Mengenal Pospartum Depression Syndrome, si pengintai para ibu baru

Banyak yang belum menyadari betapa berbahaya kondisi ini hingga dapat mengancam nyawa para ibu yang baru melahirkan.

558 views   |   7 shares
  • Pascamelahirkan seorang ibu seharusnya merasakan perasaan bahagia yang tidak terungkapkan kata-kata. Namun, dalam beberapa kasus seorang ibu justru merasakan perasaan yang sebaliknya, sedih berkepanjangan. Dunia medis menyebut situasi semacam ini dengan istilah Baby Blues Syndrome (BBS)_.

  • BBS merupakan kondisi kejiwaan yang umum dialami oleh banyak ibu pascamelahirkan, karenanya masih dapat dikategorikan wajar. Hanya saja gejala yang ditunjukkan oleh penderita BBS tetap harus diwaspadai, sebab gangguan ini bisa berubah menjadi Pospartum Depression Syndrome (PDS).

  • Beberapa artikel kesehatan menjelaskan secara gamblang bahwa antara Baby Blues Syndrome dan Pospartum Depression Syndrome ternyata memiliki perbedaan yang mendasar. Meskipun demikian ciri-ciri gangguan yang muncul tetap bisa dikategorikan sama, hanya saja gejala serta lama waktu kejadian membedakan kedua kondisi ini.

  • Bagaimana cara membedakannya?

  • Pada beberapa kasus ibu hamil dengan Pospartum Depression Syndromeakan merasakan berbagai gejala emosional lebih sering, lebih kuat dan lebih tahan lama. Dibutuhkan kejelian untuk mengenali serta membedakan apa kondisi yang tengah dialami si ibu adalah Pospartum Deperession Syndromeatau hanya sekedar gejalaBaby Blues Syndrome ringan.

  • Adapun bentuk-bentuk dari Pospartum Depression Syndrome (PDS)berdasarkan gejala yang ditunjukkan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:

  • Pertama

  • , Pospartum Blues Syndrome: gangguan mental ringan di mana terjadi pada hari pertama hingga hari kelima pascamelahirkan. Ciri-ciri yang dapat dikenali adalah terjadinya perubahan suasana hati, kerap menangis, mudah tersinggung mudah marah, sulit berkonsentrasi, tidur tidak nyenyak, dan hilangnya nafsu makan.

  • Kedua

  • , Chronic Depressive Syndrome: gangguan mental kronis terjadi hampir 20% dari keseluruhan persalinan. Ibu-ibu dengan kondisi (CDS) umumnya menunjukkan tanda-tanda depresi, tidak percaya diri, mudah menangis, mudah tersinggung, mudah marah, gampang kelelahan, dan tidak memiliki semangat hidup.

  • Advertisement
  • Ketiga

  • , Pospartum Psychosis atau Puerperal Psychosis Syndrome: ini adalah efek paling berbahaya dari gangguan (PDS). Pada kondisi ini penderita akan mengalami halusinasi pada indera penglihatan dan pendengarannya, bahkan tak jarang disertai dengan perbuatan kekerasan fisik. Dalam kondisi semacam ini penderita butuh penanganan medis sesegera mungkin, sebab makin cepat gejala PPS ditangani makin cepat proses pemulihannya.

  • Apa penyebab Pospartum Depression Syndrome?

  • Masih banyak perdebatan di antara para ahli mengenai penyebab munculnya PDS pada ibu pascamelahirkan. Namun hampir sama seperti pada kasus kejiwaan lainnya, terjadinya PDS lebih sering diakibatkan oleh tekanan faktor eksternal selama kehamilan seperti pertengkaran dengan suami, masalah rumah tangga, lingkungan tempat tinggal yang kurang kondusif, dan masalah ekonomi. Selain itu, faktor internal pada tubuh si ibu juga berpengaruh besar terjadinya PDS pascamelahirkan, seperti: Perubahan hormonal selama kehamilan, tekanan menjadi ibu baru, riwayat keluarga dengan depresi, kurangnya kasih sayang dari pasangan, pengalaman masa lalu yang buruk, dan kondisi kesehatan.

  • Bagaimana mengatasi Pospartum Depression Syndrome?

  • Mengutip Kompas Tekno, sedikitnya ada 6 cara yang bisa dilakukan agar para ibu dapat menghindari PDS pascamelahirkan. Namun demikian, pemeriksaan secara medis oleh para ahli tentu lebih akurat sehingga gejala PDS yang muncul bisa diatasi sedini mungkin.

  • 1. Tingkatkan keharmonisan rumah tangga

  • Di dalam rumah tangga yang harmonis kemungkinan seorang ibu hamil terserang PDS jauh lebih rendah. Tidak hanya itu, kehadiran suami pada masa kehamilan sang istri juga sangat penting bagi kesehatan psikologisnya.

  • 2. Mengonsumsi makanan sehat

  • Makanan sehat yang dikonsumsi selama kehamilan sangat memengaruhi kondisi mental seseorang. Makanan sehat tidak hanya mampu menutrisi ibu hamil dan janinnya, tetapi juga bisa mencegah munculnya PDS pascamelahirkan.

  • 3. Kenali risiko Anda

  • Advertisement
  • Cari tahu apakah ada riwayat PDS pada keluarga Anda sebelumnya. Menurut para ahli, riwayat PDS pada keluarga juga dapat menurunkan risiko seorang ibu juga mengalami kondisi yang serupa. Oleh karena itu, persiapan yang telah dilakukan jauh-jauh hari sebelum persalinan mampu membuat ibu hamil siap menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.

  • 4. Perbanyak istirahat

  • Seorang calon ibu sebaiknya tidak perlu bekerja terlalu keras selama masa kehamilan. Ibu hamil juga tidak boleh terlalu stres karena dapat memengaruhi kondisi kesehatannya dan juga kesehatan janin yang ada di dalam kandungan.

  • 5. Perbanyak aktivitas fisik

  • Rutin melakukan olahraga ringan selama masa kehamilan justru sangat disarankan. Olahraga mampu membuat tubuh ibu hamil selalu bugar, sehingga tidak memberi kesempatan bagi hormon kortisol pemicu stres, memengaruhi dirinya.

  • 6. Tingkatkan keimanan

  • Sebagai manusia kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Oleh karena itu selama masa kehamilan tingkatkan keimanan agar kehidupan semakin tenang. Dekatkan diri kepada Tuhan supaya hati serta pikiran selalu dikuatkan.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Saya adalah seorang karyawan di salah satu bank swasta terkemuka di Indonesia. Saya juga saat ini sedang menempuh kuliah untuk mengejar gelar sarjana saya. Untuk mengisi waktu luang saya memanfaatkannya dengan menulis dan membaca.

Mengenal Pospartum Depression Syndrome, si pengintai para ibu baru

Banyak yang belum menyadari betapa berbahaya kondisi ini hingga dapat mengancam nyawa para ibu yang baru melahirkan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr