Dampak psikologis anak dari keluarga yang tidak utuh

"Aku lihat Mama nangis soalnya Papa teriakin Mama. Mama sedih. Aku juga sedih." tutur gadis kecil yang baru berusia 5 tahun itu.

2,125 views   |   9 shares
  • 5 tahun lebih berprofesi sebagai seorang guru membuat saya bertemu dengan berbagai macam anak-anak juga orangtua. Ada yang ketika diantar ke sekolah dengan pasukan lengkap papa, mama, opa dan oma, ada juga yang hanya diantar oleh suster atau sopir, atau ada yang diantar oleh salah 1 orangtua dengan pesan kalau dijemput sama papa/mamanya jangan dikasih.

    Sebagai guru tentu bukan porsi saya untuk mencampuri lebih lanjut. Porsi saya adalah mendidik anaknya secara pendidikan dan karakter juga berusaha mengisi jiwa anak ini dengan hal yang baik. Tak jarang saya mendengar cerita dari sang anak yang masih duduk di bangku TK bagaimana ia melihat mamanya dipukuli oleh ayahnya. Dengan kata-kata sederhana sang anak ini menceritakan mamanya menangis karena papanya meneriaki mamanya dan ia berharap papa mamanya tidak bertengkar.

    Tidak dapat berkata-kata saya hanya dapat mengajaknya untuk berdoa untuk papa mamanya atau menyuruhnya untuk menghibur mamanya dengan menjadi anak yang taat atau memberikan pelukan untuk mamanya. Ada juga anak yang baru berumur 5 tahun dengan gamblangnya menceritakan bahwa papanya pergi meninggalkan mereka.

    Lantas, apakah dampak dari pernikahan yang tidak utuh terhadap perkembangan anak?

    Selain pernikahan yang tidak bahagia, pernikahan tidak utuh juga berbicara tentang single parent atau orangtua tunggal. Single parent tidaklah bisa Anda samakan dengan anak haram atau broken home. Dewasa ini, single parent telah menjadi pilihan untuk para orangtua ini.

    Berdasarkan sebuah penelitian di Amerika Serikat, sebenarnya sumber masalahnya bukanlah terletak karena mereka hanya dibesarkan oleh salah 1 orangtua namun karena kombinasi dari tekanan ekonomi, ketidakstabilan dalam keluarga dan konflik antar orangtua sehingga mengakibatkan masalah psikologis pada anak.

    Lebih lanjut, sebuah penelitian dari Swedia yang mempelajari lebih dari 1 juta catatan anak muda menemukan bahwa anak-anak dari keluarga tidak utuh memiliki insiden sakit jiwa, mencoba bunuh diri, dan kecanduan alkohol 2 kali lebih banyak dari anak yang berasal dari keluarga utuh. Penelitian lain juga menemukan bahwa anak-anak ini cenderung lebih rendah diri.

    Fakta yang mengerikan adalah anak yang dibesarkan hanya oleh 1 orangtua 14 kali lebih mungkin mengalami kekerasan fisik dan mental. Anak yang tinggal dengan Ibu tunggal yang hidup dengan pria lain, 33 kali lebih sering mengalami pelecehan anak.

    Biasanya single parent didominasi oleh kaum wanita dan seringkali pendapatannya di bawah rata-rata. Ini tentu mengakibatkan Ibu harus bekerja lebih keras atau lebih lama sehingga anak kekurangan perhatian dan didikan. Inilah tentu berakibat pada akademik anak. Namun, ada juga anak dari keluarga utuh yang memiliki catatan akademis yang baik. Ini tentunya bergantung kepada bagaimana orangtua mendidik anaknya.

    Bagaimanapun, anak-anak memerlukan stabilitas. Ketidakpastian dan guncangan emosi dari orangtuanya akan memberikan dampak yang tidak baik bagi psikologis anak tersebut. Pertengkaran Anda, atau perceraian bahkan menyuruhnya untuk memilih Ayah atau Ibu, atau ketika orangtua menikah lagi dan tinggal bersama saudara tirinya sedikit banyak dapat memberikan guncangan buat anak. Ia bisa saja merasa diacuhkan, merasa ialah penyebab pertengkaran Anda atau bahkan stress.

    Dapat kita simpulkan bahwa tidak hanya orangtua tunggal yang dapat memberikan dampak psikologis anak, ternyata pernikahan yang dipertahankan hanya demi anak tanpa mencari solusi dan menyelesaikan masalah juga dapat memberikan dampak negatif buat anak. Salah 1 pihak akan cenderung menyalahkan pihak yang lain di depan anaknya sehingga akan memengaruhi anak. Pertengkaran demi pertengkaran yang anak Anda saksikan pun tidak akan baik untuk jiwanya. Bisa saja dia akan menjadi anti terhadap pernikahan atau bahkan ia akan membenci ayah atau ibunya sendiri.

    Oleh karena itu, jika Anda adalah orangtua tunggal lindungilah perasaan anak Anda. Jangan pernah libatkan ia dalam konflilk Anda dan pasangan Anda. Selanjutnya, perhatikan juga perasaan dan pikiran Anda. Stres yang Anda alami dapat menular pada anak Anda.

    Namun, bila Anda masih dapat menyelamatkan pernikahan Anda, pergilah kepada konselor pernikahan. Perbaikilah pernikahan Anda. Selamatkan kapal Anda selagi belum tenggelam. Bagaimanapun memiliki ayah dan ibu lengkap membuat anak Anda menerima dukungan terbaik untuk tumbuh kembangnya. Anak laki-laki dapat melihat contoh dari ayahnya, dan anak perempuan dapat meneladani Ibunya.

    Tapi, bila Anda mengalami kekerasan rumah tangga, pernikahan Anda mungkin tidak perlu dipertahankan dengan mengorbankan diri Anda.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Setelah lulus dari kuliah IT, saya menjadi guru TK selama 7 tahun. Tidak jarang selain menghadapi murid saya juga memberi masukan kepada orangtua murid dari sisi seorang guru. Membaca, menulis dan musik adalah hobi saya. Setelah menikah saya langsung dikaruniai 1 putera yang lucu, saya menjadi ibu penuh waktu dan mulai mengembangkan hobi dan talenta saya yaitu membuat kue atau memasak. Saya senang mengumpulkan berbagai resep dan mencobanya di waktu senggang (yang tidak banyak) saya.

Dampak psikologis anak dari keluarga yang tidak utuh

"Aku lihat Mama nangis soalnya Papa teriakin Mama. Mama sedih. Aku juga sedih." tutur gadis kecil yang baru berusia 5 tahun itu.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr