5 mitos ketakutan pasangan muda untuk menjadi orangtua

Tidak ada seorang pun yang pernah menjadi orangtua sebelumnya, kita semua hanya dituntut untuk melakukan yang terbaik bagi anak-anak kita.

325 views   |   2 shares
  • Siklus kehidupan manusia akan selalu sama setiap generasi. Dari lahir hingga akhir hayatnya akan melalui masa-masa yang juga dilalui oleh kebanyakan orang dan begitu seterusnya. Saat berusia 17 tahun, setiap remaja akan mengalami masa pubertas yang membuatnya mulai memberikan perhatian pada lawan jenisnya. Hubungan asmara akan mulai mewarnai kehidupan manusia saat masa ini sampai hingga memasuki masa di mana mereka sudah harus memikirkan untuk menikah dan berkeluarga. Keputusan untuk menikah dan melepaskan masa lajang adalah salah satu keputusan besar yang harus dibuat selain dari keputusan-keputusan lain di dalam menjalani kehidupan. Bagi beberapa pasangan, memutuskan untuk menikah ada yang mantap melakukannya, namun ada pula yang meski sudah berusia cukup dan lebih siap justru tidak berani melangkah ke dalam jenjang kehidupan ini karena merasa takut pada pernikahan dan berumah tangga.

  • Hal seperti inilah yang sebenarnya juga turut membuktikan bahwa menikah dan berumah tangga adalah sebuah keputusan yang besar dalam hidup. Karena memang menikah dan berumah tangga bukan hanya soal fase hidup saat itu saja, tetapi ada berbagai komitmen besar yang harus diambil setelahnya seperti halnya memiliki buah hati. Berbagai mitos yang berkembang di masyarakat akan hal ini pun turut memperburuk suasana yang membuat banyak pasangan khususnya wanita menjadi relatif takut untuk memiliki anak dan segera menjadi orangtua setelah menikah, yang padahal ternyata seharusnya hal-hal tersebut sama sekali tidak perlu dikhawatirkan. Mitos-mitos itu adalah:

  • 1. Perubahan fisik setelah memiliki anak membuat stres

  • Pendapat ini tidak seharusnya membuat wanita takut untuk memiliki anak, perubahan fisik yang terjadi setelah melahirkan tidak akan menjadi masalah karena tentu menjadi perjuangan untuk mendapatkan anugerah yang tak ternilai.

  • 2. Melahirkan anak sangat menyakitkan

  • Kekhawatiran akan hal inilah sebenarnya yang justru membuat proses persalinan menjadi semakin sulit dan terasa sangat menyakitkan. Tetap berpikir positif dan percaya bahwa persalinan akan berjalan dengan lancar akan membuat segalanya menjadi lebih mudah untuk dilakukan.

  • 3. Memiliki anak membuat kantong kempes

  • Anak adalah salah satu harta tak ternilai yang kita miliki bahkan melebihi apapun yang sudah kita miliki sebelumnya. Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika hidup memiliki tujuan yang pasti demi anak-anak kita.

  • 4. Takut gagal menjadi orangtua yang baik

  • Advertisement
  • Tidak ada seorang pun yang pernah menjadi orangtua sebelumnya, kita semua hanya dituntut untuk melakukan yang terbaik bagi anak-anak kita. Kesalahan di dalam prosesnya tentu menjadi bagian yang akan menjadikan kita semakin baik dan bijaksana bagi mereka.

  • 5. Takut pernikahan tidak langgeng

  • Ketakutan akan pernikahan yang tidak langgeng tidak seharusnya menjadi alasan untuk takut mengambil komitmen untuk memiliki anak dan menjadi orangtua. Beberapa hubungan justru menjadi lebih dekat dan hangat ketika telah memiliki buah hati di tengah-tengah kita.

  • Itulah kelima mitos yang sering menjadi pikiran negatif para pasangan muda sehingga membuat mereka menunda untuk berkomitmen untuk memiliki anak. Untuk itulah perlu sekali untuk selalu berpikir positif agar kehidupan ini menjadi jauh lebih mudah untuk dijalani. Percayalah bahwa segala niat baik akan selalu mendapatkan hasil yang baik pula bagi diri kita dan pasangan serta buah hati kita sebagai satu keluarga yang bahagia.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Andreas Kurniawan lulus sarjana S1 Teknik Informatika tahun 2009 di STMIK MDP. Memulai karir sebagai IT officer di sebuah Bank selama 1 tahun sebelum akhirnya bekerja di PT. Thamrin Brothers sebagai analis sampai saat ini. Email:

5 mitos ketakutan pasangan muda untuk menjadi orangtua

Tidak ada seorang pun yang pernah menjadi orangtua sebelumnya, kita semua hanya dituntut untuk melakukan yang terbaik bagi anak-anak kita.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr