Baca dulu ini sebelum Anda dan pasangan memutuskan untuk mengadopsi anak

Banyak hal yang harus dipertimbangkan dengan matang sebelum melakukannya.

847 views   |   shares
  • Musim penghargaan film baru saja berlalu. Masih ingatkah Anda sebuah film berjudul "Lion"? Film yang banyak mendapatkan nominasi di academy award ini diadaptasi dari buku mengenai kisah nyata seorang anak India yang diadopsi pasangan di Australia.

  • Film yang bagus dan mengharukan, dengan topik yang kerap menjadi perdebatan. Iya, adopsi. Di film tersebut, pasangan yang mengadopsi sebetulnya memiliki kemampuan untuk melahirkan anak kandung, namun memilih untuk mengadopsi dengan tujuan menolong. Lalu bagaimana dengan Anda yang memang dinyatakan tidak dapat memiliki anak kandung? Pernahkah terpikir untuk melakukan adopsi?

  • Bolehkah hal ini dilakukan? Tentu saja boleh dong. Tapi, Anda perlu tahu apa saja tantangan yang kemungkinan akan terjadi -seiring bertambahnya usia, anak akan gencar mencari tahu siapa orangtua sebenarnya dan berkeinginan untuk tinggal dengan orangtua kandung-. Jika setelah mengadopsi anak, Anda kemudian memiliki anak kandung dan anak kandung Anda lebih cemerlang, bisa jadi lingkungan sekitar akan membanding-bandingkan mereka. hhhg nnnnnnnnnnnBisa jadi sikap keluarga besar kurang ramah terhadap anak adopsi karena mereka tidak setuju dengan keputusan Anda mengadopsi. Ketidaksetujuan ini dapat disebabkan oleh adanya perbedaan suku, ras, agama, keturunan, atau status sosial.

  • Nah, jika hal ini sudah dipahami dengan baik, maka ada hal lain yang patut dipertimbangkan juga:

  • Anak adopsi bukanlah 'pancingan'

  • Banyak orang mengadopsi anak sebagai pancingan agar sang istri dapat segera hamil. Namun, menurut Zoya Amirin, seorang psikolog seksual, menyatakan bahwa mengadopsi anak tidak dapat dijadikan sebagai pancingan karena hanya meringankan tekanan dari lingkungan sosial untuk pasangan tersebut. Apabila pasangan menghendaki memiliki anak, maka perlu merencanakan dengan benar dan tanpa paksaan.

  • Menurut psikolog perkawinan dan keluarga, Wulan A. Ramadhani, M.Psi., lima tahun pernikahan bisa dianggap sebagai evaluasi kematangan dalam berumah tangga, termasuk menerima anggota keluarga baru melalui adopsi. "Namun, usia pernikahan tidak selalu berhubungan langsung dengan kesiapan mental untuk menjadi orangtua," ujar Wulan.

  • Makanya, adopsi harus diputuskan bersama, bukan sepihak, sebab membesarkan anak tidak mudah dan butuh kerja sama. Idealnya, keputusan mengadopsi pun dilandasi pertimbangan rasional.

  • Cari tahu secara detail

  • Aktif mencari tahu yang harus dipertimbangkan dalam proses adopsi, seperti mengetahui seluruh proses hukum dan status keluarga Anda ke depannya, juga riwayat genetis anak. Ini bisa jadi pertimbangan untuk menyiapkan finansial, jika ternyata anak memiliki kebutuhan khusus.

  • Advertisement
  • Persiapkan mental menjadi orangtua

  • Karena bukan anak kandung, maka insting Anda sebagai orangtua harus dipelajari dan dipraktikkan, misalnya dengan aktivitas yang berhubungan dengan anak-anak. Caranya bisa dengan bermain atau menjaga keponakan atau anak tetangga. Ingat juga bahwa tiap anak memiliki fisik dan kepribadian berbeda. Calon orangtua perlu mempersiapkan diri menghadapi perbedaan tersebut.

  • Pertimbangkan pengaturan finansial, tenaga, dan waktu pun termasuk dalam mempersiapkan mental. Khususnya, tambahan waktu untuk anak dan keluarga. Diskusikan pengaturan waktunya agar semua mendapatkan porsi seimbang. Siapkan stamina, terutama ketika mengadopsi anak bayi atau balita yang masih sangat bergantung kepada orangtua.

  • Sosialisasi pada seluruh anggota keluarga

  • Memiliki anak berarti memasukkannya ke dalam keluarga besar Anda dan pasangan. Maka sejak awal rencana, sosialisasikan dan minta dukungan positif pada hal yang ingin Anda lakukan ini.

  • Anak adopsi = anak Anda

  • Semua hal tersebut menjadi wajib dilakukan karena ke depannya nanti, anak yang Anda angkat ini adalah anak Anda. jangan sampai di masa depan, Anda terus berpikir bahwa dirinya hanyalah anak adopsi. Bagaimanapun, Anda telah mengangkatnya dan mengikatnya secara hukum. Kadangkala orangtua yang menghadapi kesulitan dalam mendidik anak adopsinya, secara tidak sadar akan berpikiran "Oh mungkin karena kami bukan dari keturunan yang sama". Duh, sedihnya.

  • Ia anak Anda, dan bukan benda elektronik yang bisa ditukar tambah, lho. Artinya, bagaimanapun kondisi kesehatan atau mental anak adopsi nantinya, dia sudah menjadi anak Anda. Bimbinglah mereka sebagaimana mestinya dan sayangi mereka seperti Anda menyanyangi anak kandung Anda sendiri.

  • Sampaikan kebenaran padanya

  • Ingat juga, jika anak adopsi memang sudah cukup umur dan Anda memang merasa perlu untuk menceritakan asal-usulnya, lakukanlah dengan baik. Jangan sampai pula mereka mendengar kebenaran itu dari orang lain.

  • Sampaikan hal tersebut sambil tetap meyakinkan anak bahwa dia sudah menjadi bagian dari keluarga Anda. Katakan apa adanya sesuai pengetahuan Anda. Jangan pernah bohong mengenai hal ini, karena hal tersebut akan lebih menyakitkan hatinya.

  • Anak adopsi dapat menjadi seseorang yang hebat bila Anda bisa membesarkannya dengan baik. Anda harus mengurus mereka, mencintai mereka seperti anak kandung sendiri. Kesepian dalam keluarga Anda akan hilang dengan kehadirannya. Jadi, dia pun sama berharganya seperti Anda yang telah memutuskan mengadopsinya.

  • Advertisement
Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Baca dulu ini sebelum Anda dan pasangan memutuskan untuk mengadopsi anak

Banyak hal yang harus dipertimbangkan dengan matang sebelum melakukannya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr