hasilnya bersama-sama.

  • Kemoterapi memiliki efek samping, rasa mual, letih, serta rasa jenuh merupakan pengalaman yang sulit bagi kami berdua. Melihat suami saya yang biasanya kuat, sehat, lalu terbaring di tempat tidur tanpa bisa melakukan apa-apa, sangatlah berat buat saya dan anak-anak. Sewaktu kami menyatukan upaya kami untuk mengurus suami dan ayah, kami dapat memperoleh kekuatan dari satu sama lain, serta dari keyakinan yang kami miliki bahwa kesembuhan itu akan datang.

  • Orang-orang mengatakan bahwa ketika seseorang mengidap kanker, kemungkinan munculnya kembali kanker itu akan selalu ada. Kami tidak memikirkan hal itu sekarang ini. Kami hanya bersyukur bahwa dia hidup dan sehat. Kasih sayang di antara kami semakin kuat daripada sebelumnya, karena kami menghadapi cobaan ini bersama-sama.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Indah Wajarsari dari artikel asli “How to survive cancer together” karya Denise Anderson.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Denise is a published author, with an Education Specialist Degree in School Psychology. Additional writings are found at http://denise-w-anderson.hubpages.com. For more information.

Bagaimana Mengatasi Kanker Bersama-sama

Saya merasa tidak berdaya untuk menolong ketika melihat suami saya terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan mesin-mesin monitor yang terhubung di badannya. Apa yang dapat saya lakukan untuk menolongnya melalui semua ini?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr