Ketika Anda harus menjelaskan soal kehilangan pekerjaan pada anak

Kehilangan pekerjaan merupakan benturan keras, tak hanya bagi yang mengalami, namun juga bagi anggota keluarganya. Lalu bagaimana menjelaskan soal ini kepada anak-anak, yang akan mengalami banyak perubahan ke depannya?

128 views   |   shares
  • Jika Anda dan pasangan terbiasa bekerja dan membagi beban finansial rumah tangga berdua, maka tak heran jika anak-anak juga mendapatkan fasilitas yang cukup dari orangtuanya. Namun, yang namanya pekerjaan, tentu tak ada yang abadi. Bagaimana jika Anda, atau pasangan, mendadak mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK)?

  • Ya, hal ini adalah mimpi buruk bagi setiap orangtua. Mungkin di fase awal kehilangan pekerjaan, Anda belum merasakan dampak yang signifikan pada keuangan keluarga, sebab arus kas rumah tangga masih dapat terpenuhi dengan dana yang berasal dari tabungan Anda.

  • Tetapi setelah tiga bulan berlalu dan Anda belum mendapatkan pekerjaan baru, mau tidak mau pengeluaran harus disesuaikan dengan kondisi yang sebenarnya. Anda sekeluarga yang tadinya bisa pergi berlibur jarak dekat, sebulan sekali, misalnya. Kini jadi harus banyak berhemat. Anak-anak yang tadinya bisa pergi sekolah diantar mobil, kini harus rela naik sepeda, karena Anda harus menjual mobil.

  • Ceritakan sejujurnya

  • Niatnya sih, tak ingin mengecewakan anak-anak dengan tidak mengurangi uang jajan atau memotong "jatah" membeli mainan. Tetapi mau bagaimana lagi, suka tidak suka Anda harus menggerilyakan penghematan, setidaknya sampai mendapat pekerjaan baru nantinya. Banyak perubahan yang menyulitkan terjadi. Namun jika keluarga dapat saling memberi dukungan, maka hal ini akan lebih mudah dilalui.

  • Tetapi dukungan juga berarti Anda juga harus memberi tahu anak mengenai kondisi yang dihadapi agar ia mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan. "Anak-anak hanya perlu mengetahui apa yang harusnya mereka tahu, apa yang akan berubah dan apa yang tidak berubah dalam hidup mereka," ungkap John Duffy, Psy.D, Psikolog Klinis dan penulis buku The Available Parent: Radical Opyimism for Raising Teen and Tweens.

  • Jadi, boleh saja sih mengatakan pada anak bahwa Anda tidak lagi bekerja, tapi pilihlah kata-kata yang mudah dicerna oleh anak. Hal yang paling sulit adalah saat anak masih berusia di bawah delapan tahun, sebab di kisaran usia tersebut, pada dasarnya anak-anak memang memerlukan banyak kebutuhan untuk proses tumbuh-kembang yang menyeluruh dan berkualitas baik.

  • Duffy mengungkapkan bahwa anak-anak di usia sekolah perlu mengetahui apa yang bisa mereka harapkan dari orangtua mereka. Jika semua ini harus berubah maka mereka harus diajarkan cara dan tip untuk mengantisipasi perubahan ini. "Dengan berhentinya Anda dari pekerjaan dan kenyataan bahwa hidup mereka akan berubah, secara otomatis mereka akan mengalami pergolakan emosional. Pemberitahuan di awal ini akan mengurangi efek negatif yang mungkin terjadi pada anak," jelas Duffy.

  • Advertisement
  • Acknowledge perasaan anak

  • Usai menjelaskan kondisi Anda pada anak, tanyakan kepada anak apa yang mereka rasakan. Kemudian, ulangi lagi inti dari perasaan mereka. Misalnya, "Ibu tahu kalian kecewa. Ibu juga sedih karena harus membatalkan liburan. Tapi ibu janji, liburan di rumah juga pasti menyenangkan." Yakinkan kepada mereka bahwa semua hal ini bisa dilewati bersama-sama. Jangan terlalu panik dan bicara terlalu banyak tentang masalah dan pikiran Anda. Anak-anak tidak perlu harus tahu secara mendetail masalah keuangan yang tengah dihadapi oleh orangtua mereka.

  • Hindari menunjukkan rasa sedih di depan anak

  • Walaupun Anda merasa berat menghadapi masalah ini, usahakan agar selalu terlihat tegar di depan anak. Jika si kecil melihat Anda bersedih, ia akan merasa tidak tenang dan gelisah. Selalu terlihat tabah juga akan membuat anak belajar bahwa ia harus kuat walau ditimpa musibah.

  • Minimalisasi perubahan dalam kegiatan sehari-hari

  • Tunjukkan pada anak, walau orangtua kehilangan pekerjaan, hidup akan terus berjalan seperti biasanya. Jaga rutinitas sehari-hari, seperti makan malam bersama di rumah, sampai menemani anak mengerjakan PR. Membuat perubahan drastis akan membuat anak merasa tidak nyaman, sehingga Anda perlu menekan perubahannya seminim mungkin.

  • Bangkitkan rasa gotong royong keluarga

  • Jelaskan pada anak bahwa Anda perlu memotong berbagai pengeluaran agar kebutuhan primer tetap terpenuhi. Ini berarti tidak ada mainan baru, jalan-jalan, atau makan di luar sampai kondisi memungkinkan.

  • Namun tunjukkan juga dukungan Anda jika pasangan yang kehilangan pekerjaan. Berikan contoh pada anak-anak, dengan cara selalu ada di samping pasangan saat ia membutuhkan teman untuk mengeluarkan unek-uneknya. Jadilah pendengar yang baik dan bantu tenangkan emosinya. Tanamkan di benak anak-anak, bahwa melalui dukungan dari orang terdekat, ayah dan ibu dapat menjaga emosi agar tetap stabil.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ketika Anda harus menjelaskan soal kehilangan pekerjaan pada anak

Kehilangan pekerjaan merupakan benturan keras, tak hanya bagi yang mengalami, namun juga bagi anggota keluarganya. Lalu bagaimana menjelaskan soal ini kepada anak-anak, yang akan mengalami banyak perubahan ke depannya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr