Lebih dalam memaknai Idulfitri dan tradisi saling memaafkan

Berkumpul dengan keluarga dan saling meminta maaf adalah kebiasaan yang kita lakukan di hari raya Idulfitri. Namun, sudah tuluskah permintaan maaf kita?
Jun 19, 2017

260 views   |   1 shares
  • Maaf lahir batin, adalah ucapan yang selalu kita berikan saat hari raya Idulfitri tiba. Tujuannya agar membersihkan diri dari segala kesalahan, dan seolah terlahir kembali di awal yang fitri. Namun, apakah permintaan maaf itu datang dari hati, dan tulus? Apakah kita telah betul-betul meminta maaf, bukan hanya berkata semata-mata sebagai syarat hari raya?

  • Sebab, ternyata, berbagai penelitian membuktikan bahwa meminta maaf bukanlah naluri manusia. Kita bukanlah mahluk yang mudah untuk meminta maaf dengan tulus. Psikolog sosial yang juga menulis bukuMistakes Were Made (But Not by Me), Elliot Aronson, mengatakan bahwa otak manusia meyakini bahwa diirinya selalu melakukan hal yang paling benar, meskipun perilakunya menunjukkan sebaliknya.

  • Karena itu, meminta maaf biasanya menciptakan tekanan kejiwaan, seperti yang dituliskan dalam teori disonansi kognitif; sebuah sensasi yang timbul dalam otak manusia saat harus melakukan sesuatu yang berlawanan dengan keyakinan. Ada perasaan ketidaknyamanan yang dititikberatkan oleh sikap dan perilaku yang (dianggap) tidak konsisten. Bahasa mudahnya; Gengsi.

  • Sensasi harus meminta maaf ini sama dengan yang dirasakan para perokok yang sudah memahami bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan, namun tetap saja menghabiskan 2 bungkus rokok sehari, kata Aronson.

  • Bahkan, Alex Lickerman, asisten wakil presiden dari University of Chicago student health and counseling services juga penulis buku The Undefeated Mind: On the Science of Constructing an Indestructible Self,mengatakan bahwa saat kita meminta maaf atas sesuatu yang kita lakukan atau katakan, secara tak sadar, diri kita merasa telah melakukan suatu kecurangan.

  • "Sama saja dengan mengakui bahwa kita tidak konsisten dengan konsep diri sendiri, makanya susah untuk ditoleransi," katanya.

  • Sebuah studi dari the European Journal of Social Psychology mengenai ketidaksukaan manusia untuk meminta maaf, membuktikan bahwa manusia memang tidak suka meminta maaf karena dengan itu, kita merasa superior dan mampu menjaga self-esteem.

  • Namun demikian, kita semua juga pasti memahami bahwa meminta maaf adalah hal yang baik dan penting untuk dilakukan, dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Tyler Okimoto, penulis The Apology Study mengatakan bahwa meminta maaf akan membangun hal paling mendasar dari semua hubungan antar manusia; rasa percaya.

  • Dengan bekal itu, kita akan mampu menahan hasrat balas dendam atau konflik berkepanjangan. Selain itu, kita juga akan lebih terbuka menghadapi kritik yang sebetulnya diungkapkan orang lain demi kebaikan kita sendiri dan bahkan bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

  • Advertisement
  • Maka, artinya, kita harus melawan naluri kita sendiri. Sulit sekali ya, namun pasti bisa kan? lalu bagaimana caranya?

    1. Memahami dengan baik rasa dari disonansi kognitif dalam diri kita, agar dapat mengendalikan respons atas sebuah persoalan. Jadi, tiap kali rasa stres, malu, bersalah dan kebingungan muncul ketika harus meminta maaf, kita harus mampu mengerti keresahan tersebut hanyalah wujud dari rasa gengsi. Justru harus dimanfaatkan sebagai pengingat bahwa tindakan yang kita lakukan sebelumnya merupakan kesalahan, dan satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah dengan meminta maaf.

    2. Ingatlah bahwa sebetulnya kita juga memiliki naluri alami untuk memaafkan. Seperti yang diungkapkan Okimoto, jika sudah jelas di mata semua orang bahwa kita melakukan kesalahan, terus menerus mencari alasan dan pembenaran justru akan membuat kita memperlihatkan kelemahan ketimbang memiliki karakter yang kuat.

    3. Bebaskan diri sendiri dari label-label. Menurut Lickerman, mengalami kegagalan tidak selalu berarti kita telah hancur. Artinya, agar dapat meminta maaf dengan tulus, kita harus mampu memutus label bahwa satu kesalahan akan membuat kita menjadi orang paling payah sedunia.

  • Meminta maaf atas suatu kesalahan yang telah kita perbuat justru akan membuat kita mampu mengenali diri sendiri, acapkali rasa gengsi itu muncul. Kita jadi lebih memahami bahwa keresahan karena enggan meminta maaf hanyalah dorongan yang tidak perlu terus menerus dituruti. Dan tentunya akan lebih mudah menjalani hidup, ketimbang bersikeras memertahankan perilaku buruk, bukan?

  • Yuk kita kenali diri sendiri lebih baik, mana harga diri yang benar-benar harus dipertahankan, dan mana yang hanya wujud dari gengsi. Hanya ini satu-satunya cara untuk mampu meminta maaf dengan tulus, dan mengakui kesalahan, agar ke depannya kita kembali fitri.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Lebih dalam memaknai Idulfitri dan tradisi saling memaafkan

Berkumpul dengan keluarga dan saling meminta maaf adalah kebiasaan yang kita lakukan di hari raya Idulfitri. Namun, sudah tuluskah permintaan maaf kita?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr