Tetap bersinergi meski mengasuh si kecil dengan intervensi orangtua

Berselisih paham dengan kakek dan nenek tentang si kecil, karena berbeda pendapat soal pengasuhan, adalah hal yang sering terjadi. Turut campurnya orangtua dan mertua selalu dianggap menyebalkan. Dapatkah kita bekerja sama dengan baik?

148 views   |   1 shares
  • Saat memiliki anak, tidak hanya orangtua yang punya peran dalam tumbuh kembangnya. Namun juga ada orang lain seperti pengasuh, atau kakek dan nenek. Meski tidak menitipkan si kecil pada kakek-neneknya, namun tidak sedikit juga yang hidup berdampingan dengan kakek nenek. Karena itu, perannya tidak kecil.

  • Hal yang patut diingat, nenek dan kakek punya segudang pengalaman untuk menangani berbagai kondisi Si Kecil. Seperti saat anak tidak enak badan, tidak mau makan, tidak bersendawa, menangis, dan sebagainya. Soal kasih sayang pun tak perlu diragukan lagi. Kakek nenek akan memberikan segalanya untuk sang cucu tercinta. Mereka tentu dengan sepenuh hati memberikan yang terbaik. Bahkan jauh lebih sayang ketimbang saat mereka merawat kita dulu.

  • Namun, kadang timbul perbedaan pola asuh dalam mengurus anak antara ayah ibu dengan kakek nenek. Tak jarang perbedaan ini menimbulkan masalah ketidakharmonisan hubungan orangtua dan menantu atau bahkan anak dan orangtuanya sendiri.

  • Pertentangan itu bisa saja muncul karena pemahaman berbeda mengenai kondisi anak. Kakek nenek memang berpengalaman namun sering kali merasa cara lama mereka masih efektif dalam mengasuh anak. Berbeda dengan kita yang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan tumbuh kembang anak.

  • Contohnya adalah saat nenek bersikukuh agar bayi dibedong kencang supaya kakinya lurus. Sementara kita malah tak ingin terlalu kencang. Sebab sejatinya bedong atau lampin justru lebih bermanfaat untuk membantu menenangkan bayi dan menghangatkan daripada urusan anatomi kaki.

  • Kakek nenek juga cenderung lebih banyak memberikan keleluasaan kepada anak. Mereka membolehkan si kecil untuk melakukan apa yang dikehendaki dan mendapatkan apa yang diinginkan. Sikap ini bukan tanpa alasan. Buat sebagian kakek nenek, mengasuh cucu merupakan kesempatan menebus kekurangan saat mengasuh kita dulu. Merasa kurang memanjakan atau tak cukup memberi kebahagiaan. Ada juga perasaan lebih bebas dalam mengasuh cucu-cucunya, karena tak lagi dibebani tanggung jawab.

  • Psikolog LPTUI, Theresia Ceti Prameswari Psi., mengatakan perbedaan pola asuh antara orangtua dan kakek nenek ini sangat berdampak pada kemandirian si anak. Perkembangan psikologis anak menjadi tidak seimbang karena terjadi dualisme kepemimpinan. Anak bingung, harus mengikuti perkataan siapa. Buntutnya, penerapan disiplin yang sudah dibuat orangtua kerap diabaikan. Misalnya, anak menjadi kurang mandiri karena tugas hariannya seperti makan, mandi dan berpakaian kerap dibantu sang nenek atau kakek.

  • Advertisement
  • Kondisi ini juga dapat menyebabkan kemampuan anak dalam mengekspresikan emosinya menjadi kurang tepat karena biasanya kakek-nenek kurang tegas dan kurang dapat menolak permintaan cucunya. Misalnya si anak mudah merengek, merajuk, serta kurang percaya diri.

  • Psikolog anak dari klinik Rainbow Castle; Yulita Patricia Semet M.Psi, Psikolog pernah memaparkan hal-hal yang penting diingat agar hubungan keluarga senantiasa harmonis. Poin paling penting yang diangkatnya adalah mengenai hubungan positif dari orangtua ke anak.

  • Manfaat membangun hubungan positif adalah demi anak yang mampu meregulasi emosinya, memiliki kemampuan beradaptasi dan menyelesaikan masalah, mampu membina hubungan dengan orang lain, hingga memiliki kemampuan kognitif yang baik.

  • Selain itu, tipe keluarga juga dapat memengaruhi well being anak, yakni dalam pengasuhan bersama kakek-nenek. Karena itulah, jika orangtua mampu membentuk hubungan positif bersama kakek dan nenek si kecil, baik mereka yang tinggal bersama maupun yang berjumpa sesekali saja, akan berdampak positif juga bagi anak.

  • Lalu, apa sih dampak positif dari hubungan baik antara orangtua dengan kakek nenek si buah hati?

    1. menjadi role model bagi anak.

    2. menyediakan dukungan emosional pada orangtua.

    3. menyediakan dukungan emosional pada anak.

  • Oleh karena itu, Yulita memberikan tips cara membangun hubungan positif antar kakek-nenek, orangtua dan anak:

  • 1. Positive thinking dan berempati.

  • 2. Sadari kondisi dan keterbatasan masing-masing.

  • 3. Ciptakan batasan dan hormati batasan masing-masing.

  • 4. Hindari mengkritik, terutama di depan anak. Lebih baik cari waktu untuk berdiskusi.

  • 5. Berikan kepercayaan dan hargai keputusan orangtua dalam mendidik anaknya.

  • 6. Saling mendukung dengan pasangan.

  • Ya, terimalah perbedaan peraturan tersebut sebagai salah satu bentuk latihan penyesuaian diri untuk anak ketika masuk dalam lingkungan sosial nantinya. Sebagai orangtua, Anda tetap mendampingi dan membimbing anak dengan mengajak anak berdiskusi mengenai perbedaan peraturan tersebut.

  • Jika perbedaan tetap terjadi antara ayah bunda dan kakek nenek, bersikaplah lebih santai, fleksibel dan jangan terkesan menggurui kakek nenek. Bagaimana pun, pola asuh merekalah yang telah membentuk kita saat ini.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Tetap bersinergi meski mengasuh si kecil dengan intervensi orangtua

Berselisih paham dengan kakek dan nenek tentang si kecil, karena berbeda pendapat soal pengasuhan, adalah hal yang sering terjadi. Turut campurnya orangtua dan mertua selalu dianggap menyebalkan. Dapatkah kita bekerja sama dengan baik?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr