Meniti karier di perusahaan milik orangtua. Apa plus minusnya?

Bekerja di perusahaan milik orangtua, atau di perusahaan tempat orangtua bekerja, adalah hal yang banyak terjadi dan lumrah saja. Namun kerap menjadi permasalahan, karena pandangan mengenai nepotisme. Bagaimana cara mengatasinya?

125 views   |   1 shares
  • Bukan hal yang aneh, jika orangtua mendirikan bisnis yang berkembang pesat, kemudian usai lulus sekolah, anaknya pun bekerja di situ. Tak hanya bisnis keluarga, hal ini juga kerap berlaku pada anak dari ayah yang sudah bekerja lama di suatu perusahaan dan kini menempati posisi tinggi di jajaran direksi. Nepotisme? Ternyata belum tentu.

  • Dalam sebuah penelitian yang ditulis dalam Journal of Labor Economics,ditemukan bahwa 68 persen anak dari ayah yang berpenghasilan tinggi di kantor, pada usia 33 tahun akan bekerja di kantor tempat ayahnya bekerja. Mengapa? Ternyata penelitian ini mengungkapkan bahwa ayah memiliki kecenderungan untuk membesarkan anak agar cocok dan dapat dipekerjakan dalam bidangnya di perusahaan.

  • Salah seorang penelitinya, Miles Corak dari University of Ottawa, mengatakan, ini adalah bukti bahwa tidak semua anak yang bekerja di kantor orangtuanya, ditempatkan karena posisi ayahnya. Bisa jadi, karena memang ia memiliki keahlian signifikan dalam bidang tersebut, karena sejak kecil sudah ditanamkan nilai-nilai agar cocok untuk melanjutkan pekerjaan ayahnya. Jadi tak selalu karena koneksi atau kekuatan politik.

  • Nah, sayangnya, hal ini masih menjadi tantangan bagi kita di sini, yang bekerja di perusahaan milik orangtua, atau di tempat ayah kita bekerja. Perselisihan dan perlakuan yang dianggap tidak seimbang di antara karyawan, adalah salah satu isu yang paling umum, menurut Rima Olivia, konsultan dari Ahmada Consulting.

  • Karena itu, menurutnya, ada beberapa hal yang wajib diperhatikan saat memutuskan untuk bekerja bersama orangtua:

  • Menjadi Profesional

  • Anda wajib memisahkan hal-hal yang berkaitan dengan bisnis dan pribadi. Jika mulai bekerja sebagai staf, perlakukan diri sendiri sebagai karyawan dari sebuah perusahaan yang profesional. Tunjukkan tanggung jawab yang lebih besar, komitmen yang tinggi, dan daya juang yang lebih kuat dari karyawan lain. Anda tahu benar dampak dari setiap langkah yang diambil karena berkaitan dengan performancepribadi bahkan reputasi dan kondisi finansial perusahaan.

  • Menggunakan panggilan profesional seperti Bapak atau Ibu, ke orangtua, pun penting dilakukan. Jangan sampai keceplosan memanggil mama atau papa, ya.

  • Tahu menempatkan diri

  • Anda perlu memahami cara untuk menempatkan diri, memandang diri tidak lebih tinggi dari karyawan lain, dan memiliki tanggung jawab yang sama. Walaupun merupakan anak dari pemilik perusahaan, hindari memanfaatkan fasilitas berlebihan karena Anda akan tetap mendapatkan konsekuensi yang sama jika melanggar peraturan. Hal ini akan membantu menghindari konflik.

  • Advertisement
  • Menciptakan Komunikasi

  • Inti dalam komunikasi adalah trustyang merupakan perjalanan dua arah atau timbal balik. Trusttidak akan tercipta jika Anda tidak memercayai orang lain. Maka dari itu, Anda perlu memelihara trustdengan cara mendengarkan, menghindari gosip, menghindari menahan komunikasi, dan berbagi informasi yang memang diperlukan. Di lingkungan kerja, bersikaplah hangat dan tegas kepada semua orang.

  • Artinya, tidak perlu juga bersikap bossy. Ingatlah bahwa Anda bekerja di situ untuk mempertahankan -bahkan meningkatkan- pencapaian perusahaan.

  • Disa Novianty, Corporate Strategist yang bekerja di perusahaan keluarganya, Kalla Group, mengatakan, "Saya melihat banyak sekali kasus di mana generasi kedua atau ketiga di perusahaan keluarga gagal untuk memimpin perusahaannya, karena terjebak comfort zone. Mereka jadi malas kerja atau enggan terlibat langsung. Dengan kata lain, bermental bos dan bukan pekerja. Akhirnya, perusahaan yang diwariskan jadi nggak berkembang, dan malah menurun performanya."

  • Ikuti aturan perusahaan seperti karyawan lain

  • Tanpa pengecualian, bahkan untuk peraturan yang sederhana seperti misalnya memakai baju batik tiap Jumat. Inilah salah satu hal yang dipegang Chairani Jusuf Kalla, putri dari Wapres Jusuf Kalla sekaligus Direktur Kemang Medical Care, Jakarta. "Saya berusaha mensejajarkan diri dengan karyawan lain, mau belajar, dan tetap mengikuti peraturan perusahaan."

  • Ada aturan kerja sama dengan jelas

  • Hal yang paling mendasar adalah soal kewajiban serta berapa persentasi/benefit yang didapatkan masing-masing pihak. Kalau mau profesional, hal seperti ini harus jelas dari awal, dan diresmikan dengan perjanjian tertulis.

  • Jika melakukan hal-hal seperti tadi, maka, anggapan bahwa Anda tidak qualified dan bisa masuk perusahaan hanya karena orangtua pun akan menghilang. Karyawan lain bakal lebih kritis dengan pekerjaan Anda, meskipun tidak ditunjukkan terang-terangan. "Menurut saya, hal ini jangan dijadikan beban, tapi harus jadi pemicu untuk jadi lebih produktif," ungkap Disa.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Meniti karier di perusahaan milik orangtua. Apa plus minusnya?

Bekerja di perusahaan milik orangtua, atau di perusahaan tempat orangtua bekerja, adalah hal yang banyak terjadi dan lumrah saja. Namun kerap menjadi permasalahan, karena pandangan mengenai nepotisme. Bagaimana cara mengatasinya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr