5 tahun pertama pernikahan = tahun-tahun penuh rintangan. Benarkah?

Masa krusial dalam pernikahan, menghadapi 'the 5-year-itch' yang tak jarang membuat pasangan menikah gatal untuk berpisah.

3,172 views   |   24 shares
  • Tahun ini saya dan suami merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-6. Beberapa kawan yang telah menikah lebih dahulu dari kami, memberikan ucapan selamat yang sedikit istimewa. Mereka menyebutkan bahwa kami telah berhasil melewati 'masa percobaan' atau the 5-year-itch. Ya, 5 tahun pertama dalam pernikahan kerap disebut sebagai sebuah tantangan besar. Tidak sedikit pasangan yang mengangkat bendera putih di masa ini dan merelakan rumah tangga mereka kandas dengan usia pernikahan seumur jagung.

    Sedikit banyak, saya dapat memahami bahwa pernikahan bukan sebuah dongeng yang penuh dengan pelangi dan kue manis. Ini adalah sebuah realita hidup yang mendorong kita konsisten berkomitmen dan penuh pembelajaran.

    Apa saja ujian berat yang jika tak sabar melaluinya akan mengorbankan rumah tangga Anda? Inilah lima hal di antaranya:

  • 1. Di mana kebebasanku?

    Bulan-bulan awal pernikahan, semuanya berjalan bak komedi romantis. Bayangan live happily ever after bak terus berputar dalam memori. Namun, lambat laun Anda tersadar. Kini, segala hal tidak dapat disebut sebagai "aku", namun "kami". Hidup Anda telah menjadi tanggungan seorang pria yang menjadi kepala keluarga. Inilah yang sering memicu pertikaian ketika kata kompromi tidak menjadi pilihan.

    Mendadak, ada seseorang yang memrotes keras pekerjaan Anda yang menuntut dinas dan lembur dalam frekuensi tinggi. Atau, gaya berbusana Anda kini diminta untuk menjadi lebih tertutup. Nongkrong bersama sahabat-sahabat di malam akhir pekan pun tak dapat lagi dilakukan. Apalagi, teknik komunikasi dengan lawan jenis pun perlu dibatasi demi menjaga keutuhan rumah tangga Anda. Bagi mereka yang tidak membicarakan apa arti komitmen secara gamblang, tentu akan mempermasalahkan "rutinitas baru" yang menjadi satu paket dengan pernikahan Anda. Atau, dalam kondisi lebih ekstrem, kehilangan kebebasan dan identitas diri adalah hal menakutkan yang tersembunyi di balik pernikahan.

    Sadari betul, pernikahan bukanlah terali penjara. Ini adalah sebuah kesempatan pendewasaan diri. Anda akan belajar mendengarkan, bertoleransi, dan mengendalikan diri. Lihat sisi baiknya, Anda kini memiliki seorang mitra untuk mengarungi kerasnya hidup.

  • 2. Kamu harus berubah

    Menyatukan dua isi kepala dan hati dalam mencapai sebuah tujuan, bukan perkara gampang. Berpacaran sekian lama pun tidak menjamin Anda dapat menerima pasangan dengan lapang dada. Tingkat keterikatan yang jauh berbeda, dapat memunculkan sifat asli dari seseorang. Jika dulu Anda dapat memaklumi kekurangannya, bisa jadi kini situasinya berbalik. Dapatkah Anda menyesuaikan ekspektasi Anda dengan kenyataan yang terpampang di depan mata? Mampukah Anda mensyukuri apa yang Anda miliki dan tidak menuntut berlebihan karena tergiur melihat "rumput tetangga yang lebih hijau"?

    Perubahan menjadi seseorang yang lebih baik adalah sebuah proses pembelajaran dalam pernikahan. Ini adalah sebuah hikmah yang mendewasakan Anda. Bukalah diri terhadap kesempatan menjalani pengalaman dan kebiasaan baru. Sebaliknya, biarkan perubahan terjadi secara alami. Anda tidak dapat memprediksi sempurna apa yang akan Anda hadapi dalam pernikahan. Tidak selamanya rencana akan berjalan lancar dan terhindar dari masalah. Tuntutan tak realistis justru akan menciptakan jurang di antara Anda dan suami.

    Sepakati apa yang menjadi tujuan Anda dan bagaimana cara mencapainya. Jika Anda merasa perlu menuliskannya, maka lakukanlah. Beberapa di antara kita, memang membutuhkan pengingat nyata atas apa yang telah dibicarakan bersama. Ingatlah selalu untuk bersikap realistis dalam menetapkan tujuan dan menjalankan upaya Anda.

  • 3. Keluargaku vs Keluargamu

    Mertua, anak, dan menantu. Sebuah lingkaran yang kerap bergerigi dan bergerinjal dengan batu sandungan. Menyatukan dua hati jauh lebih mudah dari menyatukan dua keluarga, di mana Anda dan pasangan telah menjadi bagiannya selama bertahun-tahun. Saya dapat dengan yakin berkata, hampir setiap wanita menikah mengeluhkan masalah yang dihadapi dengan mertua dan/atau ipar. Termasuk di antaranya, tidak puas dengan sikap pasangan yang seakan lebih memihak kepada keluarganya ketimbang Anda dan keluarga Anda.

    Di sinilah letak ujian sesungguhnya. Sepahit apapun masalah yang Anda alami bersama dengan keluarga suami, mereka adalah pembentuk siapa suami Anda hingga ia menikah dengan Anda. Peliharalah hal-hal positif dari mereka dan perbaiki hal negatif yang kiranya mengganggu Anda, tanpa mempersalahkan atau menghakimi mereka. Singkirkan asumsi-asumsi dan bukalah komunikasi serta bersikap asertif. Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Pada akhirnya, niat dan perbuatan baik akan mendapatkan balasan setimpal, cepat atau lambat.

  • 4. Sepeser dua peser

    Uang memang bukanlah segalanya. Akan tetapi, suka atau tidak suka, masalah finansial dapat begitu mendera bahkan memisahkan ikatan suci Anda. Masuk akal saja, jika sebuah studi menyebutkan masalah keuangan sebagai sumber utama stres dan masalah dalam pernikahan.

    Terbatasi dengan anggapan bahwa keuangan adalah sesuatu hal yang 'sensitif, banyak pasangan yang tidak terbuka satu sama lain dengan kondisi keuangan. Tiadanya pengelolaan keuangan yang mumpuni juga dapat membuat pernikahan goyah suatu saat nanti, ketika sebuah musibah atau keteledoran menghantam rumah tangga. Duduklah dan bicarakan keuangan bersama pasangan tercinta. Bukalah kartu-kartu Anda berdua dan pastikan tidak ada hal tertutupi. Jangan ragu untuk datang kepada seseorang yang kompeten untuk membantu Anda membuat perencanaan keuangan. Berpikirlah, Anda berdua ingin hidup mandiri dan tidak menyusahkan hingga hari tua nanti.

  • 5.Parenthood Pressure

    Anak dapat menghadirkan kebahagiaan sekaligus tantangan besar baru dalam pernikahan. Bahkan, untuk memutuskan Anda mempunyai momongan atau tidak, bagi sebagian pasangan, dapat menjadi awal dari "perang dunia". Ada lagi sebuah lubang hitam penyedot kesabaran ketika rumah tangga Anda tidak kunjung dikaruniai anak. Rezeki yang belum digenggam, ditambah omongan-omongan memanaskan telinga, jika tidak dihadapi dengan kebesaran hati, akan mengganggu keharmonisan.

    Kedatangan buah hati yang didamba pun menghadirkan tantangan. Anda dan suami sama-sama "hijau" dalam dunia orang tua. Petualangan bertajuk parenthood ini bak roller coaster yang penuh perjalanan naik-turun. Kemesraan Anda dapat berubah drastis, sebut saja berhubungan intim setelah melahirkan anak, tak lagi sama seperti dulu.

    Belum lagi, apabila Anda dan suami tidak memiliki pandangan serta partisipasi seimbang dalam mengasuh anak. Konflik demi konflik akan bermunculan, dengan sakit hati yang kian bertambah setiap hari. Memiliki frekuensi yang sejalan dalam pengasuhan adalah modal penting untuk mempertahankan pernikahan Anda. Mungkin butuh perjuangan tak ringan untuk mencapainya. Namun, dengan keterbukaan dan keikhlasan Anda untuk terus belajar, niscaya Anda berdua akan dapat melaluinya.

    Riak dan badai akan terus menyambut hari-hari dalam pernikahan Anda. Untuk dapat melaluinya, perkuat bahtera rumah tangga dengan perencanaan dan pikiran positif. Tetaplah bergandengan erat kala menerjang aral melintang karena ini adalah ujian yang harus Anda hadapi berdua.

Bantu kami menyebarkan

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

5 tahun pertama pernikahan = tahun-tahun penuh rintangan. Benarkah?

Masa krusial dalam pernikahan, menghadapi 'the 5-year-itch' yang tak jarang membuat pasangan menikah gatal untuk berpisah.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr