Awas! 'Social climber' ternyata termasuk dalam masalah kejiwaan

Karakter dan perilaku yang kerap menyakiti orang lain, termasuk tendensi melanggar hukum dan norma, menjadikan 'social climber' sebagai masalah kejiwaan yang perlu segera ditangani.
Jun 25, 2017

678 views   |   5 shares
  • Sebagai salah satu jenis orang yang sebaiknya Anda hindari, social climbermenunjukkan berbagai perilaku yang menggelisahkan dan berpotensi menghadirkan konflik dalam hubungan sosial Anda. Ketidakmampuan mereka bergaul sesuai etika, norma, dan seringkali menyakiti perasaan orang lain dalam prosesnya, mendatangkan sebuah pemikiran bahwa social climber adalah sebuah masalah psikologis.

  • Simak saja empat jenis social climbers menurut Psychology Today yang sangat mungkin Anda temui dalam kehidupan ini.

  • 1. Pengincar tahta

  • Berada dalam kasta tertinggi adalah tujuan hidup mereka, bagaimanapun caranya. Mencari jalan untuk menuju puncak, dengan menegaskan posisi mereka sebagai queen bee atau si primadona yang tak terkalahkan. Sayangnya, berada di puncak ternyata tidak serta merta membuat mereka puas. Iri hati, cemburu, dan keserakahan membuat kelompok ini tidak pernah puas serta jarang bersyukur dengan apa yang mereka miliki.

  • 2. Penusuk dari belakang

  • Ambisius dan tak segan bermain kotor, inilah kelompok yang haus akan kekuasaan. Mereka memicingkan mata, berusaha menemukan celah untuk menjatuhkan kompetitor, dengan segala cara. Ditambah sifat manipulatif yang akan menghindarkan mereka dari sorotan dan tuduhan "penjahat". Jangan heran, mereka tak malu untuk mengakui kerja keras orang lain sebagai karya mereka, demi mendapatkan predikat terbaik.

  • 3. Penjilat bermuka dua

  • Dalam kisah fiksi, seringkali ada tokoh rendahan yang menjadi kaki tangan si penjahat utama. Karakternya selalu sama, gemar "menjilat" dan bermuka dua. Mereka menghamba kepada sang penguasa yang keji dan menutup mata serta telinga akan peringatan orang lain. Tak masalah bagi mereka merendahkan diri dan mengorbankan orang lain, demi kejayaan sang majikan. Harapannya, ketika "atasan" mereka sukses, maka mereka juga akan turut terangkat dan mencicipi keberhasilan tersebut.

  • 4. Mata duitan

  • Materi adalah segalanya dan tolak ukur berbagai aspek kehidupan. Kelompok ini begitu mengagungkan harta, kekayaan, dan hingar bingar duniawi. Sifat materialistik ini mengaburkan pertimbangan mereka dalam mengambil keputusan-keputusan hidup yang penting. Tak jarang, mereka berani mengorbankan harga diri bahkan berani melanggar hukum demi mendapatkan hidup bergelimang harta yang didambakan.

  • Advertisement
  • Karakter-karakter dan perilaku yang ditampilan oleh kaum social climber menunjukkan gejala kelainan jiwa yang meresahkan. Setidaknya, ada dua kelainan jiwa utama yang umumnya ditunjukkan, yaitu :

  • 1. Narsistik

  • Kepribadian ini percaya bahwa dirinya selalu lebih atau di atas orang lain. Dengan kepercayaan diri yang rapuh, mereka sangat mencari pengakuan dari orang lain. Apabila orang-orang mengabaikan atau tidak memberikan pengakuan yang diinginkan, mereka akan merasa sangat kecewa, hingga berani membenci kesuksesan orang lain. Sangat self-centered, kepribadian narsistik akan mengutamakan kepentingan pribadinya di atas orang lain, dan memaksa Anda untuk mengesampingkan kepentingan Anda demi mereka. Sangat penuntut dan egois, mereka berani memanfaatkan orang lain demi keuntungan dan kebahagiaan mereka pribadi.

  • 2. Histrionik

  • Kelainan kepribadian ini sangat intens dalam mencari perhatian dan sangat emosional. Mereka menginginkan menjadi pusat perhatian dan akan gelisah saat lampu sorot tidak menyinari mereka. Pribadi histrionik sulit menjalin komitmen dan hubungan yang akrab dengan orang lain. Mereka berani memanfaatkan diri untuk merayu, memprovokasi, dan memanipulasi orang lain demi meraih perhatian mereka. Hidup penuh drama, reaksi emosional berlebihan, dan tidak teguh pendirian sehingga mudah terpengaruh oleh bisikan orang lain, menandakan ketidakstabilan emosi serta tiadanya kedewasaan.

  • Dalam taraf mencemaskan, banyak social climber yang berani melakukan hal-hal yang melanggar norma dan hukum. Sebut saja, bersedia menjadi simpanan dari pria atau wanita yang telah menikah demi mendapatkan materi berlimpah, menjalani profesi yang tidak senonoh seperti wanita atau pria panggilan, dan melakukan tindak kejahatan, seperti perampokan yang dilakukan oleh geng Bling Ring serta kasus penipuan Roxy Traveloleh Marieta Safitri.

  • Advertisement
  • Apabila orang yang dekat dengan Anda terbukti menjalani hidup sebagai social climber, maka segera bawa dirinya mendapatkan penanganan psikologis. Masuklah perlahan dalam kehidupannya dan menjauhkan dirinya sedikit demi sedikit dari pengaruh-pengaruh negatif lingkaran sosial sesama social climber. Sebelum ia menimbulkan lebih banyak "kerusakan" pada dirinya sendiri dan orang lain, berilah uluran tangan padanya untuk keluar dari jaring mematikan ini.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Awas! 'Social climber' ternyata termasuk dalam masalah kejiwaan

Karakter dan perilaku yang kerap menyakiti orang lain, termasuk tendensi melanggar hukum dan norma, menjadikan 'social climber' sebagai masalah kejiwaan yang perlu segera ditangani.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr