Yuk arahkan si kecil terhadap minat menulisnya

Arahkan si kecil mendalami minatnya dengan cara yang menyenangkan

186 views   |   1 shares
  • Beban menjadi orangtua tak hanya tuntutan harus selalu ada untuk anak, namun juga beban dari omongan orang lain, benar? Kadang ada rasa "menjadi orangtua yang gagal" saat anak ditanya kemampuannya, namun belum bisa. Atau mendengar cerita kehebatan anak lain dari orangtuanya sementara anak kita belum bisa, juga biasanya menjadi beban.

  • Hal ini sebetulnya bisa menjadi motivasi yang baik, namun bisa juga menghancurkan hubungan orangtua-anak dengan sekejap. Iya, jika kita membebani anak dengan beban yang kita terima dari terlalu banyak mendengarkan kritik orang lain. Salah satunya perihal baca tulis. Duh, ini nih, hangat sekali topiknya di kalangan orangtua dengan anak yang baru saja melewati masa balita.

  • "Adik sudah bisa baca tulis belum?" pertanyaan sekilas itu saja bisa terdengar menggelegar di telinga ibu yang anaknya belum bisa. Percayalah! Haruskah demikian? Tidak dong. Tugas orangtua adalah menuntun, bukan menuntut. Jika anak memang belum berminat, tidak perlu dipaksa, karena setiap anak berbeda masa pekanya.

  • Nah, lain lagi jika memang anak sudah berminat dan minta diajari. Ini dia saatnya kita, sebagai orangtua, untuk belajar. Iya, belajar cara mengajari si kecil baca tulis. Sebab ternyata, cara yang umum diajarkan kepada kita dulu tidak cukup efektif.

  • Cari topik yang berkaitan dengan kehidupan langsung

  • Bermula dari keresahan yang selalu sama; ada jembatan yang hilang di antara konsep dan praktik langsung di kelas. Padahal, hasil dari keseluruhan pelatihan ini bermuara pada satu hal, yakni: pemahaman. Ya, anak seringkali menganggap baca tulis merupakan kegiatan yang tidak menyenangkan.

  • Karena kerap diajarkan dengan "paksaan" dan cara yang tidak terkait dengan kehidupan langsung. Lho, iya kan misalnya siapa yang tidak kenal sama "ibu budi"? kita semua pasti kenal kan "INI IBU BUDI" nah, yang seperti ini kan tidak menarik ya?

  • Buat apa sih anak belajar ini ibu Budi? Padahal tidak berkaitan dengan kehidupannya langsung. Lebih baik juga diubah menjadi "Ini mata ADI (namanya si anak)" atau "Kaki untuk jalan" dan sebagainya.

  • Nah ini juga yang akhirnya dijelaskan sebagai indikasi anak masuk SD. Kan, seringkali baca tulis menjadi syarat masuk sekolah. Padahal, sebetulnya, anak itu bisa saja baca tulis namun sebetulnya tidak mengerti makna tulisan atau bacaannya. Dia bisa saja menulis "ADI" tanpa mengetahui bahwa itu adalah dirinya, namanya. Sayang sekali, ya?

  • Batasi gadget

  • Ini belum lagi ditambah kehadiran si gadget yang membuat anak-anak tidak menghargai proses. Eh, apa sih artinya? Iya, jadi dengan kehadiran gadget yang sangat praktis dan tidak membutuhkan keterampilan motorik, anak-anak jadi malas melihat buku yang harus dibuka perlahan, dibaca, diperhatikan baik-baik gambar dan tulisannya karena tidak bergerak.

  • Advertisement
  • Berikan langkah-langkah kecil

  • Inilah yang membuat anak jadi tidak suka baca tulis, karena sebetulnya baca tulis bukan melulu kegiatan membaca dan menulis semata. Namun melewati banyak sekali tahapan dan proses untuk sampai ke sana. Anak menulis itu setelah melewati banyak tahapan koordinasi; jari, tangan, pergelangan, mata, tangan kanan dan kiri, serta otak. Persiapan menulis itu bahkan melewati juga tahap makan sendiri, menuang, meronce, meremas, memakai baju dan sepatu sendiri, juga merobek. Jadi bukan diajarkan instan, terburu-buru apalagi sambil dimarahi.

  • Menurut psikolog Tara Delaney, yang menulis The SPD Answer Book, beberapa langkah kecil latihan pre-writing skill yang bisa dilakukan di rumah antara lain:

    1. Tempelkan kertas karton besar di dinding, buatlah gambar berupa titik-titik dan minta anak sambungkan titik-titik tersebut. Lakukan dari kiri ke kanan, dan atas ke bawah

    2. Gambar huruf atau bentuk di punggung anak dengan jari, dan ajak anak tebak apa itu

    3. Menggambar atau membentuk huruf dengan beras, shaving cream atau adonan kue

    4. Gunakan kapur besar untuk menggambar huruf di jalan, lalu minta anak berjalan membentuk huruf tersebut

  • Kegiatan bermakna

  • Akan lebih baik jika, baca tulis diperkenalkan lewat kegiatan yang bermakna dengan dongeng, buku imajinatif, mengajak ngobrol dan sebagainya. Memberikan tempat corat-coret dirumah juga seru, lho. Sediakan spidol warna-warni agar lebih semarak.

  • Atau ajak anak bermain bentuk benda. Misalnya O itu bentuknya seperti bola, S seperti cacing, atau B seperti perut buncit. Dengan begini, anak dapat lebih mudah mengingat bentuk abjad.

  • Jadi, lembar kerja yang berlebihan dan belajar tanpa makna, kita tinggalkan sajalah di masa lalu ya. Oh ya, sambil ingat dong...orangtuanya juga jangan malas belajar dan rajin membaca. Ya kan? Masa anaknya saja yang harus belajar?

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Yuk arahkan si kecil terhadap minat menulisnya

Arahkan si kecil mendalami minatnya dengan cara yang menyenangkan
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr