Sirkus satwa bukan sarana hiburan apalagi edukasi anak. Ini alasannya

Dari semua fakta yang terpampang nyata, sirkus merupakan bentuk perbudakan dan eksploitasi hewan-hewan di masa modern. Apakah Anda menginginkan lingkaran setan ini terus berlanjut?

35,581 views   |   1 shares
  • Mengenal dunia fauna adalah salah satu pembelajaran yang mengasyikkan bagi anak. Berbagai ilmu mengenai perilaku dan kehidupan hewan, begitu menarik untuk diketahui. Banyak cara yang dilakukan orang tua untuk menghadirkan pembelajaran dunia satwa kepada anak-anak tercinta. Mulai dari membekali dengan buku-buku, mainan, tayangan di media elektronik, hingga membawa anak berinteraksi langsung dengan hewan-hewan.

  • Melihat atau bahkan bisa memegang aneka hewan, termasuk hewan liar yang biasanya tinggal di alam bebas, dipandang sebagai peluang untuk sebagian pebisnis. Dari sinilah lahir pertunjukkan sirkus yang mempertontonkan atraksi-atraksi ketangkasan yang dilakukan oleh satwa-satwa, khususnya satwa liar.

  • Sirkus yang menampilkan satwa, sebenarnya telah dimulai sejak abad ke-18. Sejarah sirkus pun berkembang, mulai dari hanya menampilkan atraksi berkuda, hingga akhirnya para penghuni rimba dan samudera turut mengisi pertunjukan, bahkan menjadi bintangnya.

  • Namun, apakah sesungguhnya sang bintang benar-benar menikmati ketenarannya?

  • Pertama, menjadi bagian dari pertunjukan, berarti para satwa ini telah kehilangan hak dan kebebasannya untuk hidup alami di habitat aslinya. Mereka tak lagi dapat berlari bebas di padang rumput, menikmati makanan yang mereka dapatkan sendiri, berkembang biak sesuai siklusnya dengan pasangan yang mereka pilih sendiri, dan banyak lagi keseharian yang sepatutnya mereka jalani sesuai kodratnya. Semua berganti dengan kesuraman di dalam kandang, jadwal bekerja yang telah ditetapkan, dan keharusan untuk tunduk kepada sang manusia pengendali hidup-mati mereka. Belum lagi kelalaian-kelalaian yang menyebabkan para hewan ini hidup dalam lingkungan yang kotor dan tak terjaga. Mereka pun rentan terkena penyakit, yang akhirnya memangkas harapan hidup mereka.

  • Kedua, para satwa ini harus menghadapi proses-proses yang tidak mengenakkan, bahkan menyakitkan demi melatih ketangkasan dan kesiapan mereka di atas panggung. Cambukan, pukulan, setruman, bahkan tembakan bius, demi mengendalikan naluri hewani liar mereka dan mematuhi apa yang diinginkan oleh manusia-manusia di balik sirkus ini. Padahal, ketangkasan yang diharapkan tidak semuanya merupakan keterampilan yang telah dimiliki oleh sang hewan tersebut. Contohnya, atraksi harimau yang melompat ke dalam lingkaran api. Sesungguhnya, harimau sendiri memiliki ketakutan alami terhadap api. Namun, latihan yang kejam dan tak jarang menyiksa, membuat si loreng nan buas melawan naluri ini untuk mau menghadapi api yang menakutkan tersebut.

  • Advertisement
  • Ketiga, para satwa ini mengalami stres dan tekanan yang nantinya selain membahayakan diri mereka sendiri, juga mengancam manusia-manusia lain di sekeliling mereka. Sebut saja sirkus lumba-lumba yang populer di Indonesia. Makhluk pandai dari lautan biru ini hidup mengenaskan karena harus berada di kolam yang sempit dan berpindah-pindah. Belum lagi tuntutan untuk tampil mempertontonkan keenceran otak mereka di depan khalayak. Segala tekanan ini membuat lumba-lumba menjadi stres dan tidak menjalani hidup yang semestinya ia berhak dapatkan. Semua demi eksploitasi dunia hiburan yang komersil dan bergelimang uang. Harapan hidup lumba-lumba pun menipis dan ia lebih cepat menemui Sang Pencipta karena kesehatan jiwa serta raga yang tak terpelihara. Tekanan bertubi-tubi, juga dapat menimbulkan para satwa ini berontak. Ibarat bom waktu yang meledak dahsyat, kemurkaan para hewan teraniaya ini dapat berakibat fatal. Hewan buas, seperti harimau dan singa dapat menyerang brutal. Gajah-gajah melarikan diri dari arena, menginjak-injak siapapun yang ada di hadapannya, dan menjadikan segalanya porak poranda.

  • Sirkus menjadi sebuah perbudakan dan eksploitasi yang dilakukan oleh makhluk yang sepantasnya memiliki akal budi tertinggi di antara makhluk hidup lainnya. Dari semua fakta yang terpampang nyata, sudah sepatutnya kita sebagai orang tua berpikir ulang mengenai sirkus sebagai sarana edukasi dan hiburan anak-anak.

  • Apakah Anda menginginkan lingkaran setan ini terus berlanjut? Membiarkan generasi penerus bumi ini mendapatkan dasar pemikiran bahwa menyiksa dan menyakiti hewan-hewan adalah tindakan yang dibenarkan demi kesenangan manusia belaka?

  • Tersedia banyak alternatif untuk menambah wawasan dan ilmu anak mengenai kehidupan fauna, dengan cara yang lebih bijak serta manusiawi. Karena bumi dan isinya, bukan hanya milik manusia semata. Mari kenalkan kepada Si Kecil untuk menyayangi mereka, sebagai sesama ciptaan-Nya yang perlu dijaga.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Sirkus satwa bukan sarana hiburan apalagi edukasi anak. Ini alasannya

Dari semua fakta yang terpampang nyata, sirkus merupakan bentuk perbudakan dan eksploitasi hewan-hewan di masa modern. Apakah Anda menginginkan lingkaran setan ini terus berlanjut?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr