Kisahku: Seusai penantian panjang, bayiku ternyata tidak pernah lahir

Garis finis yang muncul terlalu cepat. Sebuah duka yang tak hanya kualami sendiri. Awan mendung yang hanya dapat ditepis oleh hadirnya pelangi.

3,500 views   |   4 shares
  • Teringat pada suatu pagi. Kala pertama kali berharap, termangu di kamar mandi. Terlambat datang bulan beberapa hari dan memeriksa apakah ada kehidupan tumbuh di dalam tubuh ini. Dua garis pada sebatang test pack membawa kabar gembira itu. Aku hamil. Aku akan menjadi seorang ibu.

  • Minggu demi minggu berlalu. Kurasakan tubuhku mulai berontak. Mual berkepanjangan. Muntah kala perut baru saja terisi. Berbagai aroma mengaduk perutku. Trimester pertama benar-benar sebuah tantangan besar.

  • Di minggu keenam, sesuatu terjadi. Sebercak noda membuatku terkesiap. Apakah engkau baik-baik saja di dalam sana? Pemeriksaan dini pun kulakoni. Rupanya, ini adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Melekatnya janin pada dinding rahim dapat saja menyebabkan pendarahan ringan seperti ini.

  • Ketika memasuki minggu ke-12, pendarahan itu kembali terjadi. Kali ini jumlahnya jauh lebih banyak. Betapa terkejutnya aku melihat darah membasahi seprei ranjangku. Kurasakan pula rasa kram pada perut. Lebih intens dari kram yang kualami ketika menjelang haid. Hati kecilku meratap.

  • Apakah ini sebuah pertanda?

  • Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku dan suamiku terdiam. Kugigit bibirku sambil memanjatkan doa. Sayang, semoga kau mampu bertahan. Kita akan lalui ini bersama.

  • Pikiranku melayang. Menilik-nilik apa yang sekiranya bisa salah. Usia kami belum mencapai 35 tahun. Kami tidak merokok dan cukup konsisten menjalani gaya hidup sehat. Berulang-ulang aku mengulas kehamilan trimester pertama ini. Apakah aku telah melakukan sesuatu yang fatal bagi janin ini?

  • Setibanya di rumah sakit, aku segera dibawa menuju ruang praktek dokter kandungan. Ultrasonografi (USG) menyorot bagian perutku, mencari posisi rahim dan kau yang menghuninya. Layar itu tetap hitam. Tak ada lagi segumpal kehidupan dan tanda denyutmu. Kosong. Hampa. Seketika aku merasa tersedot ke dalam jurang yang begitu dalam.

  • "Maaf, Bu. Bayi Ibu sudah tidak ada."

  • Ucapan lirih yang terdengar begitu kuat dan menghantamku telak. Inilah yang kudengar, alih-alih tangisan kencangmu di ruang persalinan, berbulan-bulan dari sekarang.

  • Garis finis yang muncul terlalu cepat.

  • Meskipun berkali-kali kami mendengar kalimat yang sama, bahwa 20 persen kehamilan berpeluang untuk mengalami keguguran. Dimana, 80 persen dari kasus keguguran terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan. Tetaplah saja, ada asa kami yang menguap dan terbang ke angkasa.

  • Advertisement
  • Kami tidak melihat tanda-tanda akan datangnya musibah ini. Segalanya berjalan cukup normal. Apa yang sekiranya dapat menyebabkan keguguran ini. Mungkin saja ada kelainan kromosomal pada janin kami. Atau, perlekatannya pada rahim tidak sempurna. Bisa jadi, ada gaya hidupku yang berakibat fatal baginya. Serangan bakteri atau virus yang tak kuantisipasi pun punya kemungkinan menjadi penyebab utama keguguran ini. Namun, yang pasti, Tuhan telah memutuskan untuk memeluk calon bayi kecil kami dan mengajaknya menikmati surga lebih awal.

  • Keguguran ini begitu memukulku. Perlu waktu bagiku untuk bangkit dan pulih. Tubuhku lebih dahulu kembali ke kondisi semula. Akan tetapi, lain halnya dengan hatiku. Hancur, berkeping-keping tanpa ampun.

  • Sulit rasanya untuk tidak menyalahkan diri sendiri. Padahal, memanglah bayi ini belum menjadi rezeki untuk alasan yang lebih baik. Bisa jadi ia nanti akan tumbuh cacat. Atau, membahayakan jiwanya dan/atau jiwaku juga. Belum datang waktu yang tepat baginya untuk menghirup oksigen di dunia ini.

  • Derita ini bukan hanya milikku seorang. Suamiku pun terluka. Ia juga memiliki harapan dan impian besar serupa. Begitu pula dengan jutaan ibu lain yang bernasib sama denganku. Mayoritas di antara kami enggan membicarakan hal ini. Membuat kawan-kawan dan keluarga dekat berhati-hati dalam berinteraksi dengan kami yang dirundung duka.

  • Lambat laun, aku mengerti. Keguguran bukanlah akhir dari segalanya. Tak selalu berarti aku tak mampu menghasilkan keturunan. Atau, menjatuhkan vonis bahwa jikalau aku hamil kembali, maka aku akan mengalami kehilangan ini lagi. Faktor-faktor risiko akan selalu ada. Keputusanku untuk mempersiapkan diri, fisik dan mental secara prima sebelum hamil, akan membantu menurunkan kemungkinan aku kehilangan dirimu lagi.

  • Advertisement
  • Akupun berdoa selalu, untuk hadirnya sang bayi pelangi. Si kecil yang lahir setelah mendungnya dunia, pengganti dan penerus "kakak" yang wafat sebelum dirinya mengisi rahimku. Miracle does exist. Aku akan menanti, untuk hadirnya keajaiban kembali di dalam tubuhku ini.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Kisahku: Seusai penantian panjang, bayiku ternyata tidak pernah lahir

Garis finis yang muncul terlalu cepat. Sebuah duka yang tak hanya kualami sendiri. Awan mendung yang hanya dapat ditepis oleh hadirnya pelangi.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr