Julia dari Sesame Street dan Profesor Temple Grandin dari Universitas Colorado; Dua penyandang autisme yang memberi inspirasi

Tugas kita dalam mensosialisasikan perkara anak berkebutuhan khusus masih sangat banyak. Namun hal ini sebetulnya bisa dilakukan dalam banyak bentuk, sesuai peran kita sehari-hari di dunia ini. Keberadaan dua tokoh ini contohnya.
Jun 09, 2017

149 views   |   4 shares
  • Serial boneka kesukaan anak-anak dari zaman ke zaman, Sesame Street, meluncurkan tokoh baru bernama Julia. Tidak ada yang istimewa dari gadis kecil usia 4 tahun dengan rambut oranye dan baju pink, serta memiliki mainan kesayangan berupa boneka kelinci bernama Fluffster. Ia hanya anak kecil pada umumnya. Meski ada sesuatu yang membuatnya sedikit berbeda. Ya, ia penyandang autisme.

  • Diagnosis autisme terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir hingga mencapai level "satu dari 68 anak" di Amerika Serikat, menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Kondisi di Indonesia pun tak jauh berbeda, jumlah penyandang autisme dan kebutuhan khusus lainnya juga terus meningkat. Karena itu, meluncurkan tokoh Julia menjadi inspirasi yang akan membantu anak-anak semakin mengenal apa itu autisme.

  • "Penting bagi anak-anak tanpa autisme untuk melihat bagaimana rupa autisme itu," kata dalang Julia, Stacey Gordon. Penggarapannya memang bukan hal mudah, "Pertanyaan besar yang muncul di awal adalah, 'Bagaimana kami melakukannya? Bagaimana kita membahas tentang autisme?' Ini sulit karena autisme bukan hanya menyangkut satu perkara, karena setiap orang yang menderita autisme berbeda-beda," kata penulis Sesame Street, Christine Ferraro.

  • Namun mensosialisasikan perkara anak berkebutuhan khusus di masa ini menjadi penting. Sebab tak bisa disangkal, mereka masih kerap mendapatkan perlakuan berbeda dalam konotasi negatif. Dicela, dihina, dijauhi, dianggap menular dan sebagainya, masih terus terjadi di sekitar kita. Dan hal ini banyak dilakukan bukan karena orang-orang membenci autisme, namun karena masyarakat belum memahami dengan benar, sehingga merasa takut.

  • Tak hanya Julia, seorang penyandang autis yang mampu melewati masa-masa sulitnya hingga kini menjadi profesor pun pernah di film-kan. Namanya Temple Grandin. Ia membuktikan bahwa sebetulnya penyandang autis rata-rata memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi namun karena tak mampu bersosialisasi, seringkali kepintarannya tak terlihat.

  • Temple Grandin lahir di Boston, AS, pada 3 Desember 1947. Pada tahun 1950, sulung dari empat bersaudara ini mengalami gejala awal autisme, ia benci disentuh, mudah marah dan sangat pendiam. Bayangkan, tahun 1950, saat jumlah penyandang autis jumlahnya masih sangat sedikit, betapa asingnya masyarakat dengan mereka.

  • Pada saat itu, anak-anak autis seringkali salah mendapatkan diagnosis, sehingga banyak yang mengalami masalah pada perkembangan fisik (difabel atau cacat), kerusakan otak atau bahkan tidak akan pernah hidup sendiri.

  • Advertisement
  • Temple Grandin tahu benar bahwa dirinya berbeda, tapi ia tidak pernah merasa kurang dari orang lain. Meski jatuh bangun menghadapi kondisinya, kini Temple justru berhasil menjadi seorang profesor di bidang ilmu hewan. Bayangkan, seorang anak autis berhasil merancang sistem penyembelihan ternak yang lebih manusiawi.

  • Luar biasanya, kini lebih dari setengah ternak di AS dan Kanada ditangani dengan fasilitas yang dirancang oleh Temple. Ia juga bekerja sebagai konsultan bagi McDonald, perancangan dan pelaksanaan program-program kesejahteraan hewan.

  • Anak autis ini mampu mengubah industri peternakan Amerika, menjadi juru bicara autisme dan mengajar mahasiswa PhD di Colorado State University. Dr. Temple Grandin juga menulis sepuluh buku, tentang hewan dan perilaku manusia.

  • Tokoh Julia sebagai boneka yang dekat dengan anak-anak, dan tokoh Temple Grandin yang berhasil tumbuh dewasa sebagai pribadi sukses, sebetulnya sudah cukup menggambarkan bahwa mereka memang berbeda, tetapi tidak kurang. Dan tidak perlu ada ketakutan bagi kita untuk mendekati mereka. Justru, mereka butuh kita, untuk tumbuh di tengah masyarakat.

  • Kitalah yang harusnya membuat mereka merasa nyaman, karena memahami benar bahwa autisme bukanlah sesuatu yang salah dan harus dijauhi. Memberikan edukasi lewat cerita, film dan gambar adalah cara paling efektif untuk mensosialisasikan kebaikan. Maka, ketimbang banyak 'baper' tenggelam dalam hoax atau kebencian di tengah dunia netizen, tentu lebih baik melakukan sesuatu dalam rangka menyebarkan kebaikan.

  • Kebebasan berbicara yang sebenarnya adalah yang seperti ini. Membuat tokoh untuk menjadi contoh, serta menjadikan kejadian nyata dalam bentuk cerita sebagai inspirasi. Kita sudah tidak butuh berita buruk, karena kenyataan sudah berkata demikian. Pencerita yang baik, adalah mereka yang mampu memberi harapan, bukan malah menghapuskannya. Dunia butuh lebih banyak orang yang mau berkarya demi memberi manfaat bagi pengetahuan masyarakat.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Julia dari Sesame Street dan Profesor Temple Grandin dari Universitas Colorado; Dua penyandang autisme yang memberi inspirasi

Tugas kita dalam mensosialisasikan perkara anak berkebutuhan khusus masih sangat banyak. Namun hal ini sebetulnya bisa dilakukan dalam banyak bentuk, sesuai peran kita sehari-hari di dunia ini. Keberadaan dua tokoh ini contohnya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr