Memilih dokter spesialis anak = memilih jodoh

Hidup selalu diperhadapkan dengan pilihan, termasuk urusan memilih dokter. Ibarat memilih jodoh, tidak boleh sembarangan.

1,181 views   |   1 shares
  • Buat saya, memilih atau mengambil keputusan merupakan hal yang sulit dan sebisa mungkin dihindari. Bukan karena tidak mau bertanggung jawab namun lebih dikarenakan terlalu banyak pertimbangan dan terlalu banyak yang dipikirkan sehingga urusan memilih sebisa mungkin dihindari. Mulai dari urusan sepele seperti hendak membeli baju atau sepatu, banyak sekali pertimbangan. Mulai dari apakah nyaman, warnanya sesuai, ini dan itu. Termasuk dalam perkara memilih dokter.

  • Tapi rasanya saya tidak sendiri dalam urusan ini. Memilih dokter tentu tidak dapat dilakukan dengan sembarangan atau dengan melempar dadu untuk memilih dokter yang mana. Meminta rekomendasi dari saudara, teman, hingga mbah google akan dilakukan sebelum memutuskan untuk berobat ke dokter yang mana. Namun, terkadang setelah selesai bertanyapun tidak menjamin akan langsung mengambil keputusan dan menyisakan keraguan. Cara terakhir adalah memilih nama dokter yang dirasa cocok di hati. Maka, buat calon Ibu, berhati-hatilah dalam memberi nama pada calon buah hati Anda.

  • Namun, urusan memilih rumah sakit ketika akan melahirkan tidak menjadi masalah buat saya. Dari sebelum hamilpun saya telah menetapkan pilihan hati saya kepada RS St. Carolus Gading Serpong. Ini sedikit banyak karena cerita dan rekomendasi dari kakak saya. Track record rumah sakit ini bagus dan pro ASI, biaya juga tidak terlalu mahal. Tapi ternyata, lagi-lagi saya diperhadapkan pada pilihan yang susah ketika akan memilih dokter kandungan. Mulailah saya dengan ritual, bertanya pada kerabat, google, membaca forum-forum Ibu-ibu dan 'cocoklogi' nama dengan hati saya. Akhirnya waktu itu pilihan jatuh pada Dr. Djoko Kirana SPOG. Beliau detail dalam memeriksa kandungan, dan seorang pria. Kenapa pria? Entah, rasanya kalau untuk persoalan melahirkan yang butuh emosi stabil lebih percaya pada dokter pria. Semua berjalan lancar sampai memasuki bulan ke-7 ketika hendak mendaftarkan untuk periksa bulanan, resepsionis mengajukan pertanyaan yang membuat si ibu hamil yang gampang nangis itu, mendadak galau dan dirudung kesedihan. Dr. Djoko tidak lagi praktek di Carolus dan pindah ke rumah sakit lain yang lumayan jauh dari rumah.

  • Bisa dibayangkan kegalauan saya waktu itu, dilemma. Pilih dokter atau rumah sakitnya. Kakak saya memberi masukan yang membuat saya perlahan-lahan dapat memilih. Terlebih penting adalah rumah sakitnya. Dokter yang menangani kita dari awal kehamilan bisa saja tiba-tiba berhalangan ketika kita akan melahirkan. Nah, karena memang sudah kadung jatuh cinta pada Carolus, akhirnya saya mulai mencari dokter lain, yang artinya masalah baru lagi. Pilihan akhirnya jatuh pada Dr. Maria SPOG. Ya, kali ini pilihan saya jatuh pada dokter wanita. Hampir saja beliau tidak mendampingi saya ketika melahirkan karena hendak cuti. Namun, ternyata si bayi ingin dokter Maria lah yang membawa dia keluar dari rahim.

  • Advertisement
  • Setelah melahirkan, saya tentu saja masih berkutat dengan masalah memilih ini. apalagi kalau bukan memilih dokter anak untuk buah hati tercinta. Setelah setahun tidak berganti dokter dari dokter yang menangani dia dari lahir, saya akhirnya membawa dia ke dokter anak yang lain. Anak saya yang full ASI termasuk sering sakit batuk pilek dan demam yang mengakibatkan pertumbuhannya sedikit tertinggal dari teman seusianya. Atas rekomendasi dari mama, googling, saudara yang anaknya juga berobat ke dokter tersebut dan menunjukkan hasil yang baik, akhirnya saya memutuskan membawa anak saya ke dokter ini. Namanya Dr. Markus Danusantoso DSA. Dari hasil bertanya pada google dan rajin membaca forum, sedikit saya tahu dari profil dokter Markus ini. Ternyata beliau termasuk spesialis tumbuh kembang.

  • Kunjungan pertama sudah membuat saya mulai berpaling dari dokter anak sebelumnya. Anak saya dicurigai punya alergi terhadap produk tertentu sehingga membuat dia jadi mudah terserang penyakit. Setelah mengikuti saran dari beliau, memang terlihat nafsu makannya membaik dan lebih sehat. Sehingga papanya yang tadinya tidak mau gonta-ganti dokter akhirnya mau pindah ke dokter Markus ini. toh, anaknya lebih sehat sama dokter Markus. Catatan penting untuk dokter anak adalah, mampu berkomunikasi dengan ibu dari si anak, yang kadang suka bertanya macam-macam, dokter yang bisa menenangkan, tidak mudah memberi obat apalagi antibiotic, bisa menjelaskan kandungan dari obat yang diberi, dapat menjelaskan tentang penyakit. Karena, banyak dokter bagus tapi terkadang pelit bicara. Hanya menjawab ketika ditanya. 1 lagi yang membuat saya jatuh hati pada dokter ini, beliau mengirimkan pesan ke handphone saya yang isinya menanyakan kondisi anak saya yang belum terlalu lama berobat kesana.

  • Tapi, kalau untuk pilihan di pilkada ini, jelas saya tidak perlu banyak pertimbangan. :D

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Setelah lulus dari kuliah IT, saya menjadi guru TK selama 7 tahun. Tidak jarang selain menghadapi murid saya juga memberi masukan kepada orangtua murid dari sisi seorang guru. Membaca, menulis dan musik adalah hobi saya. Setelah menikah saya langsung dikaruniai 1 putera yang lucu, saya menjadi ibu penuh waktu dan mulai mengembangkan hobi dan talenta saya yaitu membuat kue atau memasak. Saya senang mengumpulkan berbagai resep dan mencobanya di waktu senggang (yang tidak banyak) saya.

Memilih dokter spesialis anak = memilih jodoh

Hidup selalu diperhadapkan dengan pilihan, termasuk urusan memilih dokter. Ibarat memilih jodoh, tidak boleh sembarangan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr