Dilema dan perasaan para wanita karier yang tidak diketahui orang banyak

Otak wanita bagaikan komputer yang seluruh 'tab'-nya terbuka. Begitu katanya, ditambah lebih banyak menggunakan perasaan ketimbang logika, maka seringkali dilema di ranah pekerjaan jadi lebih memusingkan ketimbang pria.

759 views   |   7 shares
  • Hal yang lumrah jika para wanita memang lebih sering mengandalkan perasaannya dalam menjalani hidup, ketimbang logika. Sebetulnya baik, apalagi dalam mengurus anak sebab membesarkan seorang anak memang butuh kelembutan dan kasih sayang. Namun, bagaimana jika perasaan lebih dikedepankan saat berada di lingkungan pekerjaan?

  • Wanita tidak menyenangkan

  • Faktanya, jumlah wanita di dunia kerja memang terus meningkat setiap tahunnya. Namun ternyata para karyawan wanita pun lebih memilih untuk bekerja sama dengan kolega pria ketimbang wanita. Para pakar menduga, para wanita memang tidak suka bersaing dengan sesama wanita di dunia kerja. Mereka beranggapan, peluang mereka untuk naik ke jenjang lebih tinggi akan lebih besar jika mereka bekerja seperti pria. Selain itu, para wanita juga sering mem-bully kolega wanitanya.

  • Sebuah survei yang dilakukan oleh Pew Research Center terhadap 2.000 orang menunjukkan mayoritas pria dan wanita tidak mempertimbangkan jenis kelamin dalam hal kolega di kantor. Namun, 22 persen menjawab tidak suka punya rekan kerja seorang wanita. Ironisnya, responden yang menjawab seperti itu kebanyakan adalah karyawati.

  • Survei lain yang dilakukan pada tahun lalu oleh Gallup menunjukkan hasil yang hampir sama. Para karyawan wanita mengaku lebih suka punya bos seorang laki-laki. "Meski saya perempuan, saya punya persepsi negatif terhadap karyawan perempuan. Saya lebih suka bekerja dengan karyawan pria," kata salah seorang responden. Alasan lain yang sering diungkapkan sebagai kelebihan bos pria adalah bicara secara langsung dan tidak gampang dipengaruhi mood.

  • Multitasking

  • Ya memang, tenggat waktu, beban target kerja, dan dorongan untuk mendapatkan promosi jabatan tentunya membuat pikiran penat dan setiap pekerja pun mengalami stres, terutama untuk karyawan wanita. Pasalnya, menurut penelitian terbaru wanita yang mengalami stres di tempat kerja sangat tinggi ketimbang karyawan pria.

  • Penelitian dari Health and Safety Executive ini menunjukkan bahwa 68.000 wanita Inggris dengan rentang usia 35-44 tahun mengalami stres di tempat kerja. Jika dibandingkan dengan karyawan pria berusia sama, maka terlihat perbedaan cukup signifikan. Sebab, penelitian mengungkapkan bahwa karyawan pria yang ditemukan stres hanya berjumlah 46.000 orang. Waw, setengahnya!

  • Selain itu, penelitian juga menunjukkan, terdapat 78.000 wanita berusia 45 hingga 54 tahun yang mengalami stres di kantor. Sementara itu, hanya 58.000 pria di kisaran usia yang sama menderita stres karena pekerjaan. "Hasil penelitian memperlihatkan bahwa wanita lebih berpotensi mengalami cemas, stres, dan depresi. Hal ini terjadi lantaran banyak wanita yang berperan menjadi tulang punggung keluarga sekaligus mengurus rumah tangga," ujar Dr Iris Elliott, Head of Policy and Research di the Mental Health Foundation.

  • Advertisement
  • Tidak siap menjadi sukses

  • Ya, dilema yang dialami wanita bekerja memang lebih kompleks ketimbang pria. Sebuah penelitian dari University of California merangkum bahwa masih banyak wanita yang ragu untuk mendaki puncak karier atau mengembangkan bisnis karena takut menjadi terlalu sukses. Rasa ragu dan pertimbangan utama kebanyakan wanita, menurut studi, khawatir mengorbankan keluarga demi karier dan pencapaian bisnis.

  • Studi menyebutkan bahwa keraguan ini tidak terlihat pada pria. Sebaliknya, pria cenderung jauh lebih optimis dan percaya diri untuk mencapai sukses setinggi-tingginya tanpa beban. "Kami menemukan bahwa banyak wanita yang merupakan pengambil keputusan di rumah menjadi tidak ambisius dalam mengejar sukses," ujar Serena Chen, psikolog dari University of California.

  • Pentingnya berbagi tugas dengan suami

  • Selain itu, dorongan mengasuh anak, menyelesaikan tugas rumah tangga, dan mengurus anggaran keluarga berdampak pada gaya wanita dalam berkarier di tempat kerja. "Supaya terjadi keseteraan gender di kehidupan personal dan profesional, maka wanita disarankan untuk juga berbagi tugas dalam mengambil keputusan soal urusan keluarga dengan suami," urainya. Berbagi tugas dan pilihan dalam rumah tangga, kata Chen, memberikan ruang untuk wanita mengaktualisasi diri sesuai minat dan impian mencapai sukses.

  • Tuntutan pekerjaan, tuntutan rumah tangga, mengasuh anak, membuat wanita menjadi lebih mumet. Ini yang menyebabkan para wanita di kantor, tidak se-santai pria, dan jadi tak menyenangkan untuk diajak bekerja sama. Bahkan oleh rekan wanita lainnya. Pelampiasannya kerap kali melalui bullying, gosip dan mengedepankan perasaan.

  • Stop baper dan mulai rileksasi

  • Oleh karena itu Elliott menganjurkan agar karyawan wanita jangan terlalu terbawa perasaan dan sensitif berlebihan ketika menghadapi konflik di kantor. "Anda bisa melakukan terapi pernapasan untuk menenangkan diri atau Anda bisa mulai berlatih yoga dan rileksasi," ujar Elliott.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Dilema dan perasaan para wanita karier yang tidak diketahui orang banyak

Otak wanita bagaikan komputer yang seluruh 'tab'-nya terbuka. Begitu katanya, ditambah lebih banyak menggunakan perasaan ketimbang logika, maka seringkali dilema di ranah pekerjaan jadi lebih memusingkan ketimbang pria.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr