Menikmati bulan suci Ramadan dan menjaga semangat puasa sebulan penuh

Menyambut Ramadan adalah hal yang biasa kita lakukan. Namun, apakah kegiatan menyambutnya kini masih seriuh dan sarat dengan nilai juga makna terdalam dari keberadaan bulan suci ini, atau malah jauh bergeser?
May 31, 2017

135 views   |   shares
  • Tamu istimewa bernama Ramadan sedang kita jalani. Bulan yang amat dimuliakan oleh umat muslim sedunia sudah tiba, dan saatnya menjalankan satu bulan penuh berpuasa. Menahan lapar, haus, amarah, meningkatkan ibadah, demi ganjaran berlipat ganda.

  • Dulu, bulan penuh bonus ini disambut dengan suka cita. Memang tak sepenuhnya benar, sebab kebanyakan ritual menyambut Ramadan hanya mengakibatkan inflasi dan penghambur-hamburan uang. Namun, keriuhan dan kebersamaan menjelang suasana penuh kasih itu tak dapat terlupakan seumur hidup.

  • Ada kebiasaan jalan bersama membawa obor sambil melantunkan ayat suci, ada juga kebiasaan berkumpul dan menikmati kebersamaan di rumah ibadah, ada semangat saling berbagi dan melakukan kebaikan lebih banyak antar sesama, hingga menghias rumah untuk menyambut tamu agung bernama Ramadan.

  • Di era yang serba praktis dan modern ini, hal-hal sarat memperkokoh persatuan jelang Ramadan lambat laun mulai terkikis. Manusia kini lebih fokus pada teknis, mempersiapkan Ramadan dari sisi ketersediaan makanan untuk sahur. Mempersiapkan acara reuni sekaligus buka puasa bersama di mal. Kemudian sibuk mengumpulkan uang dan menanti THR untuk membeli mobil baru dan barang mewah agar bisa dipamerkan di kampung halaman saat idulfitri.

  • Hal ini mengakibatkan kita terlalu sibuk, bahkan untuk saling bersalaman dan beriringan dengan tetangga sebelah. Membuat kita melupakan makna sesungguhnya dari kenikmatan berada bersama keluarga di rumah. Sekaligus melupakan bahwa ada anak-anak yang perlu merasakan syahdunya kebersamaan di bulan yang penuh rahmat ini.

  • Padahal, selama satu bulan kita yang biasa sibuk ini jadi punya waktu untuk duduk bersama pagi hari menikmati makan sahur sambil mengobrol. Kebiasaan yang lambat laun mulai hilang sebab harus berangkat lebih dini demi menghindari macet, namun jadi tak sempat lagi bersenda gurau sarapan bersama.

  • Sayangnya, acara televisi yang dipadati program sahur penuh canda dan kuis-kuis jadi lebih menarik untuk dinikmati sambil makan. Ada tawa tergelak memang, namun tetap tidak ada cerita dan saling berbagi juga menasihati, yang seharusnya menjadi fungsi utama dari sebuah keluarga.

  • Jam pulang kerja yang lebih cepat juga lebih sering dimanfaatkan untuk setiap hari berbuka puasa di restoran atau mal bersama rekan-rekan, ketimbang pulang cepat dan mengajarkan anak-anak untuk bersyukur atas nikmat makan dan minum usai kelaparan seharian.

  • Tarawih yang biasanya efektif untuk mengumpulkan warga di satu wilayah pun jadi terlewatkan, karena mau tak mau harus menikmati jalanan lebih macet usai bubaran buka bersama. Kebiasaan hidup sendiri-sendiri ini membuat Ramadan menjadi terasa biasa saja, tanpa kesan mendalam.

  • Advertisement
  • Ya tidak ada yang salah dengan berbuka puasa bersama di tempat umum bersama teman-teman, sekaligus reuni. Namun tak jarang, buka bersama jadi kegiatan yang dipaksakan demi kelancaran bisnis, kelancaran pekerjaan semata. Hal ini tentu saja berlawanan dengan semangat Ramadan sebagai upaya mempererat hubungan keluarga, tetangga, saudara dan orang-orang yang biasanya sulit ditemui sehari-hari karena sibuk bekerja.

  • Anda yang memiliki kenangan indah mengenai Ramadan di masa kecil, pernahkah membayangkan apa yang ada di kepala anak-anak Anda saat dewasa nanti, jika mereka membayangkan Ramadan? Apakah mereka juga merasakan desir kehangatan ketika mendengar kata Ramadan dan berpuasa seperti yang Anda rasakan?

  • Jangan-jangan, kenangan indah akan berkumpul bersama di bulan Ramadan tak akan pernah ada di benak mereka saat dewasa nanti. Jangan-jangan mereka nanti akan menganggap Ramadan sebagai bulan biasa, yang bedanya hanya dilalui dengan berpuasa semata-mata menahan lapar dan haus tanpa pernah mampu memaknainya?

  • Selamat menikmati bulan suci penuh rahmat, semoga kita semua tetap berada dalam langkah kebersamaan. Tak hanya dengan sesama golongan ekonomi, tak hanya dengan sesama kolega bisnis dan pekerjaan, tak hanya dengan sesama agama. Sebab rahmat yang diturunkan Tuhan sesungguhnya adalah untuk seluruh makhluknya, tanpa kecuali.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menikmati bulan suci Ramadan dan menjaga semangat puasa sebulan penuh

Menyambut Ramadan adalah hal yang biasa kita lakukan. Namun, apakah kegiatan menyambutnya kini masih seriuh dan sarat dengan nilai juga makna terdalam dari keberadaan bulan suci ini, atau malah jauh bergeser?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr