Apa itu 'social climber'? Jangan sampai Anda termasuk salah satu di antaranya.

Racun dalam kehidupan sosial Anda, 'social climber' menghadirkan potensi konflik dalam pergaulan. Apa saja ciri-ciri kaum pengejar harta dan popularitas ini?
Jun 27, 2017

405 views   |   7 shares
  • Konsumerisme yang melanda dunia menghadirkan sebuah fenomena berupa tipe makhluk sosial yang satu ini. Social climber, demikian nama yang disematkan kepada kalangan yang memiliki prioritas dan cara tersendiri dalam bergaul. Tak hanya di kota-kota besar, Anda dapat menemukan kelompok ini di kota kecil hingga ke pelosok daerah. Godaan untuk menjadi kaya-raya, terpandang, dan populer menjadikan motivasi utama kalangan ini untuk "bersinar" dengan cara-cara yang kerap melanggar norma.

  • Bagaimana membedakan social climber dari manusia-manusia di sekitar Anda? Berikut 7 ciri-ciri social climber yang perlu Anda waspadai.

  • 1. Status adalah segalanya

  • Menduduki kasta teratas dalam tingkat sosial menjadi tujuan hidup social climber. Imbasnya, segala yang mereka lakukan berpatokan pada sejauh mana akan membawa diri menjadi terkenal dan dipandang "wow" oleh orang lain. Ciri termudah, cek saja akun media sosial mereka. Dipastikan posting utama adalah memperlihatkan secara nyata bahwa mereka adalah kaum berada, selalu bersinar tanpa cela, dan sempurna bak dewa dewi khayangan.

  • 2. Bergaya hidup 'wah'

  • Tidak memakai barang bermerek elit adalah sebuah tindakan hina bagi social climber. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, tak berkelas jika harganya tidak menembus ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Pantang bagi mereka untuk menggunakan barang merek semenjana, makan di pinggir jalan, atau tampil polos tanpa riasan. Ada atau tidak dana yang diperlukan untuk menghadirkan sederet kemewahan, itu soal lain lagi. Pencitraan sosialita sudah barang tentu lebih dikedepankan, bagaimanapun caranya.

  • 3. Sulit berempati

  • Sebagai manusia yang self-centered, bagi para social climber, dunia berputar hanya pada diri mereka. Aku, aku, dan aku. Pintu hati seakan tertutup untuk empati dan kepedulian sosial yang tulus. Buat apa memikirkan orang lain jika tidak menghadirkan keuntungan bagi diriku, begitulah kiranya yang tersimpan di benak para pendaki popularitas ini. Para social climber bukanlah teman sejati yang dapat Anda andalkan. Mereka dengan mudah dan tanpa ragu akan mengorbankan Anda begitu saja, begitu berpikir Anda tidak mendatangkan keuntungan bagi mereka.

  • Advertisement
  • 4. Selalu ada 'udang di balik batu'

  • Segala sesuatu yang dikerjakan harus ada tujuan yang selaras : demi kehidupan yang bergelimang harta dan status tertinggi. Prioritas yang terlalu diagungkan ini membuat kaum social climber begitu jauh dari sifat membumi dan apa adanya. Selalu ada agenda tersembunyi di balik tindakan mereka. Entah untuk "menjilat", bermuka dua, "menusuk" dari belakang, guna menyingkirkan para "pengganggu" yang menghalangi niat mereka untuk menjadi yang terbaik.

  • 5. Hidup di balik bayang-bayang

  • Kehilangan jati diri jelas terjadi pada kaum social climber. Mereka tak berani hidup mandiri dan berjalan sendiri. Harus ada seseorang yang berkuasa di balik mereka. Jangan heran, jika mereka dengan entengnya sering mengaitkan diri dengan tokoh-tokoh terpandang atau berpengaruh. Tujuannya, untuk mendapatkan simpati dan kekaguman dari orang lain. Apakah benar atau tidak hubungan tersebut, itu soal belakangan. Yang penting, respek dari orang lain telah digenggam untuk bertingkah semakin jumawa di hadapan mereka.

  • 6. Persaingan dangkal

  • Ambisi yang menggebu untuk meraih kasta tertinggi tak pelak membuat social climbers gelap mata. Mereka tak segan untuk mencemooh, menyikut, dan menghalalkan segala cara untuk berkompetisi. Persaingan pun terjadi pada area yang menunjukkan "kedangkalan" berpikir, misalnya saling menunjukkan kemampuan membeli gadgetterbaru, siapa yang bisa pergi traveling semewah mungkin, atau bahkan adu kecantikan superfisial dengan operasi plastik. Semua berputar pada kenikmatan duniawi, tanpa mencari makna mendalam mengenai hidup yang tentu saja jauh lebih penting daripada kompetisi konyol ini.

  • 7. Bersembunyi di balik identitas asli

  • Topeng kesempurnaan yang dikenakan social climber mengharuskan mereka untuk menyimpan rapat-rapat identitas asli mereka. Apalagi bagi mereka yang datang dari latar belakang keluarga tak mampu atau lingkungan yang jauh dari glamor. Aib-aib masa lalu wajib dikubur dalam-dalam. Tak ada ruang untuk setitik cela, apalagi mengakui kekurangan diri sendiri.

  • Memiliki social climber dalam lingkaran pertemanan sebenarnya akan menebarkan "racun" dalam kehidupan Anda. Bijaknya, batasi interaksi Anda dengan mereka, sekadar untuk memenuhi norma kesopanan. Anda perlu berkepala dingin dalam menghadapi mereka. Gunakan selalu logika dan hati kala memberikan reaksi atas perlakuan mereka. Jauhi kemungkinan untuk berkonflik dan jikalau terjadi permasalahan, selesaikan dengan setegas mungkin. Dengan iman dan prinsip hidup yang kuat, niscaya Anda akan teguh berpendirian dan tidak mudah terbawa arus menjadi bagian dari kaum social climbers yang mencemaskan ini.

  • Advertisement
Bagikan hasil Anda kepada teman..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Apa itu 'social climber'? Jangan sampai Anda termasuk salah satu di antaranya.

Racun dalam kehidupan sosial Anda, 'social climber' menghadirkan potensi konflik dalam pergaulan. Apa saja ciri-ciri kaum pengejar harta dan popularitas ini?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr