Emosi seringkali diuji dan tidak peduli waktu, terlebih ketika berpuasa. Bagaimana mengendalikannya?

Dinginkan kepala dan hati yang panas membara, supaya puasa meraih lebih banyak pahala.
Jun 21, 2017

211 views   |   shares
  • Puasa tahun ini saya merasa menghadapi banyak tantangan. Yang terbesar, datang dari kedua anak saya. Di masa balita yang sedang aktif-aktifnya, mereka tidak hanya menguras energi saya kala mendampingi bermain. Kesabaran saya pun diuji bertubi-tubi menghadapi tingkah polah dua bocah laki-laki kesayangan saya ini. Apakah Anda mengalami tantangan yang serupa dengan saya?

  • Siapapun Anda, ibu rumah tangga, wirausaha, atau bekerja di kantor, tantangan untuk selalu berkepala dingin dan berbesar hati selalu datang dari sisi manapun. Tuntutan tenggat waktu, rekan yang menyebalkan, atau hambatan yang tahu-tahu datang tanpa diminta.

  • Puasa, pada dasarnya tidak hanya menahan lapar dan dahaga belaka. Puasa adalah latihan pengendalian diri dan upaya mendekatkan diri kepada Ilahi. Supaya puasa Ramadan Anda tidak ternoda oleh emosi yang meletup-letup tak disangka, cobalah 5 langkah ini untuk mendinginkan hati yang sedang panas membara.

  • 1. Beri waktu untuk bereaksi

  • Reaksi impulsif kerap diberikan ketika Anda sedang "panas". Penyesalan di akhir adalah yang malah Anda rasakan. Ketika bertemu dengan pencetus terbakarnya emosi, tahan dulu reaksi Anda. Berdiamlah selama 1-2 menit untuk berpikir tentang kata-kata yang akan Anda lontarkan atau tindakann yang Anda berikan. Apakah berguna? Apakah akan menyakiti Anda atau orang lain? Apakah sesuai norma? Alternatif lain, buka telinga Anda. Mendengarlah lebih banyak. Dengan mendengar, Anda turut membuka kesempatan untuk berempati. Selama Anda terdiam dan berfokus kepada suara orang lain pun Anda akan berpikir lebih dalam serta tenang.

  • 2. Memilah prioritas

  • Tugas yang terlalu bertumpuk dalam waktu yang begitu sempit. Tekanan seperti ini adalah ketel mendidih yang siap menyemburkan air panas membara dalam hari Anda. Tak ada cara lain, Anda perlu menentukan prioritas. Terutama, kala Anda tahu bahwa menyenangkan semua pihak dan meraih kesempurnaan adalah sebuah kemustahilan. Dahulukan tugas atau pekerjaan yang banr-benar diharapkan atau diperlukan pada hari itu. Atur energi Anda untuk mengerjakan sesuai kemampuan, jangan ragu untuk meminta bantuan jika perlu. Adakalanya pula Anda perlu menolak atau berkata "tidak" pada tugas-tugas mendadak yang malah mengganggu tanggung jawab Anda yang belum terselesaikan.

  • 3. Salurkan emosi melalui kegiatan produktif

  • Advertisement
  • Carilah kegiatan-kegiatan yang dapat meredam atau mengalihkan Anda dari luapan emosi yang meledak-ledak. Berolahraga dapat menyalurkan energi Anda menjadi gerakan yang menyehatkan. Teknik pernapasan dalam yoga membantu Anda menenangkan diri menjadi jiwa yang selaras. Dengarkan musik yang menenangkan, untuk meredam debaran jantung yang terlampau cepat. Sebagai pamungkas, kembali kepada Sang Pencipta dengan berdoa dan menunaikan ibadah adalah cara yang tak pernah salah.

  • 4. Ganti keluhan dengan rasa syukur

  • Ketika Anda dikuasai emosi negatif, Anda akan lebih banyak mengeluh. Anda melupakan hal-hal kecil yang mendatangkan kebahagiaan. Semua hal terlihat salah, bak ekspektasi yang tak tercapai secara memuaskan. Cara menggerus emosi negatif yang terbaik adalah menggantikannya dengan hal positif, melalui panjatan rasa syukur. Carilah hikmah di balik masalah. Peka dan fokus terhadap hal-hal kecil yang mendatangkan kebahagiaan, meskipun kelihatannya sepele atau konyol. Kala Anda dapat bersyukur, optimisme dan prasangka baik akan datang dengan sendirinya. Anda sadar bahwa akan ada ending terbaik dari Tuhan untuk semua hamba-Nya.

  • 5. Merelakan dan memaafkan

  • Terkadang, pemicu-pemicu emosi negatif tidak dapat kita hindari. Semakin keras kita memberikan reaksi, semakin besar kerusakan yang nantinya ditimbulkan. Let it go. Buka hati untuk ikhlas menerima, merelakan, dan memaafkan. Banyak orang yang merasa gengsi untuk memaafkan karena merasa sebagai pihak yang "kalah". Nyatanya, mengalah tidak berarti kalah. Dengan merelakan diri menerima situasi untuk sementara waktu, kita dapat menemukan perspektif baru untuk keluar dari masalah.

  • Kualitas puasa Ramadan tidak hanya ditentukan oleh hubungan yang kita bangun dengan Tuhan. Hubungan yang baik dengan sesama juga akan menambah nilai puasa kita sebagai perwujudan cara kita hidup dan meraih amal kebaikan di dunia.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Emosi seringkali diuji dan tidak peduli waktu, terlebih ketika berpuasa. Bagaimana mengendalikannya?

Dinginkan kepala dan hati yang panas membara, supaya puasa meraih lebih banyak pahala.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr