Suami tidak menunjukkan tanda-tanda ingin segera memiliki momongan. Saya harus bagaimana?

Baginya, bayi yang lucu adalah batu sandungan bagi hidupnya. Memiliki anak bak memenjarakannya dalam kehidupan penuh belenggu.

545 views   |   shares
  • Impian banyak wanita adalah menikah dan memiliki momongan yang lucu nan menggemaskan. Hati seakan meleleh melihat parade bayi lucu atau kebahagiaan kawan yang sedang mengandung. Sayangnya, tidak semua laki-laki mendambakan hal yang sama.

  • Aneka alasan dikemukakan oleh para pria tentang mengapa mereka tidak tertarik untuk memiliki momongan, di antaranya:

  • 1. Kestabilan finansial

  • Dengan pasangan suami istri bekerja tanpa anak (Dual Income No Kids - DINK), rumah tangga tidak "dirongrong" oleh berbagai tetek bengek keperluan anak. Mulai dari tiadanya anggaran membeli popok, hingga persiapan biaya pendidikan yang harganya kian melangit. Tempat tinggal pun, cukup di sebuah apartemen pusat kota yang cukup dihuni Anda dan pasangan.

  • 2. Kebebasan

  • Memiliki anak dipandang sebagian pria sebagai pembelenggu. Tidak lagi bebas menjalankan hobi, berfoya-foya, dan berwisata sesuka hati. Waktu akhir pekan sudah barang tentu dihabiskan bersama anak-anak yang haus perhatian. Malam hari pun, belum tentu bisa tidur nyenyak jika ada anak yang rewel minta ditemani.

  • 3. Kemulusan karier

  • Tanpa anak, Anda dapat menancapkan fokus kepada pencapaian karier Anda. Tidak ada cuti mendadak untuk mengantarkan anak ke dokter, mengambil rapor akhir tahun ajaran, dan bisa berdinas lama tanpa rengekan "Papa cepat pulang" yang memekakkan telinga.

  • Namun, sebuah kenyataan yang menampar adalah keputusan untuk memiliki anak perlu diambil sesegera mungkin. Ada "tanggal kadaluarsa" yang mengintai kesuburan wanita dan usia turut berpengaruh terhadap kualitas "bibit" atau sperma pria. Pria yang memiliki keteguhan untuk menolak memiliki keturunan, biasanya akan bersikukuh terhadap keputusannya. Mereka tak mudah tergoyahkan oleh kelucuan bayi dari sahabat yang baru lahir atau tawa ceria anak-anak yang Anda temui ketika duduk-duduk di taman.

  • Pria dengan penolakan seperti ini, bukanlah seorang penjahat atau gunung es yang patut dicerca. Tak selalu pula, mereka berasal dari keluarga berantakan atau broken home, yang terbawa traumamasa kecil karena melihat percekcokan orang tua sewaktu kecil. Mereka bisa saja tumbuh dari keluarga harmonis dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Hanya saja, muncul alasan-alasan penolakan untuk memiliki keturunan, bisa jadi karena idealisme yang mereka pegang untuk mencapai kesempurnaan pribadi maupun keinginan mereka untuk menikmati pernikahan berdua saja dengan Anda.

  • Advertisement
  • Apa yang bisa Anda lakukan, sementara Anda memiliki hasrat sebaliknya, menjadi seorang ibu yang siap mengarungi petualangan motherhood dengan segala dramanya?

  • Pertama, bicaralah hati ke hati dengan suami

  • Dengarkan baik-baik semua alasan di balik keputusannya. Galilah masalah terpendam di balik masa lalunya. Apakah latar belakang keputusannya tersebut dapat Anda terima? Atau Anda menilai alasannya terlalu dibuat-buat?

  • Apabila ternyata Anda mengalami kendala komunikasi dengan suami atau ada unresolved issues berupa trauma yang menghantui salah satu atau Anda berdua, segeralah mencari bantuan ahli. Buatlah janji temu dengan konselor pernikahan atau psikolog, ungkapkan apa yang mengganjal dalam hati dan pikiran Anda. Akan lebih baik jika Anda tidak melibatkan orang-orang terdeket, seperti keluarga dan sahabat dalam masalah ini. Keterlibatan mereka umumnya memercikkan opini subyektif dan bisa berkembang menjadi sebuah penghakiman, yang nantinya malah menimbulkan masalah baru.

  • Kedua, tawarkan kepada suami untuk sama-sama menyelami plus-minus dari pilihan Anda masing-masing. Rekalah sebuah skenario dan lakukan perhitungan, apa yang terjadi jika Anda memiliki momongan dan sebaliknya. Manakah di antara skenario tersebut yang paling memungkinkan untuk Anda jalani pada tahun ini, 3 tahun ke depan, dan 5 tahun ke depan. Pertimbangkan juga faktor-faktor luar seperti campur tangan keluarga dan perkembangan di masyarakat. Buatlah semacam game and action plan mengenai apa yang Anda berdua lakukan untuk menangani masalah-masalah yang muncul. Singkatnya, Anda sedang melakukan analisis risiko terhadap keputusan Anda.

  • Ketiga, sadarilah benar-benar bahwa anak adalah penyatuan suci dari Anda dan suami

  • Seyogyanya, keputusan ini diambil dari kesadaran, komitmen, dan tanggung jawab Anda berdua. Murni tanpa paksaan atau dorongan pihak lain. Kompromi mutlak menjadi puncak solusi Anda karena nantinya Anda akan membesarkan anak Anda dalam peran dua orang tua, Papa dan Mama secara seimbang.

  • Apabila pada akhirnya, Anda berdua tidak menemui titik temu atau kesepakatan, berbesar hatilah untuk menerima konsekuensi yang terpahit. Tanyakan kepada diri Anda, apakah Anda mampu ikhlas untuk menjalani pernikahan ini tanpa kelanjutan garis keturunan Anda? Jika ternyata Anda setengah hati menjalaninya, ambilah langkah paling bijaksana untuk tidak memaksakan diri Anda bertahan dalam situasi rumit yang menggerogoti jiwa dan kewarasan Anda perlahan-lahan.

  • Advertisement
  • Tetaplah berusaha dan memanjatkan doa kepada Yang Kuasa. Sometimes life works in a mysterious way. Selalu ada harapan untuk hati yang terbuka dan kesempatan menjalani hidup yang baru, sebagai rencana Sang Pencipta yang menjadi rahasia besar-Nya.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Suami tidak menunjukkan tanda-tanda ingin segera memiliki momongan. Saya harus bagaimana?

Baginya, bayi yang lucu adalah batu sandungan bagi hidupnya. Memiliki anak bak memenjarakannya dalam kehidupan penuh belenggu.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr