Pahami dunia anak-anak dengan 'kembali' ke masa kecil

Bermain dengan anak bukan sekadar menemaninya bermain, tapi Anda juga harus ikut 'masuk' ke dalam dunia mereka. Bagaimana caranya?

229 views   |   3 shares
  • Sudahlah, kita semua pasti sudah memahami pentingnya bermain bersama anak sebab dunia anak adalah dunia bermain, dan mereka belajar apa pun lewat bermain. Coba saja cari di berbagai sumber, semua pasti mengatakan bahwa hal ini amat penting dan begitu banyak manfaatnya. Namun, yang menjadi masalah adalah; dunia orang dewasa sudah begitu banyak terkontaminasi realita kehidupan. Yang pada akhirnya membuat kita lupa, apa rasanya menjadi anak-anak.

  • Inilah yang mengakibatkan orangtua mengalami banyak kesulitan saat menikmati waktu bermain bersama anak lalu mulai mencari tahu, cara bermain bersama anak, dan menirunya mentah-mentah karena orangtua menyadari pentingnya hal itu. Untuk kemudian menjadikan waktu bermain bersama anak sebagai kewajiban atau bagian dari tugas yang wajib dilakukan.

  • Duh, padahal, yang disebut dengan tugas kan biasanya identik dengan hal berat dan banyak unsur keterpaksaan di dalamnya. Hal ini membuat orangtua justru semakin jauh, dari dunia anak-anak. Peter gray, profesor yang mengepalai bidang penelitian dari Boston College mengingatkan bahwa satu-satunya kunci untuk bermain bersama anak, adalah membangkitkan kenangan masa kecil, saat kita juga masih menjadi anak-anak.

  • Anak terlalu dominan

  • Jika kita tidak menempatkan diri dalam posisi tersebut, maka teori yang dikatakan oleh berbagai psikolog mengenai bermain akan ditelan mentah-mentah, dan tidak fleksibel disesuaikan dengan kejadian atau karakter anak. Misalnya mengenai child-led play, seperti yang kerap diingatkan oleh Dr. Laura Markham, psikolog anak. Ya, orangtua memang harus memberikan waktu untuk membiarkan anak bermain sendiri, atau memimpin permainan.

  • Namun, tidak pada semua hal, lho. Menurut Gray, saat anak terlalu mendominasi dan orangtua membiarkan, yang terjadi justru konflik. Ya, memang anak senang mengulang-ulang satu permainan hingga ia menguasainya. Hal itu bisa dibiarkan. Namun, saat anak mulai menjadi 'bos' dan terlalu mengatur orangtua, maka hal ini tak bisa dibiarkan.

  • Anak akan merasa menguasai orangtua, dan mulai mengatur-atur cara bermain semaunya, di setiap kondisi. Ia tidak salah, sebab orangtuanya memang membiarkan. Namun, bagaimana jika hal ini kemudian dilakukannya dalam berbagai situasi di luar waktu bermain? Semua harus dilakukan dengan caranya, tanpa aturan apa pun. Hidup dalam komunitas tak bisa demikian, kecuali Anda tinggal sendirian di tengah hutan tanpa orang lain.

  • Kehidupan sosial dengan makhluk lain menuntut setiap orang harus mampu fleksibel, dengan negosiasi dan kesepakatan agar setiap keinginan dapat terselesaikan melalui jalan tengah yang memuaskan semua pihak. Betul?

  • Advertisement
  • Orangtua terlalu dominan

  • Nah, namun, menjadi orangtua yang mendominasi permainan pun tak bisa dibenarkan. Kadang ada kalanya, anak harus belajar mencoba sendiri hal baru yang dillakukannya. Orangtua tidak bisa terus-menerus menyuruh anak bermain dengan cara yang sudah diketahuinya, sebab hal ini mematikan kreativitas anak.

  • Anak akan kehilangan inisiatif, dan rasa penasaran yang kemudian mendorongnya menjadi pasif, dan enggan mencoba hal baru. Bahkan ia juga bisa tumbuh menjadi anak yang terlalu ketergantungan, dan tidak bisa melakukan apa pun tanpa disuruh. Misalnya, Anda selalu mengerjakan tugas prakaryanya, sehingga hasilnya sempurna, karena ya, memang dikerjakan orang dewasa. Padahal apa salahnya melakukan sendiri? Biarkan ia menggambar, membentuk kertas, menggunting miring-miring, seperti layaknya anak kecil. Setiap orang belajar dari kesalahan, jika Anda tak membiarkannya berbuat salah, maka ia tidak akan pernah belajar.

  • Keterbatasan ruang, waktu, dan rasa aman

  • Hal-hal tersebut adalah bentuk dari kebingungan orangtua, yang menganggap bermain bersama anak merupakan sebuah kewajiban dan tugas yang harus dilakukannya. Bermain itu harusnya menyenangkan, bukan? David Lancy, penulis buku The Anthropology of Childhood menuliskan bahwa teori orangtua harus bermain bersama anak sebetulnya merupakan hal baru. Sebab, di masa lalu, anak memang bermain bersama anak-anak lain di lingkungan sekitarnya setiap saat.

  • Orangtua tidak merasa perlu bermain dengan anak, dan anak pun merasakan hal yang sama. Sebab, di masa lalu, tentu jauh berbeda dengan sekarang yang kita mulai hidup individual. Ada keterbatasan ruang, waktu, dan rasa aman yang membuat anak tak lagi bermain sebebas dulu. Jumlah anak kecil pun terbatas, karena satu keluarga jumlahnya semakin berkurang.

  • Berbagai keterbatasan ini memang tak seharusnya terjadi, namun karena sudah terlanjur maka yang perlu dicari adalah solusi. Dan bermain bersama anak merupakan solusi, yang baik dilakukan untuk mengisi kekosongan anak akan kebutuhannya bermain.

  • Jadilah anak-anak

  • Karena itu, bermain bersama anak bukanlah tugas, justru kebutuhan. Ya, kebutuhan orangtua untuk mendekatkan diri dan bersenang-senang. Berbagai tugas kantor, tugas rumah tangga, stres melihat tagihan maupun konfllik dengan orang lain biasanya sibuk direhatkan melalui "me time". Ya, me time ini penting, namun apa salahnya merehatkan diri dengan bersenang-senang bersama anak?

  • Tak ada masa yang lebih menyenangkan dalam kehidupan selain masa kanak-kanak, saat kita bebas bermain, bukan? Jadilah anak-anak, kembalikan rasa gembira tanpa tekanan realita itu. Bermain gulat bersama anak sambil tertawa cekakakan hingga perut sakit, misalnya. Bermain bola sambil piknik ke lapangan, juga seru untuk dilakukan.

  • Advertisement
  • Jadilah anak-anak yang haus akan sesuatu yang baru, selalu penasaran saat melihat benda asing, dan berani mencoba segala hal tanpa banyak berpikir. Jadikan saat-saat itu menyenangkan bagi diri Anda, maka anak pun otomatis akan lebih senang melakukannya. Hubungan harmonis terbentuk, Anda pun bisa menyingkirkan stres kehidupan agar kembali segar saat bekerja.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Pahami dunia anak-anak dengan 'kembali' ke masa kecil

Bermain dengan anak bukan sekadar menemaninya bermain, tapi Anda juga harus ikut 'masuk' ke dalam dunia mereka. Bagaimana caranya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr