Suami ternyata tidak siap dengan komitmen pernikahan. Apa yang harus saya lakukan?

Apa solusinya jika suami tercinta menganggap komitmen sebagai beban dan belenggu hidupnya?

1,007 views   |   4 shares
  • "Selamat menempuh hidup baru". Begitulah ucapan yang ditujukan pada pasangan yang baru saja menikah. Ucapan ini disikapi dengan beragam respons oleh para pria, yang mendapatkan amanah baru sebagai pemimpin keluarga. Ada yang bangga, karena mendapatkan gelar kepala keluarga. Ada yang harap-harap cemas, bertanya-tanya petualangan macam apa yang menanti di depan sana? Ada pula yang di dalam hatinya menggerutu, karena harus meratapi hilangnya kebebasan.

  • Para pria yang termasuk golongan terakhir, pada dasarnya belum benar-benar siap berkomitmen. Mereka memandang komitmen sebagai belenggu. Aturan-aturan yang mayoritas berisi larangan yang membatasi gerak mereka. Tuntutan yang menghadirkan sederet tekanan dan sumber stres.

  • Simak, apakah suami Anda menunjukkan beberapa ciri belum siap berkomitmen serius seperti ini?

    • Memandang pernikahan sebagai hal negatif

    • Mengatakan "cinta" kepada Anda, namun tidak menunjukkan bukti nyata dari kata-kataya (bersikap dingin, melakukan hubungan intim sekadar sebagai penyaluran hasrat, melakukan kekerasan rumah tangga)

    • Tidak jujur dan terbuka kepada Anda (banyak menyimpan rahasia)

    • Menganggap bercerai adalah pilihan yang logis dan mudah dilakukan

    • Tidak memiliki pandangan yang sama dengan Anda pada hal-hal prinsipil (soal agama, jalan hidup, dan sejenisnya)

    • Jarang menghabiskan waktu (berkualitas) dengan Anda

    • Berdebat dengan Anda dengan topik serupa secara berulang-ulang

    • Terbebani dengan tanggung jawab baru sebagai pasangan dan orang tua (misalnya, enggan mengantar Anda pergi, tidak mau mengurus rumah tangga bersama)

    • Menginginkan kebebasan yang sama seperti masa lajang

  • Daftar ini dapat bertambah panjang, dengan berbagai pola tingkah suami yang membuat Anda gusar dan mengurut dada. Pada dasarnya, suami tidak memandang komitmen sebagai sebuah kesempatan pendewasaan diri. Keadaan seperti ini lumrah terjadi saat pernikahan terjadi tidak tulus semata untuk grow old with you. Pernikahan yang terjadi karena kehamilan yang tidak diinginkan, perjodohan yang dilakoni setengah hati, bentuk pembayaran "hutang" baik materi maupun balas budi, menikah demi menangkis omongan miring dari masyarakat (takut terlalu tua saat menikah, sudah terlalu lama berpacaran) adalah beberapa kondisi yang membuat pernikahan diambil sebagai "jalan pintas" solusi masalah.

  • Advertisement
  • Sepatutnya komitmen muncul sebagai tanda cinta sejati Anda. Komitmen adalah kesepakatan Anda dan pasangan untuk menjaga dengan baik, hubungan yang telah diresmikan di mata Sang Pencipta. Kesepakatan ini dijalani dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Saat komitmen dipaksakan, yang muncul hanyalah kepatuhan yang diliputi rasa segan dan takut. Sesuatu yang pada akhirnya malah menggerogoti jiwa Anda dan berpotensi untuk dipatahkan oleh godaan maupun sesuatu yang melanggar norma.

  • Menghadapi suami yang belum sepenuhnya kuat menjalani komitmen pernikahan, memang bukan semudah membalikkan telapak tangan. Waktu dan proses akan Anda lalui, seiring dengan upaya yang konsisten. 4 usaha ini dapat Anda coba untuk memperkuat komitmen suami atas rumah tangga Anda:

  • 1. Bergeraklah untuk mandiri

  • Salah satu faktor yang membuat pria enggan keluar dari zona nyamannya adalah tetap tinggal bersama orang tua setelah menikah. Sedikit banyak, orang tua memiliki andil untuk turut memegang kendali dalam rumah tangga Anda, karena Anda tinggal di dalam properti miliknya. Sangat disarankan, Anda dan suami tinggal terpisah dari para orang tua. Jika Anda belum sanggup membeli rumah, menyewa properti dapat menjadi pilihan. Setidaknya, dengan membangun "sarang" Anda sendiri, Anda akan lebih leluasa membuat dan menjalani kesepakatan. Tanpa adanya komentar, saran yang kurang tepat sasaran, atau pertimbangan lain yang membuat Anda berdua kehilangan fokus untuk belajar bertanggung jawab.

  • 2. Perpanjang masa "berpacaran"

  • Segala perubahan yang radikal dan tiba-tiba, umumnya menghadirkan rasa terkejut dan tak jarang penolakan. Lalui masa adaptasi pernikahan dengan tetap melakukan kegiatan yang mesra dan intim dengan pasangan. Rutin melakukan date night, menghabiskan waktu berkualitas dengan menjalankan hobi bersama, menjadikan hubungan seks sebagai making love yang mengekspresikan rasa cinta Anda berdua, adalah beberapa contoh kegiatan yang dapat Anda coba. Apalagi jika sebelum menikah, Anda jarang menghabiskan waktu berdua, karena masa pacaran singkat, long distance relationship, atau justru menikah tanpa masa perkenalan dan berpacaran melalui perjodohan.

  • Advertisement
  • 3. Menunda untuk kesiapan lebih baik

  • Jika Anda sendiri masih berjuang untuk nyaman merajut rumah tangga dengan suami, sementara tak ada salahnya Anda tetap mengisi bahtera dengan dua penumpang saja. Memiliki anak adalah sebuah keputusan besar dan membutuhkan tenaga sepasang orang tua untuk mengasuhnya secara paripurna. Bukan sebatas "menebar benih", kemudian membiarkan Anda bekerja keras sendirian membesarkan buah hati Anda. Sepanjang keputusan Anda untuk menunda memiliki momongan, disertai upaya menjaga kesehatan dan mempersiapkan mental serta materi, sah-sah saja untuk Anda melakukannya.

  • 4. Tidak selalu berdua saja

  • Menikah memang membawa perubahan dalam gaya sosialisasi Anda, namun bukan berarti membuat Anda seperti burung dalam sangkar. Pria pada dasarnya memang membutuhkan waktu bercengkerama khusus dengan sahabat-sahabat prianya, tanpa campur tangan dan kehadiran para wanita. Sekali waktu, mereka ingin melepaskan "topeng" yang mereka pasang untuk menjaga perasaan Anda dan membuat mereka menjadi lelaki bertanggung jawab. Ada rasa cemas menggelayuti Anda? Bagaimana jika Anda coba cara ini. Buatlah janji dengan teman-teman wanita Anda di waktu yang sama dan lokasi berdekatan dengan tempat nongkrongsuami. Anda dapat berangkat dan pulang bersama, hanya berpisah untuk pertemuan. Ini adalah sebuah tindakan kompromi, dimana Anda dan suami dapat menikmati me time, namun tetap menghargai status sebagai pasangan resmi.

  • Apabila Anda telah berjuang untuk melakukan perbaikan demi penguatan komitmen suami Anda dan belum menemui hasil yang diharapkan, sudah waktunya Anda dan suami menemui seorang profesional (seperti psikolog dan konselor pernikahan) untuk membenahi ini. Perlu ada seseorang yang objektif dan kompeten untuk menggali permasalahan Anda serta membimbing Anda menuju solusi-solusi. Sepahit apapun jalan yang nanti Anda lalui, percayalah bahwa akan ada jalan terbaik untuk Anda berdua, sepanjang Anda terus berikhtiar dan berdoa.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Suami ternyata tidak siap dengan komitmen pernikahan. Apa yang harus saya lakukan?

Apa solusinya jika suami tercinta menganggap komitmen sebagai beban dan belenggu hidupnya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr