Kecanduan belanja sama bahayanya dengan kecanduan narkoba. Kenapa?

Kerap membeli barang yang tak dibutuhkan, selalu ingin melarikan diri ke mal, namun kemudian harus melarikan diri dari tagihan kartu kredit yang tak terelakkan, bukan hal kecil.

406 views   |   6 shares
  • Membeli barang secara impulsif, pada waktu-waktu tertentu, sebetulnya normal kok. Lagi pula, kebanyakan orang memang senang belanja. Namun hal ini bisa menjadi masalah, ketika seseorang menjadi terobsesi untuk terus-menerus membeli barang. Hal ini dengan mudah terdeteksi, saat Anda merasa harus pergi ke mal, dan membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan. Situasi akan bertambah buruk jika kerap terpapar iklan di internet atau televisi.

  • Sama bahayanya dengan narkoba

  • Seorang psikolog klinis, Dra. A Kasandra Putranto, Psikolog, menekankan bahwa setiap orang, terutama wanita, harus bisa mengendalikan diri saat belanja. "Bahaya adiktif itu sama saja seperti bahaya narkoba, internet dan sebagainya. Sama seperti halnya belanja, jika sudah adiktif akan berbahaya," ujar Kasandra.

  • World Psychiatry bahkan menyatakan seseorang yang memiliki hasrat amat tinggi untuk belanja, sebagai penyakit kecanduan belanja (Compulsive buying disorder) atau oniomania. Menurut penelitian yang dilakukan world psychiatry, sebanyak 5,8 persen penduduk Amerika menderita penyakit ini, dan 80 persennya adalah perempuan.

  • Kita mengenalnya sebagai shopaholics. Mereka adalah orang-orang yang mengalami berbagai kecemasan yang hanya dapat hilang saat berbelanja. Biasanya, penderita juga memiliki banyak masalah terkait mental termasuk di dalamnya masalah mood (seperti bipolar), kecemasan dan kecanduan. Namun menurut WebMD, ada kasus-kasus yang membuktikan bahwa penyakit ini disebabkan oleh genetik.

  • Menurut Kasandra, orang yang sudah kecanduan belanja ini ternyata tidak hanya membahayakan dirinya saja, tetapi juga orang lain. Orang yang sudah kecanduan belanja bisa saja menggerus isi kantong Anda meminjam uang tanpa mampu membayarnya kembali.

  • Selain kerugian materi, kecanduan belanja ternyata juga dapat mengganggu kesehatan seseorang. Contoh mudahnya, seorang wanita yang kecanduan belanja seringkali tidak memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan yang bisa timbul di masa depan. Akibatnya, ketika anaknya sakit, dia tidak bisa membayar dan harus meminjam uang.

  • Nah, menurut laman Psychguides.com, sebelum hal itu terjadi coba evaluasi diri apakah kegemaran Anda untuk membeli barang sudah tergolong kecanduan.

    1. Ada barang yang masih dibungkus di lemari

    2. Berbelanja melebihi pagu anggaran

    3. Membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan

    4. Menyembunyikan kelebihan barang-barang itu dari teman dan keluarga

    5. Mengembalikan barang yang sudah dibeli karena merasa bersalah

    6. Keasyikan belanja hingga tak peduli lagi pada hubungan dengan orang lain

    7. Lebih sering menggesek kartu kredit ketimbang membawa uang tunai

    8. Belanja untuk menyingkirkan rasa marah, depresi atau kesepian

    9. Kerap berdebat dengan orang lain mengenai kebiasaan belanjanya

    10. Menunda pembayaran dan malah membuka akun kartu kredit baru agar bisa belanja lagi

  • Advertisement
  • Cara mengatasi si pecandu belanja

  • Menurut WebMD, tak ada penanganan tertentu untuk mengatasinya. Biasanya, obat-obat antidepresan kerap diberikan bagi mereka yang berbelanja karena depresi. Terapi juga bisa dilakukan. Namun yang paling umum adalah mengikuti kegiatan support group dan konseling. "Tiap orang bisa berbeda. Ada yang compulsive buyer untuk barang-barang printilan (pernak-pernik), sebagai gaya hidup atau beli buku. Ada pula orang yang senangnya cuma beli peralatan rumah tangga, bahan-bahan masak baru, khusus barang yang dipasarkan online atau tas branded," jelas Psikolog Roslina Verauli.

  • Dengan mengenali kecenderungan barang yang dibeli, akan memudahkan orang untuk lebih bisa memilah. Mana barang yang sebenarnya diperlukan dan apa yang kurang perlu.

  • Selain itu, wajib mengetahui kebutuhan emosi yang harus dipenuhi. Sebagai contoh, apakah dia belanja karena merasa kesepian, perlu pengakuan diri, ingin diperhatikan orang lain atau sekadar mencari kesenangan? Setelah tahu penyebabnya, yang harus dilakukan adalah menemukan solusi atas pemenuhan kebutuhan emosi yang kurang. Jika seseorang berbelanja karena merasa kesepian maka ia akan disarankan untuk membangun hubungan dekat dan lebih banyak bersosialisasi.

  • Bila pengakuan akan eksistensi diri, maka ubahlah diri Anda jadi seorang yang produktif. Caranya bisa dengan berkarya, membentuk suatu organisasi yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain (ikut kegiatan sosial, aktif dalam komunitas hobi, dan sebagainya). Ketika rasa senang yang ia cari, bisa mengalihkannya sesuatu yang lain. Kesenangan tidak harus dipenuhi dengan berbelanja.

  • "Penuhi kebutuhan emosional dengan cara yang lebih tepat. Bina hubungan yang lebih berkualitas jika sudah memiliki pasangan. Hindari tempat-tempat belanja, kurangi frekuensi main dengan teman. Jika segala cara sudah dilakukan namun tetap gagal, maka Anda bisa berkonsultasi dengan psikolog," ujarnya.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Kecanduan belanja sama bahayanya dengan kecanduan narkoba. Kenapa?

Kerap membeli barang yang tak dibutuhkan, selalu ingin melarikan diri ke mal, namun kemudian harus melarikan diri dari tagihan kartu kredit yang tak terelakkan, bukan hal kecil.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr