Ibu ini kehilangan hak asuh atas anak-anaknya sendiri lantaran hal yang mungkin justru seringkali Anda lakukan

Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Membuka telinga dan hati Anda, untuk pengasuhan yang lebih baik.

4,647 views   |   12 shares
  • Memberikan yang terbaik untuk anak. Berapa kali Anda menyebutkan hal ini kepada diri sendiri maupun orang lain? Adakalanya kita berpegang teguh pada ungkapan Mom knows best dan tetap menjalankan pengasuhan yang kita yakini sebagai pengasuhan paling cocok untuk anak-anak tersayang.

  • Saya termasuk penganut paham ini. Pada banyak kesempatan, saya mengutamakan insting keibuan ketika berbagai saran dan omongan datang bertubi-tubi Memberikan pertimbangan pribadi saya untuk mengambil alih kala mengambil keputusan dalam pengasuhan. Namun, saya belajar banyak dari kisah yang satu ini. Dimana, segala hal yang berlebihan biasanya berdampak negatif. Termasuk, terlalu percaya diri pada gaya pengasuhan Anda dan menolak menerima masukan dari orang lain.

  • Alkisah, seorang ibu dua anak dari Cambrigeshire, Inggris. Kedua anak balitanya sekilas hidup bahagia bersamanya. Sang ibu juga berusaha lekat selalu dengan anak-anaknya, termasuk masih tidur bersama-sama di satu ranjang (co-sleeping). Tampak normal? Kebiasaan ini juga masih dilakukan oleh jutaan orang tua di seluruh dunia.

  • Hal yang selanjutnya terjadi menjadi awal perjalanan nan rumit. Dalam sebuah pemeriksaan oleh pihak Dinas Sosial, ditemukan sebuah kejanggalan. Pada tubuh anak-anak tersebut ditemukan beberapa memar yang mencurigakan. Usut punya usut, keamanan anak-anak mungil ini tidak terjaga, saat mereka terlelap dalam mimpi. Terkuak pula, bahwa salah satu anak pernah mengalami cedera serius, yaitu patah pergelangan tangan, kala dirinya masih bayi dan belum genap setahun.

  • Sang ibu mendapatkan peringatan. Ia disarankan untuk memisahkan diri dari anak-anaknya ketika tidur. Tujuannya, untuk menghindarkan anak-anak malang ini dari "penggunaan kekerasan saat tidur" yang berbahaya bagi mereka. Wanita ini menolak mentah-mentah saran tersebut. Menurutnya, kejadian tersebut bukan kesalahannya. Memar-memar terjadi karena kejadian alami dan sang bayi terluka akibat ulah sang kakak yang tak berhati-hati.

  • Sang Ibu yang menutup telinga, terus membiarkan segalanya terjadi sesuai keyakinan pengasuhannya. Tak hanya saran tentang pengaturan tidur, ia juga tak menggubris masukan dari Dinas Sosial mengenai pemberian makanan kepada anak-anaknya. Singkat cerita, hanya ia sendiri menantang dunia.

  • Penyelidikan pun berlanjut. Temuan demi temuan membuka perlahan apa yang sekiranya terjadi dalam keluarga ini. Tak hanya sang ibu, suaminya pun tak lepas dari dugaan. Dari pemeriksaan, petunjuk-petunjuk mengarah kepada satu kesimpulan. Kedua orang tua ini, sadar atau tidak, telah menjalankan pengasuhan yang mengandung kekerasan dan penelantaran kepada kedua buah hati mereka.

  • Advertisement
  • Kasus ini dilimpahkan ke pengadilan dan dijatuhkan vonis mengejutkan. Sang ibu kehilangan hak asuh dan harus merelakan kedua putranya diadopsi oleh keluarga lain.

  • Pada dasarnya, sangatlah mungkin, dalam perjalanan pengasuhan kita, dapat saja terjadi kekerasan dan penelantaran terhadap anak. Menurut Children Bureau, keduanya berisiko menjatuhkan sanksi hukum kepada orang tua sebagai pihak yang bertanggung jawab.

  • Kekerasan dapat terjadi secara fisik maupun emosional. Kekerasan seksual, eksploitasi, dan penggunaan zat terlarang oleh orang tua (narkoba, miras, pornografi) juga termasuk dalam tindakan kekerasan terhadap anak. Penelantaran merupakan ketidakmampuan orang tua untuk memenuhi kebutuhan dasar anak, mulai dari sandang, pangan, tempat tinggal, rasa aman, lingkungan yang sehat, hingga kenyamanan secara emosional. Mengancam anak, ternyata adalah bentuk dari penelantaran pula. Intinya, anak perlu diberikan sebuah kondisi terpelihara, sehingga ia dapat hidup berkualitas dan sehat, baik secara fisik maupun mental.

  • Lalu, bagaimana kita bisa belajar dari kasus ini?

  • Sangatlah penting untuk menciptakan situasi kondusif dalam pengasuhan. Tegas, namun tetap terkendali dan menjamin keselamatan serta kenyamanan hidup anak. Sebagai orang tua, kita perlu terus-menerus memerhatikan kebutuhan anak dan belajar mendengarkan, baik apa kata anak, maupun masukan dari pihak yang berkepentingan dan kompeten.

  • Tips dari PBS Parents tentang menciptakan iklim pengasuhan disiplin positif berikut ini sangat bermanfaat untuk diterapkan.

    • Pahami maksud di balik perilaku anak. Apakah alasan di balik sikap dan perilaku mereka. Pilah dengan tepat, mana yang perlu dikoreksi.

    • Selalu FOKUS untuk mengendalikan diri kita, sebelum kita melakukan langkah pengasuhan terhadap anak. Kuasai amarah dan luapan emosi sebelum bereaksi atas tindakan anak yang tidak kita inginkan.

    • Letakkan ekspektasi yang konsisten kepada anak. Hindari melakukan pergantian aturan secara cepat demi kenyamanan kita pribadi. Tetapkan aturan yang memberikan manfaat terbesar bagi anak.

    • Jelaskan apakah perilaku yang Anda harapkan dari anak secara jelas. Berikan pemahaman tentang sebab-akibat akan perilaku yang dilakukan anak, sehingga anak paham bahwa perilaku baik ditunjukkan bukan semata untuk membuat orang tua senang, namun karena memang bermanfaat bagi dirinya.

    • Alih-alih berkata "Jangan" atau memberikan larangan keras, utarakan kepada anak apa yang sebaiknya dilakukan. Mengganti kata-kata negatif seperti "Jangan" dan "tidak, menjadi ungkapan positif akan memberikan kejelasan lebih baik kepada anak mengenai apa yang seharusnya dilakukan.

    • Pandai-pandailah mengatur energi yang Anda miliki. Tak ada salahnya Anda menyampaikan kepada anak, bahwa dengan membuat Anda lelah tak karuan, mereka pun turut merugi karena Anda tak optimal menemani mereka.

    • Jauhkan kebiasan "menyuap" atau mengiming-imingi anak dengan hadiah. Biarkan mereka mengetahui "penghargaan" alami yang dunia berikan ketika mereka melakukan kebaikan.

  • Advertisement
  • Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Membuka telinga dan hati Anda, untuk pengasuhan yang lebih baik.

  • Artikel ini disadur oleh Ratih Arawinda dari artikel asli berjudul "Padres pierden la custodia de sus hijos por algo que 'todos' hemos hecho alguna vez con ellos sin saber las consecuencias legales" karya Mariel Reimann.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Mariel Reimann menjabat sebagai Content Manager Familias.com. Ia mengambil studi hukum di National University of Cordoba dan saat ini berdomisili di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat.

Ibu ini kehilangan hak asuh atas anak-anaknya sendiri lantaran hal yang mungkin justru seringkali Anda lakukan

Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Membuka telinga dan hati Anda, untuk pengasuhan yang lebih baik.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr