Sebuah pengakuan: "Oh, ternyata begini rasanya menjadi seorang suami."

Menikah dan hidup bahagia selalu bersama-sama, hanyalah slogan dalam iklan-iklan saja. Pada kenyataannya Anda harus berjuang untuk memperoleh kebahagiaan tersebut

1,278 views   |   8 shares
  • Sebelum menikah dulu, saya sangat bersemangat untuk segera hidup berkeluarga dan menghabiskan sisa hidup saya bersama istri tercinta. Yang terbayangkan di dalam benak saya dulu, pasti sangat indah dan 'komplit' hidup berkeluarga dengan orang yang saya cintai.

  • Namun setelah menjalani pernikahan, ternyata kenyataan tidak selamanya indah dan membuat saya merasa bahagia. Apalagi kami, saya dan dia, masing-masing mulai terlihat sifat aslinya. Memang awalnya kami banyak persamaan, tetapi ternyata jauh lebih banyak lagi perbedaannya.

  • Satu nasihat ayah yang paling saya ingat, "Dalam sebuah pernikahan, pasti lebih banyak perbedaan dibanding kesamaannya. Karenanya suami-istri itu harus melengkapi". Terdengar mudah diterima nalar, namun pada praktiknya sulit dijalani. Percayalah pada saya, ini sangat sulit!

  • Perlahan-lahan saya belajar menjadi seorang suami, dengan segala suka dan dukanya. Kalau orang bilang awal pernikahan itu indah, justru menurut saya awal pernikahan adalah masa yang paling berat. Diperlukan adaptasi dan penerimaan dari saya dan istri, akan karakter kami masing-masing. Mulai dari, apa yang disukainya dan tidak, bagaimana emosinya saat sedang marah dan bagaimana cara merebut hatinya, dan masih banyak lagi.

  • Sambil beradaptasi dan memahami istri, saya juga menemukan banyak kelebihan dan kekurangan yang dirasakan setelah menikah. Enaknya menikah, ada seseorang yang menemani saya tidur, merawat dan memerhatikan saya. Hal-hal yang membuat saya merasa spesial. Di sisi lain tentu ada kekurangannya, seperti harus beradaptasi dengan sifat istri saya yang suka komplain dan melarang macam-macam. Ternyata setelah banyak berbicara dengan kawan-kawan yang sudah menikah juga, ternyata istri-istri pada umumnya juga memiliki sifat yang sama. Anehnya saat berjauhan dengan istri, saya malah jadi kangen mendengar komplain dan kecerewetannya. Seakan separuh hidup saya hilang tanpa istri di samping saya.

  • Saya semakin menyadari setelah menyandang status sebagai suami, selalu ada up and downtantangan yang harus diatasi. Ibarat 'sayur tanpa garam', pernikahan tidak akan nikmat jika tidak ada tantangannya.

  • Jadi seberapa sulitnya tantangan yang sedang kami hadapi, selalu berkomunikasi untuk mencari jalan terbaik bersama adalah hal yang harus selalu kami lakukan. Saya semakin bersyukur dengan adanya istri yang melengkapi hidup saya. Meski menemukan banyak tantangan dalam pernikahan, tetapi hidup saya menjadi lebih berwarna. Justru akan terasa membosankan jika hanya berada dalam zona aman saja kan?

  • Advertisement
  • Yang pasti kalau mau dibilang banyak suka atau dukanya? Saya berani menjawab: pasti jauh lebih banyak sukanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menikmati setiap keadaan, bertanggung jawab dengan semua pilihan yang telah dijalani dan terus bersyukur. Dijamin profesi Anda menjadi suami akan bertahan hingga maut memisahkan kalian.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Ezra adalah seorang suami yang bekerja dalam bidang digital marketing di sebuah perusahaan asing. Dia menggemari olahraga, traveling, membaca, menonton film, teknologi dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Ikuti akun Twitternya di .

Sebuah pengakuan: "Oh, ternyata begini rasanya menjadi seorang suami."

Menikah dan hidup bahagia selalu bersama-sama, hanyalah slogan dalam iklan-iklan saja. Pada kenyataannya Anda harus berjuang untuk memperoleh kebahagiaan tersebut
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr