Seni dan resep membangun pernikahan yang perlu Anda tahu

Anda dan pasangan membawa 'warna' yang berbeda satu sama lain dan kini meleburnya dalam biduk rumah tangga. Seperti apakah 'warna baru' dari Anda berdua?

964 views   |   1 shares
  • Salah satu nasihat yang paling saya ingat ketika masih lajang dulu adalah tentang menikah bukan hanya menikahi pasanganmu. "Kamu tidak hanya menikah dengan dia namun juga dengan keluarganya, keluarga besarnya. Jadi, kalau kamu sudah merasa tidak sanggup, mending stop sekarang." Begitu kira-kira nasihat yang saya dengar. Nasihat yang benar adanya dan saya alami sendiri.

  • Saya dan suami saya berasal dari budaya yang berbeda. Saya termasuk darah Sumatra sedangkan suami Jawa. Budayanya berbeda. Hal ini kadang dan dulu cukup sering memicu konflik di antara kami. Belum lagi masalah tata krama dalam keluarga kami yang berbeda. Budaya keluarga besar saya cenderung melepas anak-anaknya yang sudah dewasa apalagi sudah menikah. Sedangkan keluarga suami bertolak belakang. Saya yang lebih suka hal yang praktis seringkali bentrok dengan budaya di keluarga suami yang memiliki ikatan yang kuat dan kepedulian yang besar satu sama lain.

  • Pernah, suami mengajak saya liburan setelah saya resign dari kantor dan sedang hamil besar. Dalam pikiran saya, kami akan menikmati waktu berdua, babymoon. Hal yang tidak akan terulang dalam waktu dekat. Sang suami ternyata berpikiran lain. Seru dan menyenangkan bisa berlibur beramai-ramai dengan keluarga. Setelah saya mengemukakan isi hati saya kepada suami pun, ternyata keinginan saya tidak dapat terpenuhi. Ini tentu sempat membuat saya 'bete', namun akhirnya saya belajar menerima dan memutuskan untuk menikmati liburan saya waktu itu. Dan ya saya cukup menikmati liburan kala itu.

  • Bisa dipastikan kalau saja saya waktu itu bersikeras hanya ingin pergi berdua, atau saja saya tidak berespons dengan benar, liburan akan berubah menjadi musibah. Suami pun pasti akan berada di posisi yang sulit karena berada di tengah-tengah. Saya akan 'bete' selama 1 minggu itu sehingga yang lain juga pasti akan merasa tidak enak dan saya pun akan membuang waktu saya dengan ke-'bete'-an saya itu. Saya belajar untuk menurunkan ego saya dan bertemu dengan suami di tengah.

  • Bukankah demikianlah seni dalam membangun bahtera rumah tangga? Kesepakatan suami istri itu adalah hal yang pokok dan utama. Jika tidak ada kesepakatan, timpanglah rumah tangga tersebut. Membesarkan anak butuh kesepakatan suami-istri, mau usaha juga butuh kesepakatan suami-istri. Hal yang gampang diucapkan namun terkadang sulit untuk dilakukan apalagi jika ego masing-masing besar. Harus ada yang bersedia mengalah dan pihak 1 lagi bukan berarti tidak ada kontribusinya sama sekali. Jika suami sudah bersedia mengalah, maka sang istri pun wajib untuk bersedia naik level. Selayaknya sedang menaiki tangga. Bila suami tidak bersedia turun dan istri tidak bersedia naik, maka tidak akan pernah bertemu dan mencapai kesepakatan. Misalnya saja dalam urusan waktu kencan. Istri menginginkan kencan seharian dari pagi sampai malam setiap Sabtu, sedangkan suaminya kerja setengah hari di hari Sabtu dan merasa lelah jika harus pergi-pergi lagi. Istri perlu menurunkan egonya untuk kencan mulai dari sore sedangkan suami juga perlu bersedia mengajak istrinya pergi kencan keluar. Bila mereka tidak bersedia 'turun tangga' dan 'naik tangga' mereka tidak akan bertemu dan mencapai kesepakatan. Ujung-ujungnya adalah cekcok dan perselisihan. Ini tentu membutuhkan jam terbang pastinya.

  • Advertisement
  • Hal yang tidak kalah penting adalah menentukan warna dari keluarga kita sendiri. Tidak boleh lagi membawa warna dari keluarga suami dan warna dari keluarga istri. Ketika suami istri telah menjadi satu, maka warna yang dibawa masing-masing harus dilebur dan menjadi warna yang baru, warna keluarga kita. Entah dalam urusan mengelola keuangan keluarga, mengurus anak atau urusan rumah tangga lainnya termasuk nilai-nilai yang akan kita terapkan dalam keluarga kita. Setelah kita memiliki warna keluarga kita sendiri dan kesepakatan-kesepakatan yang dicapai, itu adalah modal untuk kita membina rumah tangga kita.

  • Jangan juga lupakan, sediakanlah ruang kegagalan dan ruang maaf dalam kapal rumah tangga Anda. Ruang kegagalan untuk menerima bahwa pasangan kita tidak sempurna dan terkadang mengalami kegagalan. Ruang di mana kita juga belajar bahwa kita tidak sempurna dan bisa gagal. Jadilah orang yang pertama mendukung pasangan ketika dia sedang gagal bukannya menjadi orang pertama yang menghakimi dia. Begitu juga dengan ruang maaf, ini butuh ruang yang besar dan lebar. Maafkanlah pasangan Anda bila dia melakukan kesalahan. Bila pintu maaf rasanya sulit diberikan, ingatlah hari di mana Anda berdua mengikat janji suci untuk membangun rumah tangga, hari di mana kalian berdua berjanji untuk bersama selamanya.

  • Dan tak kalah pentingnya adalah, jatuh cintalah setiap hari kepada istri atau suami Anda.

  • "Marriage is not a noun, it's a verb. It isn't something you get, it's something you do. It's the way you love your partner everyday." Barbara De Angelis.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Setelah lulus dari kuliah IT, saya menjadi guru TK selama 7 tahun. Tidak jarang selain menghadapi murid saya juga memberi masukan kepada orangtua murid dari sisi seorang guru. Membaca, menulis dan musik adalah hobi saya. Setelah menikah saya langsung dikaruniai 1 putera yang lucu, saya menjadi ibu penuh waktu dan mulai mengembangkan hobi dan talenta saya yaitu membuat kue atau memasak. Saya senang mengumpulkan berbagai resep dan mencobanya di waktu senggang (yang tidak banyak) saya.

Seni dan resep membangun pernikahan yang perlu Anda tahu

Anda dan pasangan membawa 'warna' yang berbeda satu sama lain dan kini meleburnya dalam biduk rumah tangga. Seperti apakah 'warna baru' dari Anda berdua?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr