Seorang ibu dipanggil ke sekolah karena putrinya memukul temannya, reaksinya mengejutkan

Pembelaan seorang ibu terhadap putrinya sangat menarik untuk dikaji, dia marah karena guru tidak membela muridnya.

111 views   |   shares
  • Tidak ada orangtua yang ingin dipanggil pihak sekolah lantaran anak membuat kasus. Apalagi kali ini, mereka memukul siswa lain. Namun seperti yang dapat Anda lihat dari kisah ini, tidak semuanya hitam putih seperti yang tampak semula. Karena walau pun gadis ini memang memukul siswa lain, ada dua sisi dari setiap cerita. Kisah ini memberi pelajaran berharga tentang rasa hormat selain mengingatkan kita tentang benar dan salah tidak selalu mudah dijelaskan.

  • (Saya seorang jururawat. Kami tidak boleh bekerja sambil membawa ponsel; ponsel harus disimpan di tempat penyimpanan barang. Saya mendapat panggilan lewat resepsionis rumah sakit pada jalur pribadi saya.)

  • Telepon

  • "ini [guru] dari [sekolah]. Ada kejadian yang melibatkan [anak Anda]. Kami ingin Anda datang."

  • Saya

  • "Apakah dia sakit atau cedera? Bisakah ini ditunda sampai jadwal kerja saya berakhir dua jam lagi?"

  • Telepon

  • "[Putri Anda] memukul siswa lain. Kami sudah mencoba memanggil Anda selama 45 menit. Ini serius sekali."

  • (Saya pergi ke sekolah dan dibawa ke kantor kepala sekolah. Saya melihat putri saya, guru wali, kepala sekolahnya, seorang guru pria, seorang siswa pria yang hidungnya berdarah dan mukanya merah serta orangtuanya)

  • Kepala Sekolah

  • "Ibu [namaku], terima kasih Anda AKHIRNYA bisa datang!"

  • Saya

  • "Yah, di rumah sakit selalu sibuk. Saya baru saja mengerjakan 40 jahitan pada seorang anak usia tujuh tahun yang dipukul ibunya dengan centong logam dan saya harus melapor kepada polisi tentang hal itu. Maaf saya terlambat datang."

  • (Sesudah melihat tingkah lakunya yang kikuk, dia menjelaskan apa yang sudah terjadi. Siswa lelaki itu sudah menarik kutang dari punggung putri saya dan dia meninju wajahnya dua kali. Kesan saya mereka lebih marah kepada putri saya daripada siswa cowo itu.)

  • Saya

  • "O begitu. Dan Anda ingin tahu apakah saya akan menuntut dia karena melecehkan putri saya dan menuntut sekolah karena membiarkan dia berbuat itu?"

  • (Mereka semua gugup ketika saya menyebutkan pelecehan seks dan mereka berebut berbicara.)

  • Guru

  • "Saya rasa hal ini tidaklah seserius itu."

  • Kepala Sekolah

  • "Itu reaksi berlebihan."

  • Guru wali

  • "Saya rasa Anda salah tangkap."

  • (Ibu anak itu mulai menangis. Saya menoleh kepada putri saya untuk mencaritahu apa yang sedang terjadi.)

  • Putri Saya

  • "Dia terus saja menjepret kutang saya. Sudah saya bilang supaya berhenti, saya memberitahu Pak [guru]. Katanya jangan hiraukan. Anak itu berbuat lagi sampai kaitan kutang saya lepas jadi saya tinju dia. Baru dia berhenti."

  • Advertisement
  • Saya

  • "Anda biarkan dia berbuat begitu? Mengapa Anda tidak melarangnya? Kemarilah dan biarkan saya menyentuh bagian depan celana Anda."

  • Guru

  • "Apa-apaan?! Gak mau ah!"

  • Saya

  • "Makanya, tidak pantas kan? Coba kalau kamu menarik kutang ibu guru wali sekarang. Apa dia senang? Atau kutang ibu anak cowo itu. Atau kutang saya. Hanya karena mereka masih kecil Anda kira itu menyenangkan?"

  • Guru Wali

  • "Tapi Bu [nama saya]. [Anak saya] sudah memukul siswa ini."

  • Saya

  • "Bukan begitu. Dia membela diri atas pelecehan seks dari siwa ini. Lihat saja dia kan tingginya hampir 2 meter, anak saya cuma sebahunya. Selain lebih tinggi dia juga lebih berat! Berapa kali dia seharusnya membiarkan anak itu menyentuhnya? Jika orang yang semestinya melindungi dan membantu dia di kelas tidak peduli, apa yang harus dia lakukan? Dia menarik kutang anak saya begitu keras sampai copot kaitannya!"

  • (Ibu si anak masih menangis dan si ayah tampak marah serta malu. Si guru tidak berani memandang mata saya. Saya menatap kepala sekolah.)

  • Saya

  • "Saya akan mengajaknya pulang. Saya rasa anak itu sudah mendapat pelajaran. Saya harap kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang, tidak saja terhadap [anak saya], tetapi juga terhadap gadis lain di sekolah ini. Anda tidak akan membiarkannya terjadi terhadap staf di sekolah ini jadi mengapa Anda mengira dia boleh melakukannya terhadap anak perempuan berusia 15 tahun? Saya sungguh tidak paham. Saya akan lapor kepada polisi. Dan jika kamu - "menoleh kepada siswa cowo" BERANI menyentuh anak saya lagi SAYA AKAN menyuruh kamu ditangkap karena pelecehan seksual. Mengerti?"

  • (Saya begitu marah saya ambil barang-barang anak saya dan pergi. Saya melaporkan hal ini kepada polisi, beberapa yang saya kenal dari gereja (ini sekolah Katolik) dan diberitahu mereka akan bertindak. Saya juga melaporkannya kepada distrik sekolah yang berkata bahwa hal ini tidaklah pantas dan mereka meyakinkan saya akan menghubungi sekolah. Putri saya dipindah ke kelas lain yang tidak diajar oleh guru tersebut serta berbeda kelas dari siswa cowo brengsek itu.)

  • Diterjemahkan dan disadur oleh Irma Shalimar dari karya James Gould-Bourn School called mom after her daughter hit another student, but mom's reaction surprises them.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Seorang ibu dipanggil ke sekolah karena putrinya memukul temannya, reaksinya mengejutkan

Pembelaan seorang ibu terhadap putrinya sangat menarik untuk dikaji, dia marah karena guru tidak membela muridnya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr