Seberapa penting obat cacing untuk anak Anda?

Dulu, obat cacing harus rutin diberikan 6 bulan sekali. Sekarang?

418 views   |   7 shares
  • Masih ingatkah dulu, waktu kecil, kita kerap minum obat cacing setiap enam bulan sekali sebagai upaya pencegahan? Ada juga saatnya harus membawa feses ke sekolah untuk diperiksa ada atau tidaknya telur cacing. Nah, apakah hal ini masih penting untuk dilakukan sekarang?

  • Perlukah kita rutin memberikan obat cacing bagi anak-anak kita yang masih belum mengenal pentingnya kebersihan? Anak-anak yang cenderung memasukkan tangannya ke dalam mulut saat bermain, tanpa mencuci tangan terlebih dulu?

  • Jika tidak ditangani dengan benar, cacingan dapat menyebabkan komplikasi lanjutan, seperti penyumbatan usus dan malabsorpsi nutrisi, ungkap dr. Tania Savitri, dokter umum di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, Bojonegoro.

  • Karena itu, rekomendasi minum obat cacing per enam bulan sekali sebagai perlindungan dari cacingan hanya dianjurkan pada mereka yang berisiko mengalami cacingan, antara lain:

  • 1. Orang yang tinggal di tempat-tempat rawan cacing

  • Orang yang menghabiskan sebagian besar waktu berada di tempat-tempat rawan populasi cacing (seperti tanah liat, tanah gembur, dan pasir) berisiko cacingan jika tidak cuci tangan setelah beraktivitas, atau area tempat mereka beraktivitas miskin fasilitas sanitasi yang memadai, sehingga tanah yang terkontaminasi cacing dan feses binatang dan/atau manusia dapat dengan mudah memasuki mulut mereka.

  • 2. Orang yang makan makanan tidak bersih

  • Mengonsumsi sayuran atau buah yang tidak dicuci bersih, terkupas benar, atau dimasak hingga benar-benar matang, akan membuat seseorang berisiko terkena cacingan. Rutin mengonsumsi daging babi dan daging sapi yang tidak dimasak matang juga meningkatkan risiko Anda terhadap penyakit cacingan.

  • 3. Orang yang tinggal di lingkungan kumuh

  • Infeksi terjadi di tempat-tempat beriklim hangat dan lembap, misalnya di tengah masyarakat yang tinggal di daerah di mana fasilitas sanitasi dan kebersihan diri tidak memadai -seperti di bantaran kali, pinggiran kota, atau pedesaan.

  • Berdasarkan penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), hasil pemeriksaan feses dalam sampel masyarakat di lingkungan kumuh menunjukkan bahwa masih banyak orang dewasa yang membawa telur cacing dalam tubuhnya. Angka kejadian cacingan di tengah masyarakat kumuh Jakarta diketahui mencapai 40-45 persen. Ini yang menjadikan alasan mengapa golongan masyarakat daerah pinggiran atau pedesaan juga dianjurkan untuk minum obat cacing demi mencegah penularan cacingan.

  • 4. Orang-orang yang tinggal di daerah endemik cacingan

  • Advertisement
  • Menurut dr. Arifianto SpA., saat ini masih ada daerah-daerah di Indonesia yang dianggap endemis kecacingan (angka penderita cacingannya tinggi) dan ada yang sudah tidak endemis lagi. Silakan tanyakan ke Puskesmas setempat, masuk ke dalam kategori apa daerah Anda.

  • Perlakuan antara daerah endemis dan non endemis memang berbeda. Pada daerah non endemis, obat cacing hanya diberikan kepada mereka yang terbukti cacingan dari pemeriksaan tinja. Sedangkan di daerah endemis, masih ada pembagian obat cacing sebagai pencegahan.

  • Menjaga Kebersihan

  • Namun, menurut dr. Arifianto, banyak hasil penelitian yang berasal dari Indonesia pun tidak menyebutkan pemberian obat cacing sebagai upaya mencegah cacingan pada anak. Yang ada adalah: Edukasi kesehatan bagi anak-anak SD agar senantiasa menjaga kebersihan tangan dan jajanannya, buang air pada tempatnya, dan menggunakan alas kaki. Hal ini menunjukkan upaya pencegahan sebagai pilar utama mengatasi infeksi kecacingan.

  • Referensi yang berasal dari UNICEF dan WHO pun (yang banyak meneliti negara-negara berkembang lainnya) menyebutkan hal serupa. Upaya edukasi kesehatan masyarakat dan pola hidup sehat adalah hal terpenting pencegahan cacingan.

  • Lalu, ia menambahkan, obat cacing seperti pirantel pamoat (yang banyak diiklankan sebagai pencegahan) dan albendazol/mebendazol pada dasarnya adalah untuk mengobati mereka yang sudah terbukti sakit cacingan, yaitu ditemukan adanya cacing atau telur cacing di tinjanya. "Cacing yang dimaksud adalah: Cacing gelang, cacing tambang, cacing kremi, cacing pita, dan cacing cambuk," katanya.

  • Aprilianto Edy Wirya, Ph.D, seorang ahli parasitologi klinik di Indonesia menambahkan, infeksi kecacingan memang relatif masih endemik di daerah pedesaan di Indonesia, namun di wilayah perkotaan, seperti Jakarta sudah berkurang banyak dan relatif rendah.

  • Hal ini terutama karena pengunaan jamban, kebiasaan cuci tangan dengan air mengalir (+sabun) sebelum makan dan sesudah buang air besar dan menggunakan sepatu ketika bermain di tempat-tempat yang kemungkinan tanahnya mengandung larva cacing tambang, serta pembagian obat cacing secara teratur di sekolah-sekolah beberapa tahun yang lalu.

  • "Pemberantasan cacingan lebih pada perbaikan kebersihan lingkungan dan sanitasi pribadi," ungkapnya.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Seberapa penting obat cacing untuk anak Anda?

Dulu, obat cacing harus rutin diberikan 6 bulan sekali. Sekarang?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr